Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-38 Hilang ingatan.


__ADS_3

Pagi telah tiba dengan embun dan kehangatan yang tersedia untuk dinikmati setiap insan yang ada di semesta dengan perasaan yang begitu bahagia dan penuh rasa syukur. Langit begitu cerah, secerah senyuman Tica yang merasa berbunga-bunga karena tadi Jerry mengabari kalau sang suami telah siuman dari komanya. Sontak hatinya bahagia, bahkan ia sampai membagikan beberapa perhiasan yang ia miliki kepada anak-anak yatim dan orang-orang yang membutuhkan sebagai bentuk rasa syukurnya.


Setelah membersihkan dirinya dan menyuapi makan kedua putranya, Tica segera beranjak pergi menuju rumah sakit merasa tidak sabar untuk segera bertemu sang pujaan hati. Di perjalanan, ia tersenyum dengan sendirinya tanpa alasan hingga membuat Jerry ikut senang bisa kembali melihat senyuman ceria majikannya itu setelah beberapa saat bersedih.


Golden Hospital.


"Dendy! Sayang aku datang."


Tica segera memeluk seorang pria tampan yang tengah duduk bersandar di ranjang pasien. Ia merengkuh dengan penuh kebahagiaan, seakan Dendy adalah pria yang sangat berharga dalam hidupnya.


"Kenapa kau tidur lama sekali? Hiks...hiks... Kau tidak mencintai aku lagi? Kau tidak merindukan si kembar? Kenapa kau sejahat ini, ha? Kenapa sekejam ini pada kami? Hiks..hiks..." Tica tidak dapat membendung air matanya, sungguh ini adalah hari bahagianya bisa kembali melihat netra biru langit itu kembali terbuka dan memancarkan auranya. Ia masih merengkuh tubuh Dendy dengan iringan tangisan yang tidak berhenti sedari beberapa menit yang lalu.


Bahkan baju pasien yang Dendy kenakan telah basah bagian pundaknya terkena air mata Tica. Bukan hanya air mata tetapi juga air yang keluar dari hidung wanita itu, make-up yang telah ia poles dengan sedemikian rupa pun harus luntur karena air matanya yang terus merembes tanpa mau berhenti.


Setelah beberapa menit merengkuh, Tica akhirnya mengurai rengkuhan sesaatnya itu sembari mengelap air matanya. Juga mengusap cairan yang keluar dari hidungnya menggunakan dress selutut yang ia kenakan hingga Dendy menatap aneh pada Tica.


"Kenapa kau diam saja?" Tanya Tica heran, sedari tadi pria tampan bernetra biru itu hanya diam seakan tengah mendalami apa yang tengah terjadi.


"Siapa kamu?"


Degg!


Dua kata yang Dendy katakan berhasil membuat jantung Tica seakan hendak berpindah dari tempatnya. Tidak mungkinkan kalau suaminya hilang ingatan? Dokter tidak mengatakan kemungkinan ini sebelumnya? Kenapa sekarang pria itu tidak mengenalnya? Apa Dendy melupakan semua memori tentangnya dan putra mereka? Semua pertanyaan itu, siapa yang bisa menjawabnya.


"Tidak mungkin, ayolah jangan bercanda seperti itu. Apa kau tidak mengingatku?"


"Aku benar-benar tidak mengingatmu! Untuk apa aku berbohong, aku bahkan tidak mengingat siapapun selain namaku."


"Tidak mungkin!"


"Kenapa kau tiba-tiba memelukku? Jauh-jauh dari tubuhku! Apa kau penguntit, atau kau penggemar beratku? Heyyy!" Hardiknya, Tica justru melamun tanpa mendengarkan ia berbicara.


"Aku...aku adalah istrimu. Kita menikah sah secara agama, Sayang." Sahutnya berkaca-kaca. Ujian apa lagi ini, setelah semua kesedihan yang ia alami, masihkah ada ujian yang lebih berat lagi untuknya? Kenapa seberat ini, kenapa harus menyangkut masalah asmara yang tidak ada obatnya?


"Tidak mungkin! Aku single, kau jangan mengada-ngada! Mungkin kau orang gila yang salah masuk kamar!"


"Sejak kapan kau banyak bicara? Mana ada orang gila pakaiannya sebagus dan semahal ini?" Sahut Tica tidak kalah pedas sembari menunjukkan dress indah yang tengah ia kenakan.

__ADS_1


"Selamat pagi, Nyonya dan Tuan."


"Selamat pagi, Dok!"


Tica pun keluar dan mempersilahkan Dokter untuk memeriksa kembali kondisi Dendy. Namun setelah beberapa saat, Dokter keluar.


"Dok, apa suami saya hilang ingatan?" Tanya Tica segera memberhentikan dokter yang hendak berjalan ke ruangan pasien lain. Raut wajah dokter seketika berubah pias, membuat Tica semakin khawatir dibuatnya. Sekarang pikirannya hanya berpusat pada sang suami, akankah pria itu melupakan dirinya selamanya? Bukan hanya dirinya tetapi semua kenangan mereka? Terlebih lagi buah cinta mereka.


"Maaf, Nyonya. Saya sudah menduga ini sebelumnya, tetapi kemungkinannya sangat kecil. Jadi saya tidak bisa menyimpulkan, tetapi hilang ingatan ini hanya akan terjadi dalam beberapa bulan ke depan dan akan kembali secara perlahan." Ujar Dokter dengan penuh keyakinan. Sontak Tica menggeleng, tidak mungkin. Suaminya tidak mungkin melupakan dirinya, pikirnya.


"Tapi Dok, apa ini akibat dari operasi?"


"Tidak, Nyonya. Tapi ini akibat dari benturan yang terjadi saat kecelakaan."


"Ya Tuhan, apa lagi ini?" Tica masuk ke dalam ruangan Dendy. Pria itu nampak memainkan handphonenya dengan posisi setengah bersandar di headboard ranjang.


"Apa kamu benar-benar tidak mengingatku?"


Sontak Dendy menoleh ketika dirinya mendengar suara wanita itu lagi dan lagi. Ia menatap aneh pada wanita yang tengah berdiri di hadapannya itu dengan memegang sebuah foto.


"Hey! Kau yang aneh, aku ingin menunjukkan ini. Aku tidak sembarang mengatakan sesuatu, ini adalah foto anak-anak kita. Lihat wajah mereka, sama persis dengan wajahmu!"


"Aku tidak percaya, sebelum kau memberikan aku sebuah buku pernikahan. Kau memang pembual sejati!"


Sial! Buku nikah kami kan dia yang pegang. Bagaimana aku bisa tahu dia menaruhnya dimana? Pria ini benar-benar menyebalkan! Apa tadi? Dia memanggilku penggemarnya? Dasar Tuan perfeksionis ini!


"Tapi buku nikah kita kau yang pegang. Aku tidak berbohong, apa wajahku terlihat berbohong?"


"Nah, salah satu alasan! Pembual!"


"Sudahlah wanita aneh, kau tidak usah membual lagi toh aku tidak percaya. Mana mungkin aku sudah menikah, apalagi memiliki anak. Bahkan aku masih belum siap menjadi ayah." Ujarnya lagi, Tica benar-benar sakit hati mendengar celotehan pria menyebalkan itu. Bisa-bisanya pria itu mengatakan hal yang begitu menyakitkan, padahal dirinyalah yang sebelumnya mengejar-ngejar Tica.


"Apa harus aku memukulmu menggunakan panci anti lengket? Supaya ingatanmu kembali seperti semula? Aku tidak berbohong! Sudah berapa kali aku katakan, jika kau tidak percaya, aku akan membuktikan jika kau sudah sembuh."


"Terserah!"


"Sekarang, biarkan aku menemanimu di sini sampai kamu sembuh."

__ADS_1


"Tidak!"


"Aku mohon!!!"


Tica memeluk Dendy dan memaksa pria itu agar mengizinkan dirinya untuk menemani pria itu hingga sembuh dan bisa kembali pulang ke mansion untuk menunjukkan kedua putra mereka benar-benar ada. Dan Tica sama sekali tidak membual untuk itu.


"Terserah mu wanita aneh! Asalkan jangan menggangguku! Sana jauh-jauh!"


"Iya-iya! Dasar kejam, dingin, galak, jelek, bau, cerewet!"


"Berani kau mengatai aku!"


"Tentu saja berani, memangnya kau bisa apa?" Dendy menggeram, memang ia tidak bisa melakukan apapun dengan banyaknya alat medis yang menancap di tubuhnya.


"Aku akan balas kau, wanita aneh!"


"Aku tidak peduli, pria jelek!"


Begitulah mereka akan saling mengejek dengan kosakata masing-masing yang membuat keduanya saling memandang aneh. Benar-benar pasangan yang kocak tiada duanya.


.


.


.


.


TBC!


Vote like and komennya yah.


Jangan lupa baca karya aku yang lainnya


Terpaksa Menikahi Sang Penguasa-


The CEO'S Genius Daughter-

__ADS_1


__ADS_2