
Dua Minggu telah berlalu, tetapi tetap tidak ada satu pun kabar dari Dendy. Pria itu seakan hilang tertelan bumi. Tica hanya bisa berharap tanpa kepastian, bumil itu masih saja berharap kalau sang suami pasti akan datang menjemputnya.
Malam hari yang indah dengan Kilauan cahaya bintang yang akan menemani kesendirian Tica. Usia kehamilannya telah menginjak empat bulan dan Dokter Meysha menyatakan aman untuk berpergian bahkan ia sudah meminta resep vitamin penguat kandungan. Tetapi sayang, harapannya sepertinya tak akan jadi nyata.
"Ya Tuhan, apa benar dia telah melupakan aku? Dia telah melupakan anaknya? Apa aku harus menyerah sekarang, setelah semua perjuangan yang aku lakukan?"
Gumamnya lirih, hormon kehamilan yang memengaruhi emosinya. Sesaat ia akan menangis dan dengan mudah akan kembali senang jika ada yang menemani kesendiriannya.
Drttt... Drtt...
Gawai Tica bergetar, ia sudha menduga itu pasti dari bule lokal. Siapa lagi kalau bukan Recaz, bos somplaknya.
"Halo?"
("Halo Tic, yuk hang out! Aku ada di lantai bawah!")
"Maaf Re, aku sedang tidak mood hari ini."
Sahut Tica dengan tidak enak hati. Ia bahkan menolak saat Recaz sudah sampai di depan gedung apartemen. Sungguh teganya.
("Tega sekali kau, aku sudah sampai sini. Dan kau menolakku?") Ujar Recaz di bawah sana sok dramatis. Padahal Tica tahu, pria itu sebenarnya tak semengenaskan itu.
"Engga usah sok sedih, dasar bos somplak!" Sarkas Tica disertai tawa renyah dari Recaz. Hingga membuat Tica pun ikut tertawa dibuatnya. Inilah yang diinginkan ibu hamil, selalu bahagia tanpa beban pikiran yang melanda. Recaz, satu pria yang notabenenya masih baru ia kenal tetapi sangat membuatnya nyaman seperti sahabat karib.
***
Di sinilah Tica sekarang, duduk bersama bos somplaknya di sebuah kursi taman dekat apartemen yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Wanita itu butuh teman dan butuh untuk meluapkan isi hatinya.
Tica keluar rumah dengan mengenakan mantel dan juga celana panjang tipe kulot. Seperti biasa dengan menguncir rambutnya bagaikan ekor kuda.
__ADS_1
"Makanlah!"
Recaz datang duduk di sebelah Tica dengan membawa sebungkus somay abang-abang kesukaan Tica. Binaran kebahagiaan terpancar dari raut Tica, melihat makanan yang sedari kemarin ia inginkan kini terpampang nyata di depan matanya. Tanpa aba-aba Tica segera melahap jajanan lezat itu.
"Tic, aku sudah menganggap kamu seperti sahabatku sendiri. Walau kita masih baru kenal, tapi aku yakin kamu adalah orang yang baik."
"Apa yang membuat Anda yakin, Pak Bos?"
"Sok formal, karyawan sableng!"
"Orang bosnya Somplak!"
Beginilah percakapan kedua manusia tak berakhlak itu. Sesama manusia somplak, keduanya seakan merasa satu frekuensi dalam satu pemikiran.
"Jujur, kamu terlihat sedikit murung. Apa kehamilan kamu baik-baik saja?"
Recaz memang sudah tahu perihal kehamilan Tica. Tica tak bisa menyembunyikan karena beberapa hari lalu, Recaz menemukan vitamin kandungannya terjatuh dari tas Tica. Sehingga Tica terpaksa berkata jujur. Tetapi yang Recaz ingin tahu, kemana suami Tica.
"Kalau boleh tahu suamimu kemana?"
"Huh, dia bekerja di luar negeri."
Jawaban singkat dari Tica membuat Recaz segan untuk bertanya lebih jauh. Walau sebenarnya ia ingin tahu, tetapi ia tidak punya hak untuk mencampuri urusan pribadi sekertarisnya itu.
***
New York, Amerika.
Pria itu duduk di balkon apartemen-nya. Dendy duduk di sana dengan wanita cantik yang duduk di seberangnya. Ia terlihat melamun mengabaikan wanita itu.
__ADS_1
"Sayang? Kalau kamu ajak dia kesini, kita putus!"
"Apa hakmu? Itu semua ada di tanganku! Aku tak suka kau mencapuri urusanku!"
"Dendy! Kau lupa semua kenangan kita? Kau tega mengatakan itu padaku? Kau bukan Dendy yang aku kenal!"
"Kau pikir semuanya semudah itu? Setelah kau pergi! Sudahlah aku malas ribut!"
Dendy beranjak dan perempuan itu kekeuh mengejar Dendy.
"Pulanglah!"
"Sayang, kau ingat siapa yang merawat mendiang ibumu? Aku yang merawat beliau, setiap hari beliau selalu aku temani. Aku mohon, jangan perlakukan aku begini. Aku kesini karena aku ingin merintis usaha, ini negaraku! Hiks... Hiks..."
Dendy mulai gelisah, ia paling tidak bisa jika wanita itu telah mengungkit masa lalu. Dendy seakan diperdaya, akan selalu tunduk dan hanyut jika sudah diungkit dalam hal tersebut.
"Maafkan aku, bangunlah!"
Dendy merengkuh wanita itu dengan ketulusan. Wanita itu menyeringai penuh kelicikan. Ia tahu benar apa kelemahan Dendy, dan akan selalu ia gunakan untuk menaklukkan pria itu agar tetap dalam kendalinya. Dasar wanita licik!
.
.
.
.
TBC!
__ADS_1
Vote like and komennya yah.