Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-73 Ketidakpekaan Karmila.


__ADS_3

Pagi yang indah tiba dengan begitu cepat, mentari bersinar kemilauan cahaya dengan embun pagi yang membasahi tanah dan juga rerumputan di bawah sana. Hewan-hewan berkicau penuh semangat untuk memulai hari dengan mencari makanan dan bertahan hidup. Tetapi tidak dengan seorang wanita yang masih saja menempel pada tubuh suaminya di bawah selimut tanpa membiarkan suaminya bergerak sedikitpun. Ia menjadikan suaminya sebagai guling dengan menindihkan kaki dan tangannya di tubuh suaminya.


Jerry tersenyum penuh cinta melihat wanita yang dua Minggu ini telah menjadi istrinya itu mulai bisa berinteraksi begitu hangat padanya dengan pandangan yang mulai melembut memberikan perhatian khusus. Karmila perlahan tapi pasti mulai bisa melawan rasa takut yang ada dalam dirinya, setelah seminggu ini Psikiater selalu rutin datang setiap dua hari sekali. Walau awalnya sulit, tetapi Karmila tidak menyerah dengan support yang terus mengalir dari semua keluarga.


Memang mereka masih tidak pernah menyentuh tubuh satu sama lain dalam keadaan telanjang bulat, tidak lebih dari sekedar berpelukan atau berciuman ringan dan Jerry sungguh berusaha untuk menahan semua birahinya sebagai seorang pria normal, ia memahami dan memaklumi kondisi istrinya yang memang tidak bisa dipaksakan.


"Apa lihat-lihat? Ehmmm...cantik ya aku?" Ternyata Karmila yang dari tadi sudah bangun memperhatikan Jerry yang sedari tadi terus menilik wajahnya sembari mengusap perlahan pipi mulusnya yang kini tengah merona semerah udang rebus.


"Emang!" Sahut Jerry singkat.


"Kamu mah! Jer, emph..." Seketika Jerry langsung ******* bibir indah itu saat mendengar Karmila memanggil dirinya tanpa embel-embel apapun, sungguh wanita itu sepertinya kurang peka akan perasaan.


Plup!


"Apa sih kamu? Bikin kaget tahu engga!?" Ketusnya mengusap bibir basah bekas saliva Jerry dan miliknya yang bercampur.


"Jer? Apa itu sopan?"


"Nama kamu kan itu!"


"Apa aku pernah memanggil kamu, Karmila?"


"Engga sih!"


"Lalu?"


"Lalu apa, Jer?" Seketika Jerry kesal, ia beranjak dari ranjang tanpa memperdulikan istrinya yang heran. Jerry mengambil handuk dan segera melenggang masuk ke dalam kamar mandi dengan perasaan yang masih kesal akan ketidakpekaan Karmila terhadap apa yang ia inginkan. Jelas ia tidak suka mendengar Karmila memanggilnya dengan hanya sebutan nama, yang bahkan sama sekali tidak disadari oleh Karmila.


Dua puluh menit kemudian, Jerry keluar dari kamar mandi dengan setelan formal yang sudah lengkap melekat pas di tubuh kekarnya, ia bercermin dan membenarkan sisiran rambutnya dengan memberi sedikit minyak rambut dan menyemprotkan parfume kesukaannya. Hari ini masa cutinya sudah habis dan ia akan kembali ke kantor untuk mengerjakan pekerjaannya yang telah menumpuk bagai gunung.


"Jer! Makan dulu yah, itu sudah siapkan di meja makan!" Karmila berdiri di depan Jerry, ia baru saja menyiapkan sarapan untuk Jerry sembari menunggu Jerry mandi tadi, ia memasangkan dasi dan belt suaminya setelahnya ia segera menemani suaminya menuju meja makan.


Kreett.


Jerry menarik kursi dan duduk menyantap makanan yang telah disiapkan oleh istrinya tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya, membuat Karmila heran apa yang terjadi pada suaminya, tidak biasanya Jerry sedingin ini. Walau suaminya memang dingin dan tidak dapat diragukan lagi ia memang datar.

__ADS_1


"Aku berangkat!" Hanya itu yang keluar dari mulut Jerry ketika hendak meninggalkan rumah menuju ke kantor yang jaraknya lumayan jauh. Ia mengecup ringan dahi istrinya dan segera melenggang pergi dengan membawa tas kerjanya.


"Hati-hati."


***


"Aku berangkat, nanti singgahlah ke kantor dengan membawa si kembar. Jangan terlalu lelah, jangan melakukan kegiatan yang melelahkan! Jangan membawa..."


Cup.


"Iya Sayang, Suamiku tercinta!" Tica yang sudah terbiasa dengan semua wejangan panjang suaminya hanya bisa mengecup kilas bibir itu agar berhenti bicara dan segera berangkat ke kantor karena Jerry sudah menunggu di depan gerbang mansion.


"Boys! Daddy berangkat, muah!" Dendy mencium kening kedua putranya dan melambaikan tangannya semakin menjauh ke gerbang mansion sana dengan si kembar yang tersenyum sembari membalas lambaian tangan sang Daddy.


***


Siang ini Tica berada di kantor sang suami bersama dengan si kembar yang tengah bermain di matras empuk di ruangan suaminya.


"Mas, kamu belum makan siang?"


"Nanti Sayang!" Sahut Dendy tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.


"Ayo makan, kamu tinggal mangap aja yang besar biar sendoknya masuk!" Tica menyuapi Dendy dengan bekal yang sengaja ia bawa dari rumah karena ia tahu pria itu pasti akan lupa makan jika sudah sibuknya bekerja seperti sekarang ini.


"Bubu... Van mam! Wan dat fud..." Suara cadel itu menggema di setiap sudut ruangan, Evan menghampiri Tica yang tengah menyuapi Dendy, batita gemol itu mangap meminta suapan juga.


"Evan mau, Nak?"


"Yess i wan!" Ujarnya dengan penuh semangat meneriman sesendok nasi yang diarahkan ke mulut kecil itu oleh Tica begitupun dengan Dendy yang hanya tersenyum sekilas melihat keaktifan kedua putranya. Ethan hanya menggeleng sekilas ketika Tica menawarinya untuk makan juga, batita tampan yang lebih banyak diam itu hanya duduk santai seraya memainkan gadget khusus untuknya yang dirancang dengan radiasi rendah.


"Ini ikan apa, Sayang?"


"Ikan mati, Mas!"


Dan lagi-lagi Dendy menghela nafas akan jawaban spontan istrinya yang memancing emosi, selama menikah mulut pedas Tica sama sekali tidak berubah dengan jawaban singkat yang memancing emosi.

__ADS_1


"Baiklah!"


"Ethan tidak makan, Sayang?"


"Engga mau, Mas! Ethan itu lebih banyak diam menyendiri, kaya bapaknya!"


"Memang dia benihku!"


"Siapa yang bilang benih jagung?"


"Ish!!!" Dendy menggeram mengunyah nasi yang ada di mulutnya.


"Sayang, apa kamu sudah makan?"


"Bubu...dring!" Tica memberikan segelas air putih dengan gelas ukuran kecil kepada Evan dan batita aktif itu kembali bermain dengan mainan yang telah Dendy siapkan khusus untuk putranya saat ke kantor.


Setelah makanan di dalam wadah bekal itu tandas, Tica mengambil tissue dan mengelap bibir Dendy dengan tissue. Sungguh pria manja itu bahkan tidak mau berdiri dari kursinya hanya untuk sekedar mengambil tissue yang hanya berjarak dua meter dari kursinya.


"Mas, aku mau lahiran normal aja!"


"Tapi Sayang, dokter menyarankan untuk Operasi. Apa salahnya menuruti saran dokter? Toh itu untuk kebaikan kamu!"


"Aku mau normal, Mas!"


"Terserah kamu, jika pada saatnya nanti kamu harus operasi, maka jangan membantah! Tetapi jika dokter mengizinkan normal, maka aku pun tak masalah!"


Tiga bulan ke depan Tica akan memasuki bulan ke sembilan, dan akan siap untuk melahirkan sesuai dengan arahan dokter. Dokter menyarankan Tica agar melakukan operasi, tetapi wanita itu kekeuh untuk melahirkan normal dan Dendy tetap akan mengikuti saran dokter saat tiba waktunya lahiran nanti.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC!


Vote like and komennya yah.


__ADS_2