
"Aku akan jujur, kalau aku memiliki sebuah trauma berat karena sebuah pelecehan yang pernah aku terima saat aku masih remaja. Dimana saat itu, aku hampir saja dilecehkan oleh lima orang teman priaku di sekolah. Tetapi aku beruntung karena seorang pria tampan yang tidak aku kenal tetapi masih satu sekolah denganku menyelamatkan aku. Saat itu, kondisiku begitu menyedihkan setelah kejadian itu aku divonis memiliki trauma berat. Dan trauma ini yang perlahan menggerogoti jiwaku menjadi rapuh. Hik...hiks.."
Karmila tidak kuat untuk sekedar kembali mengingat kejadian kelam itu, dimana kesuciannya hampir saja terenggut paksa dan membuat dirinya harus mengalami trauma yang membuatnya sama sekali tidak mau bersentuhan dengan lawan jenis kecuali sang ayah. Trauma yang Karmila milik memaksa dirinya untuk tidak bersentuhan dengan pria lain, hanya Jerry satu-satunya orang yang telah ia sentuh setelah ayahnya.
"Tidak perlu memaksakan jika tidak kuat. Kemarilah, aku selalu bersamamu!" Jerry yang duduk di ranjang tepat di sebelah Karmila, pria kekar itu menelungkupkan wajah basah Karmila ke dalam dada kekarnya yang begitu hangat dan bahkan perlahan Karmila mulai sulit untuk menjabarkan rasa nyaman yang ia dapat dari pria itu setelah satu Minggu ini mereka hidup bersama.
Jerry selalu memerhatikan dirinya dengan segala perlakuan lembut yang berhasil membuat hatinya perlahan merasakan nyaman dan mulai mendamba akan kehangatan dan ketenangan yang diberikan Jerry.
"Apa masih kuat?" Karmila mengangguk kembali bercerita dengan posisi masih dalam rengkuhan Jerry, ia berkoala pada Jerry dengan menyandarkan kepalanya di dada bidang itu seraya Jerry yang sesekali mengecup manis rambut merah itu.
"Dan kamu tahu! Ternyata pria yang menyelamatkan aku adalah komplotan dari semua pria jahat itu dan dia justru lebih jahat dengan merobek semua kain bajuku. Dia memegang tubuhku dan mengikat tubuhku di sebuah gudang yang aku tidak tahu dimana itu. Dia menyiksaku selama enam hari, membuatku begitu ketakutan dengan semua kegelapan itu. Dan untungnya dia tidak bisa merenggut kesucianku karena aku dia seorang penyuka sesama jenis."
"Tetapi bagaimana bisa dia menculikmu? Apa motifnya, Sayang?"
"Aku dibius saat pulang sekolah! Dia menculik aku dan menyiksaku karena pria yang dia sukai menyukai aku. Pria yang dia sukai adalah pria normal, tetapi dialah yang gila! Hiks...hiks..."
"Tak perlu menangis, aku ada di sini dia tidan akan bisa melakukan apapun!"
"Makasih..."
"Untuk?"
"Untuk telah mencintai aku dengan tulus, aku wanita yang cacat ini. Terimakasih, dan maaf aku selalu menyusahkan kamu dengan segala...emphh...."
Plup. ******* itu begitu mendadak membuat Karmila kembali terlonjak dengan jantungnya kembali berdegup sedikit kencang. Ini yang ia takutkan, ia tidak akan bisa melayani suaminya jika terus seperti ini.
"Lepas!"
__ADS_1
"Maaf Sayang, aku kelepasan. Mulai besok akan ada psikiater yang datang, kau harus memulai terapi dan keluar dari ketakutan ini, aku tidak mau istriku terus terbelenggu rantai ketakutan yang akan menghancurkan psikisnya."
"Tapi..."
"Tidak ada bantahan!"
Di tempat lain, sepasang anak kembar yang sudah mulai bisa berbicara itu mulai mengganggu ayah dan ibunya yang selalu saja bermesraan. Di usia mereka yang masih dini, mereka harus menyaksikan tontonan orang dewasa itu.
"Gagal lagi?" Ujar Dendy lunglai saat si kembar kembali terbangun ketika ia dan istrinya sudah hampir saja memulai kegiatan panas mereka. Dendy harus kembali menelan pil kepahitan karena satu Minggu ini kedua putranya itu bahkan sama sekali tidak membiarkan dia mendekati istrinya.
"Chess minee!" Teriak Evan Ethan memeluk Tica setelah berlari khas anak kecil dari ranjang mereka. Mereka berdua sepata meneriakkan kalau Tica hanya milik mereka seorang, termasuk Dendy pun tidak boleh menyentuh ibu mereka.
Dendy mendelik, netra biru milik Daddy muda itu melebar penuh melihat sang putra yang semakin semena-mena. Tetapi bukannya takut, Evan dan Ethan justru semakin gencar memeluk erat Tica dan tidak membiarkan wanita itu lepas dari mereka. Tica menggeleng mengelus dada melihat kelakuan ayah dan anak yang sama-sama posesif.
"Sayang! Biarkan si kembar bersama Wila dulu! Aku sudah bosan bermain solo di kamar mandi!" Dendy merengut sebal menatap si kembar yang dengan santai meraup asi Tica.
"Kamu bilang bisa, tapi buktinya mana? Ini sudah seminggu lebih mereka tidur bersama kita, Sayang! Biasanya juga tidur di kamar sendiri sama Wila!"
Tica yang mulai jengah akhirnya harus menasehati kedua putra nakalnya itu yang kini sudah bisa berbicara walaupun masih sedikit cadel.
"Nak! Nanti tidur di kamar kalian ya?" Dan dengan kompak kedua batita itu menggelengkan kepalanya karena mereka lebih suka tidur bersama sang ibu dengan puk-pukan manja di pantat mereka oleh ibunya.
"Tuh kan Sayang!!!"
"Diam Mas!"
"Ev Eth, apa kalian mau pergi ke rumah Uncle Jerry dan aunty Mila hari Minggu?" Dengan semangat kedua batita tampan itu mengangguk penuh kegembiraan seraya menatap Dendy yang tersenyum setuju.
__ADS_1
"Kalau begitu kalian harus tidur di kamar kalian sendiri malam ini?" Dan kembali gelengan kepala yang di dapat oleh Dendy. Membuat ia geram ingin sekali ia tendang bokong sintal itu, untung mereka masih putranya.
"Nak, ibu akan menemani kalian tidur di kamar kalian? Bagaimana?"
"Yess Ibu!"
"Sayang? Kamu apa-apaan!"
"Mas nanti aku akan kembali setelah mereka tertidur!"
"Baiklah, ide yang bagus!"
Inilah keseharian Tica setelah ia berhenti bekerja. Ia memilih untuk fokus pada keluarganya dan melayani mereka dengan limpahan cinta dan kasih sayangnya. Tica bahkan kerap kali geleng-geleng kepala melihat tingkah anak dan ayah yang selalu ribut tak mau berdamai itu. Si kembar yang mulai tumbuh besar, kini mulai paham tentang barang kepemilikan mereka dan sangat posesifnya mereka menjaga barang kesayangan mereka.
Dendy sebenarnya begitu menyayangi kedua pria tampannya itu yang selalu ia penuhi apapun yang mereka inginkan. Dendy sama sekali tidak pernah membiarkan putranya berada di lingkungan yang salah kelak, oleh karenanya sedari dini Dendy sudah mendidik putranya menjadi pria yang sejati. Tidak seperti dirinya dulu saat menyakiti Tica, ia tidak mau putranya juga merasakan penyesalan yang sama kelak.
.
.
.
.
TBC!
Vote like and komennya yah.
__ADS_1