Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-50 Kedatangan Nadya.


__ADS_3

Pagi hari cerah tiba dengan matahari yang sudah terbit di ufuk timur. Kedua bayi tampan yang kini telah berusia satu tahun itu mulai belajar untuk berjalan, Evan dengan tingkahnya yang menggemaskan sedangkan Ethan dengan sikap dingin yang mengagumkan. Keduanya tumbuh dengan berlimpah kasih sayang dari orang-orang sekitar mereka, selain tampan mereka juga memiliki aura positif yang kuat untuk menarik semua orang menjadi suka akan kehadiran mereka.


Ini sudah Minggu kedua Tica dan Dendy berada di rumah ibu Tica yang telah direnovasi oleh Dendy, walau dengan sedikit paksaan tetapi akhirnya ibu dan ayah menyetujui karena mereka pikir agar Tica dan si kembar merasa nyaman dengan nuansa yang lebih indah dilengkapi fasilitas yang lebih canggih.


Tok tok tok!


"Ah itu pasti Nadya, Sayang!" Ujar Tica dengan bersemangat karena kemarin sahabat karibnya itu bilang akan datang mengunjungi si kembar mumpung Tica masih di Indonesia.


"Selamat datang ponakan aunty!" Tica dengan senang hati menggendong putri kecil Nadya yang usianya sudah menginjak kurang lebih dua tahun. Gadis kecil cantik yang memiliki mata indah seperti milik sang ayah serta kulit putih bersih seperti milik Nadya dengan tatapan mata yang meneduhkan. Hati Tica berdesir menatap betapa cantiknya putri Nadya, mungkin di masa depan gadis itulah yang akan menjadi penerus sang ayah.


"Ayo masuk, Nad! Tuan Brydan silahkan!" Brydan dan Nadya memasuki rumah minimalis tetapi terkesan modern itu dengan Dendy yang datang membawa sesuguhan membantu ibu dan ayah. Si kembar ia letakkan di bawah bermain di atas karpet berbulu yang halus dan aman untuk anak kecil.


"Nak Nadya!" Ibu memeluk Nadya seraya menilik penampilan Nadya yang sangat berubah bukan lagi gadis kampung seperti dulu yang selalu bermain bersama Tica dan sering menginap di rumahnya. Kini telah berubah menjadi gadis cantik yang elegan dengan berbagai macam outfit kece badai yang berharga fantastis.


"Ibu! Nadya kangen loh sama ibu, sama ayah juga. Ibu dan ayah apa kabar?"


"Baik Nak!"


"Hmm!" Brydan yang merasa diasingkan oleh istrinya akhirnya bersuara sedikit keras.


"Loh ini suaminya Nak Nadya? Aduh ganteng banget iki loh!" Ujar ibu seraya mempersilahkan Brydan untuk duduk.


"Aww aku duduk bawah aja! Ganteng-ganteng banget ini ponakan aunty... Utututu sini-sini sama aunty." Nadya menggendong kedua bayi tampan itu bersamaan dengan wajah berseri tetapi sepertinya mereka berdua akan memiliki watak yang bertolak belakang kelak. Dari kecil saja sudah bisa dilihat, kalau Evan lebih mengarah pada sifat Tica yang ceria sedangkan Ethan lebih mengarah pada Dendy yang lebih banyak diam.


Mereka berbincang dengan harmonis begitu hangat selayaknya keluarga bahagia. Hingga sore hari tiba dan Nadya berpamitan untuk pulang karena esok hari suaminya harus bekerja.


Malam hari ini selepas makan malam, Tica dan Dendy bersama-sama menidurkan kedua bayi mereka. Setelah dua bayi tampan itu terlelap dalam buaian alam bawah sadar mereka, Tica segera meletakkan tubuh kecil itu di dalam ranjang bayi dengan sedikit menepuk perlahan pantat mereka agar tidak terbangun.


"Mas?" Tica naik ke ranjang memeluk tubuh kekar suaminya yang hanya mengenakan boxer tanpa mengenakan atasan. Dendy mengelus lembut rambut hitam milik pujaan hatinya itu seraya mengecup penuh cinta, Tica merasa nyaman dengan perlakuan lelaki yang mengisi seluruh ruang hatinya itu.

__ADS_1


"Iya Sayang?"


Sahut Dendy seraya mengelus lembut perut datar istrinya yang masih sekarang belum juga hamil padahal dirinya begitu mendambakan hadirnya seorang bayi dari rahim itu, ia ingin merasakan ngidamnya istrinya. Menebus kesalahan yang telah ia perbuat di masa lalu. Agar dirinya bisa kembali merasakan menjadi seorang ayah dan suami siaga dengan utuh.


Tica menunduk, ia tahu betapa suaminya begitu menginginkan adik untuk si kembar tetapi ia tidak tahu kenapa ia tidak lagi hamil. Walau ia sudah tidak menggunakan apapun, menstruasinya pun rutin setiap bulan itu artinya dirinya tidak hamil dan hormonnya baik-baik saja.


"Maafin aku ya, Mas. Masih belum bisa hamil lagi, Mas pasti sedih kan? Hiks...hiks... Aku juga mau punya baby, tapi aku bukan Tuhan yang bisa menentukan segalanya. Aku sudah berusaha untuk konsultasi dokter tapi nihil... Hiks..hiks..." Tica menangis menenggelamkan wajahnya di ceruk leher suaminya. Sudah beberapa kali ia berkonsultasi ke dokter dan dokter mengatakan bahwa rahimnya sehat dan subur.


"Sayang, hey! Kenapa nangis? Aku engga suka lihat kamu nangis gini! Aku engga pernah maksa kamu untuk hamil, aku hanya ingin merasakan menjadi suami siaga untuk istriku! Jika kamu tidak hamil, it's okey, baby. I don't force you at all! Kamu dan si kembar itu sudah lebih dari cukup, kalian adalah pelengkap hidupku! Hidupku tanpa kalian bagaikan makanan tanpa garam yang akan selalu hambar." Tica sungguh meleleh mendengar ucapan bermakna suaminya. Baru kali ini Dendy mengucapkan kata yang begitu memotivasi hatinya agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan.


"I love you!"


"I love you too, Mas!"


Sepasang pasutri yang dimabuk asmara itu larut dalam ciuman yang memabukkan dengan saling bertukar cairan dari mulut masing-masing seraya meneguk manisnya kisah cinta mereka yang tidak mudah sama sekali. Hampir saja mereka menyatu dalam kobaran cinta yang memburu, tetapi si kecil menggagalkan kegiatan cinta mereka.


"Hoeekkkmmm... Mmamhhmm... Daddddaa.... Hoekkmm!" Evan menangis dengan kencangnya membuat Ethan yang merasa terkejut ikut menangis tak kalah kencang dan terjadilah keriuhan di malam hari di dalam kamar mereka. Tica segera memberikan susu formula untuk si kembar dengan Dendy yang menggendong Evan dan Tica menggendong Ethan karena si tampan dingin itu tidak mau disentuh siapapun selain ibunya.


Mendengar ucapan Dendy, Evan seakan tahu kalau sang ayah tengah memarahi dirinya dan membuat tangisan batita itu kembali memekik keras dengan Tica yang mendelik tajam kepada sang suami yang berbicara melantur terhadap anak di bawah umur.


Setelah penuh usaha, akhirnya si kembar tampan itu kembali tidur setelah sekian menit lamanya. Dendy pun akhirnya memilih untuk tidur karena kantuk sudah menyerangnya begitu pula dengan istrinya. Sepertinya memang ia ditakdirkan untuk tidak menyentuh istrinya sementara waktu sampai si kembar nakalnya itu bisa tidur di kamar yang terpisah.


"Mas?"


"Iya Sayang?"


"Kamu tegang?"


"Iya! Tapi anak-anak kamu yang tampan itu sama sekali tidak membiarkan ibunya berduaan dengan daddynya."

__ADS_1


"Mas berlebihan, nanti juga dapat! Sabar dong!"


"Udah sabar ini, Sayang! Mas mau tidur dulu aja!"


"Mas!"


"Apa lagi, Sayang?"


"Cuma mau ngingetin jangan lupa matanya ditutup kalau tidur!"


"Aww! Hahaha..." Tica mengaduh kala Dendy menggigit kecil daun telinganya. Sembari menggelitik pinggangnya.


"Mas udah! Hahaha hik..."


"Jail!"


"Biarin! Yang penting cantik, bohai, seksi,. menggoda..."


"Nakal kamu yah!"


Mereka terus asik bercanda tanpa memikirkan esok hari mereka harus bangun di pagi hari untuk keberangkatan kembali ke Amerika. Ya, masa cuti Dendy sudah habis. Dan waktunya untuk kembali bekerja.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC!


Vote like and komennya yah.


__ADS_2