
Ketiga keluarga yang harmonis itu baru sjaa datang berkumpul di mansion Dendy. Brydan bersama Nadya dan putri mereka Keyra yang sudah berusia hampir dua tahun. Memakai setelan pakaian yang bermotif sama hanya saja warnanya berbeda, Nadya dan dengan model dress selutut berwarna merah. Sedangkan Brydan dengan setelan jasnya berwarna coklat muda. Malam ini, Keyra tampil begitu menggemaskan dengan rambutnya yang dikuncir dua serta sepatu flat bermotif kuda poni.
Jerry dan Karmila nampak begitu serasi mengenakan setelan senada tetapi berbeda model hanya sama warnanya saja. Dimana milik Jerry bukanlah jas melainkan pakaian kekinian yang dipilihkan oleh istrinya. Hoodie big size dengan jeans panjang berwarna biru langit, senada dengan istrinya sebuah kaos putih big size yang disandingkan dengan jeans wanita panjang berwarna biru langit. Tidak lupa sneakers putih cerah dari brand dunia itu melekat di kaki mereka, entah berapa total outfit yang mereka kenakan.
Sedangkan tuan rumah mengenakan baju senada bermotif batik, khas Indonesia yang dipilih oleh Tica dengan background warna maroon yang sangat kontras dengan kulit putih mereka. Denica, Putri kecilnya tampil dengan sebuah bando di kepalanya dan sebuah jam tangan kekinian yang ia pesan khusus untuk keluarganya. Sultan memang beda, kita rakyat jelata bisa apa.
"Silahkan, duduk guys!!" Tica begitu excited dengan kehadiran para sahabatnya itu. Mereka duduk di sofa ruang keluarga bersebelahan dengan pasangan masing-masing.
"Terimakasih Tic, bagaimana kabar kalian?" Sahut Nadya seraya menyerahkan putrinya ke pangkuan Brydan yang dengan senang hati bercanda gurau bersama putri cantiknya yang begitu mirip dengan sang istri, hanya saja warna mata gadis kecil itu sangat mirip dengan Brydan, warna mata hazel yang mengagumkan.
"Ah, tentu saja baik, Nad!"
"Eth sama Ev apa kabar, Sayang!"
"Fine, onty." Sahut Tica seraya menirukan suara bayi kecil, mereka mengobrol penuh kehangatan selayaknya keluarga pada umumnya. Hingga setelah mereka memutuskan untuk berfoto bersama di studio yang ada di mansion Dendy. Jika sudah perihal foto, tentu saja para wanita yang akan mengorganisir jalannya acara. Para wanita akan berfoto sedangkan yang akan menjadi korban untuk menjadi fotografer adalah para suami mereka.
"Baiklah, giliran para wanita berfoto. Wila tolong kamu jaga si kembar ya. Keyra juga, biarkan mereka bermain di area play ground." Tica menitipkan semua anak-anak pada Wila yang memang merupakan tugasnya dibantu oleh salah seorang pelayan wanita.
"Baik, Nyonya. Saya akan mengawasi anak-anak." Sahut Wila.
"Mas, ayo tolong fotokan kami bertiga." Tica meminta suaminya untuk memfoto para istri dengan sebuah kamera berharga fantastis milik Dendy. Sebuah background bernuansa klasik seperti berada di sebuah perkotaan lengkap dengan lampu yang menerangi foto agar hasilnya lebih sempurna.
Dendy yang tidak mau membuat gaduh walau ia tahu kalau para wanita sudah berfoto pasti akan memakan waktu yang lebih lama daripada hibernasi beruang. Dendy memutar mata jengah mengambil alih kamera, mulai menghitung hendak menjepret.
Karmila berada di tengah antara Tica dan Nadya. Mulai berpose dengan begitu cantik, Tica meluruskan tangannya seraya sebelah tangannya berpegang ke bahu Karmila yang juga berpose natural hanya dengan memberikan senyum natural. Nadya mengikuti pose Tica, kemudian tersenyum indah menatap ke arah kamera yang sudah siap menjepret momen ini.
__ADS_1
"Sudah Sayang, aku sudah jepret tiga kali." Dendy mulai menyerah saat lagi dan lagi para wanita itu meminta dirinya untuk menjepret. Brydan dan Jerry di belakang sana yang melihat bagaimana para wanita menindas Dendy, tertawa terbahak-bahak. Mungkin hari ini adalah hari tersial dalam hidup Dendy.
"Sekali lagi, Mas." Sahut Tica dari depan sana. Tidak Dendy sudah tidak kuat lagi, dia harus bertindak agar bisa terlepas dari penindasan ini.
"Aww Sayang, aku ingin ke kamar mandi. Perutku mulas!?" Dendy berakting seakan-akan ia ingin poop, segera berlari menuju kamar mandi yang ada di studio tanpa mendengarkan balasan istrinya. Tidak apa ia sakit perut sungguhan, daripada menghadapi para wanita yang selalu benar dalam hal apapun itu membuatnya benar-benar tidak bisa berkutik, menolak takut kena marah, mengiyakan sama dengan menyiksa dirinya.
"Ahh, bagaimana ini?" Desah Nadya yang frustasi. Bagaimana mungkin mereka berfoto tanpa ada fotografer yang akan memotret. Akhirnya Nadya meminta sang suami untuk memotret mereka, setelah beberapa saat kemudian Dendy masih belum juga keluar dari kamar mandi. Walau sebenarnya ia hanya berdiam diri di sana tidak melakukan apapun.
"Sayang, kamu tolong fotokan ya. Dendy kan masih di kamar mandi." Ujar Nadya.
"Jer! Sana kau yang memfoto!" Bisiknya pada Jerry yang menggeleng spontan, ia tidak mau menjadi korban selanjutnya setelah Dendy. Tetapi bukan Brydan namanya jika tidak bisa mengintimidasi para bawahan dan rekan-rekannya. Brydan menatap tajam Jerry seraya mengucapkan, "cepat kau ajukan diri, gajimu akan aku tambah dua kali lipat." Jerry tersenyum penuh kemenangan, sepertinya ini akan menjadi keuntungan dirinya.
"Maaf Tuan, tidak! Kalau cuma dua kali lipat saya sudah punya banyak di bank!" Sahut Jerry membuat Brydan menjadi geram dan semakin tertantang menaklukan si kepala Batu itu. Tanpa Brydan sadari kalau dirinya tengah diperbudak Jerry, jika ia sudah menyadari mungkin Brydan akan menggantung bawahannya itu.
"Sayang ayo cepat!" Di depan sana Nadya sudah berteriak tidak karuan. Ia semakin tidak sabar, menunggu sang fotografer agar segera memotret mereka karena sedari tadi ia sudah melihat penampilannya yang cantik paripurna setelah sedikit dirombak oleh seorang pelayan yang ahli di bidangnya.
"Tetap tidak, Tuan! Saya bilang saya sudah punya banyak." Dengan angkuhnya Jerry melengos menolak tawaran Brydan seakan dirinya sudah mempunyai banyak uang walau kenyataan tidak demikian. Secara logika, orang mana yang menolak diberikan bonus gaji tiga kali lipat hanya unuk memotret saja? Tentu saja tidak ada selain Jerry.
"Sialan! Lima kali lipat?"
"Ah saya pertimbangkan, sepertinya saya setuju, Tuan! Lima kali lipat bulan ini, deal?"
"Hmm! Sialan kau mengambil keuntungan dariku!" Geram Brydan memukul bahu Jerry yang hanya diberi tawaan ringan oleh Jerry, akhirnya ia berhasil memoroti kekayaan tuannya itu.
"Anda tak akan jadi miskin hanya karena memberi saya gaji lebih. Saya tahu kalau Anda itu orang terkaya se-Asia, tidak ada salahnya sedikit memberi pada bawahan Anda."
__ADS_1
"Diam saja kau!" Bentak Brydan dan mendorong Jerry ke arah kamera. Para wanita sudah mulai siap kembali berpose.
"Guys! Aku Hamill!"
"What?" Nadya dan Tica terlonjak reflek langsing memeluk Karmila yang juga tersenyum bahagia dan turut memeluk kedua sahabatnya.
"Wah, kau topcer juga rupanya." Ujar Dendy yang baru kembali dari kamar mandi.
"Tentu saja, Tuan! Benih saya berkualitas!"
"Milikku juga!"
"Kalian diamlah, lihat istrimu terjepit!"
"Tidak apa."
Mereka tersenyum dengan bahagia hingga acara selesai dan pulang ke rumah masing-masing.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC!
Vote like and komennya yah.