Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-25


__ADS_3

"Akh! Sial sial sial, semua ini karena wanita itu! Sialan, akan ku hancurkan dia. Aku pasti akan mendapatkan apa yang aku inginkan, aku mau semua harta pria itu, setelah aku berhasil menyingkirkan ibunya, sekarang waktunya untuk menyingkirkan wanita sialan itu!"


Seorang wanita berhati psycho melempar semua barang yang ada di dalam ruangannya. Ia marah dan mendendam karena rencana yang telah ia susun serapih mungkin kini hanya tinggal kehancuran.


***


Setelah menempuh dua jam perjalanan, Dendy sampai di desa Tica dengan keadaan yang sudah gelap. Malam telah tiba, kondisi desa mulai sunyi, terlebih lagi awan mendung yang menyelimuti langit membuat kesan seram nan menakutkan itu semakin mencekam.


"Jerry, itu rumahnya. Kalau kelamaan disini aku bisa habis dimakan nyamuk!" Keluh Dendy yang kini tengah memaki mobilnya. Mobil yang ia tumpangi mogok di tanah lapang seberang rumah Tica.


"Ayo Tuan!"


Setelah sampai di depan rumah Tica, Dendy sedikit gugup ia harus kembali menormalkan degupan jantungnya yang berlebihan. Mencoba menarik nafas dan membuangnya perlahan selama beberapa detik.


Jerry yang melihat tingkah Dendy, sontak menahan tawa. Baru kali ini seorang Dendy Faresh yanb dikenal galak dan dingin, merasa gugup hanya karena akan bertemu istrinya sendiri.


"Cepat Tuan, kalau seperti ini terus, kita bisa membeku disini bersama para nyamuk genit ini!!" Kesal Jerry, karena Dendy tak kunjung mengetuk pintu rumah Tica sedari tadi pria itu justru sibuk dengan helaan nafasnya dan menyentuh dadanya.


"Diam kau, bacot!"


Lima menit berselang.


"Cepat Tuan!!!" Sarkas Jerry, ia merasa begitu kesal pada atasannya itu. Sudah lima menit tapi tak kunjung mengetuk pintu. Akhirnya Jerry maju dan dengan berani pria itu mengetuk pintu rumah dengan sedikit keras.


Tok tok tok.


Tok tok tok.

__ADS_1


Dendy melotot, karena seseorang telah menjawab dari dalam rumah.


Ceklek.


Deggg.


Dua sorot mata itu bertemu, jantung Dendy semakin berdegup kencang tak karuan dengan netra yang terpaku melihat seorang wanita cantik yang berpakaian piyama panjang itu. Wanita yang telah ia sia-siakan, wanita yang rela menunggunya tanpa ia beri kepastian dan wanita yang telah melahirkan anaknya.


Pria itu! Pria yang begitu Tica benci, pria yang telah membuatnya menderita. Tak cukup disana, pria itu juga telah menyia-nyiakan cinta tulus yang ia berikan. Pria yang telah menyia-nyiakan anaknya, dan sampai kapanpun Tica akan tetap membenci pria itu, walau sejujurnya masih ada secercah cinta dan harapan di hati kecilnya. Perasaan nurani seorang wanita yang selalu mencintai pria itu, tetapi perasaannya sebagai seorang ibu sungguh tersakiti melihat ayah dari anaknya sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya bahkan ketika anaknya lahir.


"Ti..tica?"


"Pergi dari rumahku!"


"Aku bisa jelaskan!"


"PERGI SEKARANG! KAU TULI?"


"PERGI BRENGSEKK!"


Brak!


"Hiks.. hiks.." Tica meluruh setelah menutup pintu dengan keras. Wanita itu tak kuat, ia tak kuat membentak orang yang ia cintai. Tetapi ia juga membenci pria itu, ia ingin memaki pria itu sampai dirinya merasa puas. Tetapi, ia tak bisa, ia tak kuat, Tica tak sekuat itu untuk melihat netra indah pria itu menyendu.


"Aku lelah!! Hiks.. hiks.. aku ingin membencinya, aku ingin memakinya, tapi kenapa? Kenapa hatiku juga sakit, hiks.. KENAPAA?!"


"Tica.. Nak??"

__ADS_1


"Buu hiks.. hiks.." Tica merengkuh sang ibu yang juga duduk di lantai.


"Kenapa Nak? Siapa yang datang, kenapa kamu seperti ini?" Ibu juga bingung akan perubahan putrinya yang mendadak.


"Tica lelah, Bu! Hiks.. Tica mau hati ini membenci dia, Tica mau itu. Tetapi bahkan hati ini sakit saat Tica mengucapkan hal kasar padanya! Hiks.. hiks.."


"Apa dia datang?"


"I..iya Bu!"


Deg.


Pria itu, hutangku masih belum lunas. Jika saja yang menemuinya tadi adalah aku, sudah ku pentung kepalanya menggunakan teflon baruku!


"Nak, yakinkan hatimu. Ingat penderitaan yang selama ini kamu alami, jangan dengan mudah mau kembali dengannya. Pikirkan semuanya dengan matang, ikuti kata hatimu. Ibu selalu ada untuk mendukungmu, ayah juga selalu ada untukmu. Kamu putri kami satu-satunya, jangan sampai kamu kehilangan orang yang kamu sayangi sama seperti yang ibu alami."


"Hiks.. terimakasih, Bu! Tica mau menemui si kembar!" Tica beranjak seusai meminta ibunya untuk istirahat. Ia memasuki kamarnya dan menilik ke arah dua putranya yang telah terlelap kembali.


.


.


.


.


TBC!

__ADS_1


Vote like and komennya yah.


Tetep enjoy yah alur ceritanya. Semoga kalian suka!


__ADS_2