Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-63 Model rambut baru.


__ADS_3

"Tapi Sayang? Apa harus cukur botak?"


"Harus Mas!"


"Bagaimana kalau aku tidak mau? Sayang ayolah, aku malu jika harus cukur botak! Apa tidak ada syarat lain?"


"Ada!"


"Apa Sayang?"


"Cukur botak atau tidak ada jatah selama satu bulan?"


Deg.


Dendy seketika lunglai tidak berdaya ketika dua pilihan membuat dirinya dilema, jika ia memilih cukur botak dirinya tidak akan terlihat menarik lagi dan bagaimana jika istrinya tertarik pada pria lain? Tetapi jika jatahnya harus hangus selama satu bulan, Dendy juga tidak akan kuat.

__ADS_1


Akhirnya setelah melalui perdebatan yang panjang, di sinilah Dendy sekarang di sebuah barber shop ternama hanya untuk sekedar mencukur botak rambutnya. Ia benar-benar mendapatkan karma karena telah menghardik pria botak itu. Dendy hanya bisa pasrah ketika melihat senyum istrinya mengembar sempurna kala dirinya sudah tidak lagi memiliki satu helai rambut pun. Rambutnya plontos, ia bercermin dan bergidik melihat dirinya sendiri walau ia masih tampan dengan pesonanya.


"Kamu semakin tampan Mas! Sekarang aku tidak perlu takut akan ada yang menyentuh rambutmu lagi, karena aku melihat di drama kesukaanku rambut si pria disentuh oleh banyak wanita hanya karena pria itu memiliki rambut yang indah seperti milik kamu!" Ujar Tica di dalam mobil seraya menyentuh rambut suaminya dan merasakan kepala halus itu tanpa rambut, mungkin akan tumbuh beberapa Minggu ke depan.


"Apa?"


"Iya Mas!"


Apa Dendy tidak salah dengar? Rambutnya dipotong hanya karena drama sialan yang ditonton istrinya, ingin rasanya Dendy hancurkan tokoh pria yang ada di drama itu yang telah membuatnya kehilangan bagian berharga dari tubuhnya.


"Kamu selalu tampan dengan atau tanpa rambut, Mas." Tica dengan gemasnya mencium pipi Dendy dan bersandar di lengan pria itu yang tengah mengemudi seraya tersenyum. Ia relakan rambutnya botak asalkan istrinya bahagia, sekali-kali membahagiakan istri tidak ada salahnya, pikirnya. Toh rambutnya juga akan tumbuh lagi dalam beberapa Minggu ke depan.


"Ibu pulang, Sayang!!" Tica berteriak seraya berlari dan menghampiri Wila yang tengah menjaga kedua putranya bermain di area play ground. Dengan Dendy yang juga melakukan hal sama mencium kening kedua putranya. Tetapu semua pelayan yang ada di mansion dibuat tercengang dengan model rambut baru Dendy, ingin rasanya mereka tertawa tetapi nyali mereka masih belum seberani itu.


"Apa kalian lihat-lihat! Sana kerja, kalau tidak aku potong gaji kalian semua!" Semua pelayan langsung kembali mengerjakan pekerjaan mereka sembari menunduk takut. Dendy memang tampan dengan penampilan apapun tetapi tanpa rambut sedikit terlihat absurd. Benar kata orang, rambut adalah mahkota dan tanpa mahkota tidak akan indah, lihat saja sedikit keindahan telah berkurang jika rambut dihilangkan. Dan alhasil mendapatkan tatapan aneh dan juga lucu dari setiap orang. Sungguh menjengkelkan.

__ADS_1


"Mmaahhh...mmaahhh! Daadddaa...hahaha...." Evan tertawa terpingkal-pingkal kala melihat penampilan sang ayah yang tanpa rambut itu berbeda dengan Ethan yang justru terheran-heran.


"Daddy tampan kan, Sayang?" Ethan hanya mengangguk menjawab pertanyaan Tica tetapi tidak dengan Evan yang semakin terpingkal-pingkal kegirangan seraya menyentuh kepala Dendy dengan rasa penasaran.


"Mas, mereka sepertinya menyukai model rambut kamu?"


"Iya Sayang!" Dendy hanya diam membiarkan kepalanya menjadi mainan baru Evan yang sedari tadi tidak mau berhenti menguyel-nguyel dan mengusuk-ngusuk kepala plontos Dendy. Ia tidak tahu lagi bagaimana reaksi para karyawan dan asistennya nanti jika melihat dirinya tanpa rambut seperti ini.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC!


Vote like and komennya yah.


__ADS_2