Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-62 Cukur botak.


__ADS_3

Dendy menunduk dengan tangan yang tertaut khawatir, sekarang ratu yang asli tengah berdiri berkacak pinggang menatap tajam ke arahnya seakan berkeinginan untuk menelannya mentah-mentah. Bahkan Dendy tidak berani hanya untuk sekedar mendongak menatap netra gelap istrinya yang kini tengah memancarkan aura kekelaman itu.


"Bagus Mas! Bilangnya, sekertaris baruku pria, Sayang. Kamu tenang saja hanya kamu wanita satu-satunya di hidupku! Nyenyenye..." Ujar Tica seraya menirukan ucapan Dendy kemarin malam persis dengan logat Dendy ketika berbicara dan menambahkan remehan di akhir kalimat yang membuat Dendy semakin khawatir saja. Tica berkacak pinggang dengan sigap duduk di pangkuan Dendy yang masih duduk diam di kursi kebesarannya, Tica menyentuh dagu Dendy seraya mendongakkan kepala Dendy hingga netra mereka kini saling menatap.


"Anu Sayang! I..tu aku bisa jelasin, jadi kandidat prianya tidak ada yang memenuhi kriteria perusahaan dan terpaksa harus merekrut wanita. Jangan melotot, Sayang! Nanti matamu lepas!" Dendy memejam takut, istrinya melotot ke arahnya bagaimana ia tidak takut mata itu akan terlepas terlebih mata Tica yang sudah memerah bagaikan habis menangis berjam-jam lamanya. Otot-otot mata Tica tercetak jelas memerah di bagian putih kornea matanya, Dendy hanya bisa memejam tanpa mau melihat dengan Tica yang memaksa Dendy untuk membuka mata.


"Oh gitu ya? Terus dari sekian banyak kandidat, wanita ganjen tadi yang kamu pilih? Wanita yang bibirnya merah menyala, dengan rok mini yang seksi dan belahan dada yang mphhh..." Benda kenyal milik Dendy menubruk bibir Tica hingga wanita itu tidak bisa melanjutkan pembicaraannya dan dengan sengaja Dendy memperdalam lidahnya yang tengah menyusuri rongga mulut Tica di dalam sana. Dengan suara decapan bibir Dendy yang menggigit kecil bibi bawah Tica hingga lipgloss yang Tica pakai hilang tidak bersisa.


"Hanya kamu, Sayang! Sumpah demi apapun, hanya kamu yang bisa membangkitkan senjataku! Hanya kamu yang ada di hati dan pikiranku, ayolah aku tidak memiliki kata-kata yang bagus untuk ini. Maafkan aku, Sayang, hiks..hiks.." Dendy menundukkan kepalanya bersandar ke perut buncit istrinya seraya air mata itu terus mengalir, entahlah semenjak istrinya hamil, Dendy yang justru lebih sensitif dan semakin mudah menangis bahkan begitu manja kepada Tica.


"Aku akan memaafkan kamu asalkan dengan satu syarat, Mas!"


"Aku akan penuhi apapun syaratnya, asalkan jangan marahi aku lagi, Sayang. Hik...hiks..aku.. takut...jangan melotot..." Tica semakin dibuat gemas dengan sikap dan tingkah pria manjanya itu. Tica justru semakin gencar menggoda suaminya dan membuat Dendy semakin menangis dipermukaan perut Tica seraya menggesekkan wajahnya di sana. Merasakan kehadiran buah hati mereka di dalam sana yang akan lahir beberapa bulan ke dapan.

__ADS_1


"Yakin?"


"Yakin, Sayang."


"Baiklah, syarat pertama, Mas harus bangun di pagi hari secara rutin dan tepat waktu tanpa aku bangunkan! Syarat kedua, Mas harus pulang lebih awal dan menghabiskan waktu bersama putra kita, dan yang ketiga Mas harus cukur botak!"


Deg!


Flashback on


Dendy yang tengah berjalan dengan mengenakan kacamata hitamnya mencari bubur yang diinginkan istrinya di siang hari ini. Dendy baru saja pulang dari meeting dan masih dengan setelan formal yang melekat di tubuhnya, seorang pria botak berjalan dengan teledor ke arahnya dan menumpahkan segelas kopi hitam hingga jas putihnya ternodai oleh kopi hitam itu. Dan dengan teganya Dendy menghardik pria itu.


"Sialan kau! Kalau jalan pakai mata! Dasark botak bersinar! Kau pikir kau bisa mengganti bajuku ini!"

__ADS_1


"Dasar arogan! Aku kan tidak sengaja, aku sumpahi kau juga botak!" Dan pria itu segera pergi meninggalkan Dendy tanpa bertanggung jawab apapun membuat Dendy kesal setengah mati dan langsung membuang jas itu untuk menggantinya dengan yang baru.


.


.


.


.


TBC!


Vote like and komennya yah.

__ADS_1


__ADS_2