Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-9 Berubah pikiran.


__ADS_3

Kini, Tica telah tahu bahwa pria yang selama ini ia cintai tengah menunggu untuk cinta masa lalunya. Pria itu bahkan begitu tertekannya karena masa lalunya itu, Tica pun bisa memahami hal itu. Sesakit apapun dirinya, ia tidak boleh egois, ia tidak bisa memaksakan kehendaknya kepada Dendy. Tica tidak bisa memaksa Dendy untuk mencintai dirinya.


Tak peduli sekeras apapun Tica memaksa, jika Dendy tidak mau membuka hati untuknya, maka semuanya hanya akan sia-sia. Karena sesungguhnya cinta itu harus saling menerima satu sama lain dengan rasa tulus dari hati, tanpa paksaan dari siapapun.


"Bangunlah!"


Wanita itu membantu Dendy untuk bangun dari berlutut. Bahkan Tica tetao tersenyum, walaupun hatinya begitu sakit mendengar apalagi sampai melihat kenyataan ini. Tica sekuat tenaga menahan semua kepedihan itu untuk dirinya sendiri. Biarlah Dendy mengira bahwa tidak ada cinta di antara mereka, ia tidak mau mengecewakan pria itu jika dirinya sampai mengatakan bahwa ia mencintai pria itu.


"Ti... Tica?"


Dendy tercengang, walaupun mabuk, namun kesadarannya masih tersisa. Pria itu tidak sepenuhnya mabuk, lihatlah ia bisa mengenali lawan bicaranya. Wanita itu mengulurkan tangannya sembari tersenyum manis ke arahnya.


"Iya ini aku, kemarilah."


Tica merentangkan tangannya, ia membuka sebuah peluang untuk Dendy. Agar pria itu bisa menganggap Tica sebagai sahabat. Tidak, Tica sama sekali tidak berharap lebih.


"Sekarang kau tahu? Aku hanya pria lemah! Aku masih menunggu untuk seseorang yang selalu aku cintai, Angeline! Wanita sempurna yang selalu hinggap dalam hati dan pikiranku."


"Aku tahu!"


Tica berusaha membangunkan tubuh pria itu. Kemudian memeluk tubuh tinggi kekar itu yang terlihat sedikit limbung. Walaupun di balik ceruk leher Dendy, wanita itu berkaca-kaca. Namun di depan wajah Dendy, wajah wanita itu akan selalu tersenyum.


"Maaf! Maafkan aku, Tica. Aku tidak bisa mencintai siapapun selain dirinya!"

__ADS_1


"Tak apa, aku pun juga mempunyai cinta di masa lalu dan masa kini."


Wanita itu menghapus sisa air mata yang menggenang di mata Dendy.


Sekarang, adakah wanita setegar Tica? Yang rela disakiti demi pengorbanan cinta, wanita itu selalu mengingat, bahwa cinta yang sejati akan tahu kemana ia akan pulang dan tinggal. Berbeda dengan obsesi yang hanya akan singgah hingga rasa bosan menghampiri.


Ya Tuhan, kuatkan aku! Aku tahu aku bisa melewati semua ini, cinta ini pasti akan terbalas suatu saat nanti. Aku yakin itu!


"Aku brengsek, Tica. Maka setelah anakku lahir, kau akan bebas, carilah pria yang jauh lebih baik dari aku! Yang bisa membahagiakan dirimu seutuhnya!"


"Tentu!"


Degg.


"Jangan sering mengonsumsi minuman yang bersoda. Itu tidak baik untuk kesehatan."


"Hmm!"


"Kembalilah ke kamar."


"Aku boleh tidur di dalam?"


"Tentu, ini kan apartemen milikmu!"

__ADS_1


Mereka berdua bercengkrama seakan telah akrab satu sama lain. Seraya terus berjalan menuju ke ruang kamar, Tica membukakan pintu untuk Dendy, dan betapa terkejutnya Dendy saat melihat sebuah kejutan.


"Taraaa!"


"Kau yang menghias semua ini?"


"Hehe, hanya iseng saja."


Telah terpampang ruangan yang indah, taburan bunga di atas bed cover dan juga lilin-lilin menyala yang membentuk tulisan 'love' Dendy dibuat speechless.


Jujur saja, Tica awalnya ingin memberikan kejutan untuk pria itu. Namun suasana hatinya berubah, ketika wanita hamil itu melihat dan mendengar dengan mata kepalanya sendiri, sang suami yang mengharapkan wanita lain dan juga dengan terang-terangan mengatakan bahwa tengah menunggu kehadiran wanita di masa lalunya.


.


.


.


.


TBC!


Vote like and komennya yah.

__ADS_1


__ADS_2