Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-36 Jaga anak-anak dengan baik, Sayang.


__ADS_3

Di sebuah tempat yang indah penuh dengan berbagai rerimbunan pohon yang hijau serta kemilau bunga berwarna-warni yang begitu indah dan memanjakan mata. Tica berdiri di tempat tersebut penuh dengan kekaguman di hatinya, tempat yang benar-benar indah tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Ia menilik sekitar hingga menemukan seorang pria tampan tengah bermain dengan dua orang anak laki-laki yang entah siapa Tica juga tidak tahu.


"Hy Sayang." Ujar Lelaki itu yang tidak lain adalah Dendy, pria yang dicintainya. Reflek Tica tersenyum manis dikala suaminya mencium keningnya dengan sayang serta dua putranya yang juga merangkak memeluk kakinya. Tica mendudukkan dirinya menyamakan dengan tinggi badan kedua putra tampannya. Ia tersenyum sembari mengelus lembut pipi kedua putranya.


"Mas, kenapa kalian ada di sini? Kita ada dimana?" Tanya Tica pada sang suami yang hanya membalas dengan senyuman manisnya. Tidak bisa dijabarkan bagaimana bahagianya dirinya bisa berkumpul bersama keluarga kecilnya, inilah momen yang ia idam-idamkan selama ini dan Tuhan menjadikannya sebagai kenyataan. Evan meracau seraya memanggil sang ibu dan memberitahu bahwa ada bermacam-macam kupu-kupu indah yang berterbangan di atas rerimbunan pohon hijau.


"Kita ada di tempat yang damai, Sayang." Sahut Dendy sembari memakaikan sebuah bando yang terbuat dari rangkaian bunga natural dari alam. Berwarna-warni dan indah sangat cantik jika disematkan di kepala Tica dan bersanding dengan rambut hitam pekat milik wanita berparas ayu itu. Tica pun berbunga, ini adalah pertama kalinya sang suami memperlakukan dirinya dengan begitu romantis terlebih lagi di hadapan kedua putra mereka.


Prok prok prok!!


Si kembar seakan tahu apa yang tengah terjadi di antara kedua orang tua mereka. Dan juga ikut berbahagia atas kebahagiaan yang dirasakan kedua orang tua mereka. Mereka berempat saling merengkuh satu sama lain menunjukkan adanya ikatan dan keharmonisan keluarga kecil yang indah itu. Para bidadari di atas sana pun turut bahagia untuk keluarga kecil yang baru saja bisa menjangkau kebahagiaan mereka.


"Jagalah anak-anak dengan baik, Sayang."


"Tentu, kita bersama akan menjaga mereka."


Whusss.


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Dendy tiba-tiba saja hilang diterpa hembusan angin. Seakan sebuah dimensi putih menarik pria itu masuk ke dalamnya di gantikan oleh ribuan kupu-kupu.


"Sayang? Kamu dimana? Aku tahu kamu sembunyi kan?" Tica mengira bahwa suaminya pasti sedang bercanda, ia pun membawa serta putranya membiarkan kedua putranya merangkak dengan bahagia mengikuti langkah lebar sang ibu.


Duaarrr!


Tica mencoba mengagetkan suaminya yang ia pikir berada di balik sebuah pohon besar. Namun sayang, tidak ada apapun di sana. Ia tidak menyerah tetap mencari di berbagai tempat bahkan ia telah mengitari sekitar tempat itu, tetapi nihil tidak ada hasil yang ia dapat. Suaminya mendadak pergi seperti ditelan dimensi putih itu.

__ADS_1


"Mas? Engga lucu! Jangan tinggalin aku! Dendyy! Hiks...hiks..."


"Dendyyyyyy!!!" Teriaknya penuh penekanan. Percuma, sang suami telah hilang.


Hosh hosh!


Tica terbangun dari tidurnya dengan keringat yang mengucur deras dari pori-pori tubuhnya. Jantungnya berdetak bagaikan dikejar kilat, cepat dan sangat menegangkan. Tica masih termenung memikirkan mimpi yang baru saja ia dapat saat dirinya tidak sengaja tertidur di bangku tunggu. Di ruang operasi sang suami tengah berjuang antara hidup dan mati, sungguh hati dan pikirannya kacau saat ini.


"Ya Tuhan apa maksud dari mimpi ini? Engga, engga ini tidak akan mungkin. Suamiku harus selamat, aku akan sangat membencinya jika dia meninggalkan aku dan anak-anak!"


Matanya mengembun, air bening kembali mengalir dengan derasnya di pelupuk mata Tica.


"Nyonya? Apa Anda baik-baik saja?" Jerry datang membawa sebuah kotak berisi makanan. Sedari kemarin malam, majikannya itu masih belum makan apapun selain hanya meminum segelas air putih. Jerry baru saja mengantarkan si kembar dan Wila ke mansion yang telah disiapkan Dendy jauh-jauh hari untuk melindungi istrinya dan anak-anaknya. Karena mansion itu terletak di sebuah tempat yang sulit ditemukan oleh orang lain dan dengan penjagaan yang begitu ketat.


"Aku tidak apa-apa. Anak-anak aman?"


"Tentu, Jer! Aku akan sangat senang jika masih ada orang yang peduli pada keluargaku. Kau adalah orang yang dipercaya suamiku, maka kau juga adalah bagian dari keluarga kami!"


"Saya sangat terhormat dengan perkataan Anda, Nyonya. Tetapi ingatlah, kelak apa yang kita miliki akan kembali pada sang pencipta. Benar?"


"Hmm!"


"Begitupun dengan kesehatan, hanya sang pencipta yang bisa memberikan. Dokter, perawat, suster, mereka hanyalah perantara yang tidak pernah bisa berbuat apapun tanpa restu dan kehendak Tuhan. Jadi, jangan membuang waktu Anda dengan bersedih, sebaiknya tetaplah tenang dan terus panjatkan doa pada sang pencipta agar Tuan Dendy bisa kembali seperti sedia kala."


"Aamiin."

__ADS_1


"Terimakasih Jer, nasehat yang sangat baik. Aku harap itu bisa menenangkan hatiku yang tengah gelisah."


"Kalau begitu, makanlah Nyonya. Sedari kemarin Anda masih belum makan, Anda tahu jika Tuan sampai tahu Anda menyakiti diri Anda sendiri hanya demi beliau. Maka, tamatlah riwayat saya dan semua orang. Beliau pasti akan mengira saya tidak becus dalam menjaga Anda. Bukan hanya Anda, kami semua yang akan menerima akibatnya, tegakah Anda melihat kami dihukum?"


"Tentu tidak! Ini salahku, maafkan aku Jer. Baiklah aku akan memakannya." Tica akhirnya mengalah, ia tidak boleh egois karena tubuhnya juga butuh asupan untuk menghadapi situasi saat ini. Situasi yang sama sekali tidak mudah baginya, selain hati, situasi ini juga menguras pikiran dan jiwanya. Seakan semuanya berubah menjadi kelabu masuk ke dalam renungan jiwa yang masih sangat kacau. Bahkan Tica kehilangan seakan kehilangan warna dan nafsu dalam hidupnya, semua gairahnya hilang ditelan keadaan.


Perlahan ia memakan makanannya, merasakan kembali kenikmatan yang belum ia rasakan sedari kemarin. Selera makannya mendadak menurun, kini ia berusaha untuk mengembalikan hidupnya menjadi seperti semula dengan menanamkan keyakinan bahwa sang suami pasti akan sembuh hanya menunggu sang waktu yang akan memulihkan segalanya.


Setelah menghabiskan makanannya, Tica beranjak untuk membersihkan dirinya, jujur badannya terasa sangat lengket karena seharian menangis memikirkan kondisi sang suami.


***


Beberapa jam telah terlewati, lampu ruang operasi telah mati itu tandanya operasi telah selesai dilakukan. Dua orang dokter berpakaian mantel bedah beserta beberapa suster dengan pakaian yang sama keluar dari dalam ruangan. Mendorong sebuah bangkar dimana terbaring Dendy di atas bangkar itu. Tica tak berhenti terus mengikuti ke mana arah dokter akan membawa sang belahan jiwa.


"Dok! Bagaimana keadaan suami saya?"


"Nyonya kami mohon, keadaan masih belum kondusif. Biarkan kami melakukan segalanya tanpa ada halangan lain, percayalah kami akan melakukan yang terbaik!" Ujar seoranng suster yang hendak menutup pintu dan Tica tetap memaksa masuk membuat suster tersebut terpaksa harus mengusir paksa Tica. Karena proses lanjutan harus segera dilakukan untuk keselamatan sang pasien, tidak ada yang lebih penting daripada pasiennya bagi tenaga kesehatan.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC!


Vote like and komennya yah.


__ADS_2