Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-57 Persembahan untuk Tica.


__ADS_3

Bali, Indonesia.


Pesawat yang ditumpangi Nadya baru saja tiba mendarat di bandara Bali, segera menuju ke hotel yang telah dibooking oleh Dendy untuk keluarga majikannya itu. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya mereka sampai dengan selamat ke hotel bersama dengan putri mereka yang telah terlelap karena seharian melakukan perjalanan dari luar kota menuju Bali.


"Hy Nad? Keyra mana?" Tanya Tica yang menemui Nadya di kamar wanita itu. Seraya mengintip ke dalam mencari keberadaan putri kecil Nadya yang tertidur di ranjang bersama dengan suaminya yang juga tertidur bagaikan bayi kecil itu. Brydan memang sedikit kurang sehat, karena pria itu baru saja kemarin sembuh dari demam tetapi demi Tica, Nadya harus kembali mengajak suaminya perjalanan jauh.


"Keyra lagi tidur sama bapaknya! Yuk keluar, biarin mereka tidur! Oh ya, yang lainnya kemana?" Nadya menggandeng tangan Tica berjalan melewati lobby hotel untuk turun ke lift dan menuju ke pantai indah yang ingin sekali Nadya kunjungi. Tica hanya diam saja seraya memencet tombol lift ke lantai paling dasar.


"Mas Dendy, si kembar, ibu, ayah dan Wila baby sitternya si kembar lagi istirahat di kamar masing-masing. Mas Dendy katanya kurang enak badan, kemarin habis main sama si kembar seharian di laut mungkin kecapean. Ibu dan ayah besok akan pulang karena sawah di kampung harus diurus!" Tica berjalan menyusuri pasir putih di tepih pantai yang terlihat begitu indah dengan panorama alam alami yang mengandung beribu pesona yang tidak terbantahkan.


"Gimana sikap sekertaris Dendy? Udah berubah atau masih sama? Kalau masih sama, aku udah pesan sama kamu, gaplok aja pakai teflon yang aku berikan untuk hadiah ibu!" Nadya sedikit mencandai Tica, ia sebenarnya sudah tahu dari suaminya kalau Dendy 100 persen sudah berubah. Pria itu kini lebih penyayang kepada istri dan anak-anaknya, Nadya juga turut bahagia jika sahabatnya bahagia.


"Apaan sih, Nad! Sejauh ini, Mas Dendy sudah banyak banget perubahan! Kaya bunglon, haha..."


"Hahaha.... Serius Tic!" Nadya menepuk pelan bahu Tica seraya meminta Tica untuk duduk di pasir yang dingin dengan rerimbunan dedaunan pohon di atasnya. Mereka duduk bersama seakan bernostalgia jaman mereka saat sekolah dulu, sering sekali nongkrong di pinggir pantai sembari makan cilok abang-abang yang keliling di sekitar pantai.


"Sejauh ini, aku bersyukur banget Mas Dendy itu sudah banyak berubah. Dulu dia galak, bahkan engga mau menatap aku seakan aku ini wanita aneh yang engga pantas ditatap mata indahnya! Tapi sekarang, Mas Dendy lebih penyayang, sama anak-anak dan sama aku juga dia lebih perhatian. Aku berkomitmen dalam diri aku, kalau selamanya akan selalu mencintai dan menyayangi dia serta menerima semua kekurangannya." Nadya memeluk Tica seraya mengusap pelan punggung Tica. Ia sangat bahagia mendengar cerita bahagia dari sahabatnya. Tidak sia-sia usahanya mengirim Dendy ke Amerika, agar bisa segera menyelidiki kasus itu dan kembali bersama istrinya.


"Aku juga ikut bahagia kalau kamu bahagia! Kan enak kamu jadi engga ngerepotin lagi..."


"Emang ya, punya sahabat engga beres ya gini!"


Malam harinya, semua anggota keluarga berkumpul di ballroom hotel, dimana tempat megah itu telah disulap sedemikian rupa atas permintaan Dendy. Seisi ballroom menjadi lebih mewah dan elegan dengan segenap perlengkapan khusus bayi yang begitu imut dipandang serta dengan kermerlip lampu Tumbler di malam hari yang di telah ditempel di dinding ballroom dengan dekorasi sebuah singgasana yang berisi dua kursi. Serta dua kursi khusus untuk si kembar.


Tica, tokoh wanita kali ini telah disulap sedemikian rupa menjadi sosok princess yang begitu cantik dengan gaun putri dan juga ekor gaun yang panjang dengan sang raja yang merupakan Dendy telah dibuat menjadi setampan singgasana yang megah menanti kehadiran mereka. Dengan setelan tuxedo putih gold yang senada dengan warna gaun Tica dan juga tuxedo si kembar.


Kedua bayi kembar tampan itu nampak berjingkrak senang kala melihat kecantikan sang ibu yang tampak bersinar begitu bersih memancarkan Kilauan cahaya terang yang menyilaukan mata. Kecantikan wajah alami itu sungguh mempesona menuai berbagai macam pujian dari setiap insan yang hadir di dalam ballroom itu. Beberapa kolega kerja Dendy dan Brydan. Juga anggota keluarga yang sebelumnya telah ikut ke pulau Bali, seperti ibu, ayah, Wila serta Nadya.


"Kami persilahkan untuk kedua mempelai cantik dan tampan, Nyonya Tica Maharani dan Tuan Dendy Faresh! Untuk semua hadirin dimohon untuk berdiri dengan sambutan yang meriah!!!" MC membuat acara semakin meriah dengan teriakan yang turut hadir dari semua undangan dan juga tepuk tangan kekaguman.


"Wah cantik sekali!!"


"Huhhh!! Cantik dan tampann!!!"


Dendy menggandeng tangan Tica dan membantu wanitanya itu untuk duduk nyaman di singgasana yang telah disediakan dengan dekorasi indah mengikutserta.


"Pertama-tama, kami sambut tamu besar kami! Tuan Brydan Robson beserta istri dan Nona kecil! Beri tepuk tangan yang meriah!" Brydan hanya berdiri seraya memperkenalkan dirinya dan kembali duduk di kursi yang disediakan dengan Nadya yang juga tampil begitu cantik malam ini dengan riasan yang natural dan dress yang memiliki belahan dada tidak terlalu rendah tetapi cukup menonjolkan isi di dalamnya.


"Baiklah, untuk hari spesial ini, Pangeran kami, Tuan Dendy Faresh juga memiliki persembahan spesial untuk Putri cantik kami, Nyonya Tica Maharani! Tuan Dendy silahkan kami persilahkan tempat dan waktu!!" Sebuah panggung megah dengan tirai terbuka menunjukkan berbagai alat musik Band yang tertata jelas dengan beberapa orang yang siap memainkan alat-alat musik itu menimbulkan sebuah melodi yang merdu.


Dendy mulai memegang sebuah Mic yang telah diberikan oleh MC tadi dan dengan percaya diri dengan gagahnya berdiri di panggung megah.


"Aku persembahkan lagu ini untuk Istriju tercinta! My last love in my life! You're the first reason why i can stand here, honey!"


Prok prok prok! Suara riuh tepuk tangan menyambut perkataan Dendy dengan sukacita kebahagiaan.

__ADS_1


...Not sure if you know this...


...Tidak yakin Jika Anda tahu ini...


...But when we first met...


...Tapi saat pertama kali kita bertemu...


...I got so nervous I couldn't speak...


...Saya sangat gugup sehingga saya tidak bisa berbicara...


...In that very moment...


...Pada saat itu juga...


...I found the one and...


...Saya menemukan satu dan...


...My life had found its missing piece...


...Hidupku telah menemukan bagian yang hilang...


...So as long as I live I love you...


...Will have and hold you...


...Akan memiliki dan menahanmu...


...You look so beautiful in white...


...Kamu terlihat sangat cantik dengan pakaian putih...


...And from now 'til my very last breath...


...Dan mulai sekarang sampai nafas terakhirku...


...This day I'll cherish...


...Hari ini aku akan menghargai...


...You look so beautiful in white...


...Kamu terlihat cantik sekali...

__ADS_1


...Tonight...


...Malam ini...


...What we have is timeless...


...Apa yang kita miliki tidak lekang oleh waktu...


...My love is endless...


...Cintaku tak berujung...


...And with this ring I...


...Dan dengan cincin ini aku...


...Say to the world...


...Katakan pada dunia...


...You're my every reason...


...Kamu adalah setiap alasanku...


...You're all that I believe in...


...Anda semua yang saya percayai...


...With all my heart I mean every word...


...Dengan sepenuh hati saya berarti setiap kata...


...Beautiful in white (by : Shane Filan)...


.


.


.


.


.


TBC!

__ADS_1


Vote like and komennya yah.


__ADS_2