Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-65 Kiriman bunga.


__ADS_3

Whuss...


Angin berhembus sepoi-sepoi menggoyangkan dahan-dahan pohon secara berirama berkicaulah burung-burung kecil yang higgap di dahannya. Pagi cerah membawa sebuah lembaran hari baru, sinar mentari berkilau di ufuk timur memberikan cinta dan kehangatan di pagi hari ini yang indah dengan embun yang membasahi tanaman.


Seorang wanita cantik masih dengan mengenakan piyama yang bergambar kartun kuning kesukaannya itu sesuai dengan warna kesukaannya, ia berjalan perlahan seraya membuka kain hordeng dan membiarkan sinar mentari masuk ke kamarnya yang sederhana. Seperti biasa ia akan menikmati embun pagi melalui jendela kamarnya dan setiap pagi selalu saja ada bunga yang bertengger di kusen jendela kamarnya. Bunga kesukaannya, yaitu bunga tulip dengan berbagai warna disertai sebuah note di dalamnya.


'Hy Sayang! Lihatlah bunga-bunga cantik ini, sama persis seperti wajahmu yang selalu cantik!' Note yang sama setiap harinya dan Karmila selalu dibuat heran dengan orang yang mengirim bunga itu, apa orang itu tidak memiliki kreativitas dengan menaruh tulisan yang sama setiap harinya dan terlebih bagaimana orang itu bisa tahu bunga kesukaannya, dasar penguntit!


"Siapa pengirimnya? Kenapa selalu note yang sama setiap harinya? Mungkin dia salah satu orang dingin yang tidak memiliki kreativitas!" Ujarnya menaruh buket bunga pink itu di tempat khusus yang ia sediakan untuk mengoleksi bunga kesukaannya.


"Hmm!"


Deg!

__ADS_1


Mendengar suara deheman di belakangnya, seketika Karmila menoleh hingga nampaklah pria itu tengah bersandar di kusen jendela sembari menatap ke arahnya dari arah luar ruangan. Dengan wajah datar seperti biasa tetapi dengan pesona yang begitu memabukkan, tidak dapat dibantah jika pria itu memang tampan.


"Kau lagi! Sudah berapa kali aku bilang! Jangan pernah temui aku lagi! Apa kau tidak punya telinga?" Karmila marah melempar pria itu dengan bunga yang tadi hendak ditaruhnya. Dan dengan mudahnya pria itu mengelak hingga lagi dan lagi Karmila melempar semua koleksi bunga yang ia miliki dari yang langka hingga yang pasaran. Tetapi tidak ada satupun bunga yang berhasil mengenai wajah pria itu, semuanya jatuh sia-sia rusak di atas tanah. Karmila yang sebal sontak menutup jendela dengan keras tanpa aba-aba hingga terdengar suara jeritan kencang.


"Akhhh!! Tanganku berdarah!!" Pria itu tidak sempat menarik tangannya, hingga jari telunjuknya kini mengenaskan harus terjepit jendela dan mengeluarkan darah dari kukunya yang sedikit rusak akibat jepitan kayu jendela yang kuat, sontak Karmila merasa bersalah. Darahnya mengucur deras tetapi pria itu hanya biasa saja memandang Karmila yang tengah berusaha untuk kembali membuka jendela dan membiarkan pria itu masuk ke dalam kamarnya sembari ia mengambil kotak obat dengan tergesa-gesa.


"Ini salahmu!" Ketus Karmila seraya memplester luka itu dan membersihkan darahnya dengan alkohol tetapi pria itu masih saja terdiam memandangi wajahnya hingga ia merasa malu dan memerah karena terus menjadi pusat perhatian.


"Sudah! Sekarang keluar dari kamarku, dan ingat tidak usah mengirim bunga lagi, karena semua bunga yang kau kirim itu jelek!"


"Kumohon biarkan aku menetap untuk beberapa saat! Aku tidak bisa menyetir mobilku dengan kondisi tanganku seperti ini." Ujarnya memelas, dengan pandainya ia mengambi kesempatan yang ada meminta Karmila agar mengizinkan dirinya untuk menetap. Karmila yang tidak tegaan sedikit berpikir, ia tidak mungkin tinggal bersama seorang pria di satu rumah yang sama tanpa memiliki ikatan apapun. Apalagi pria menyebalkan itu selalu saja mengganggunya setiap saat, ia bisa gila jika seharian bersama pria aneh itu.


"Ti..."

__ADS_1


"Awww!!! Sakit, teganya kau membiarkan aku kesakitan! Kau itu seorang dokter!"


"Ck, dasar tukang mengambil kesempatan dalam kesempitan! Baiklah, tetapi setelah itu kau harus pergi dan jangan kembali lagi!"


"Hmm!"


.


.


.


.

__ADS_1


TBC!


Vote like and komennya yah.


__ADS_2