
"Ini sudah waktunya!" Akhirnya setelah sekian lama menunggu, Karmila bisa melahirkan juga. Para perawat membawa bangkar Karmila menuju ruang bersalin dengan Jerry yang mengikuti dari belakang. Jujur, jantungnya berdegup kencang tak karuan melihat kondisi istirnya yang begitu kesakitan. Jika Jerry bisa, ingin sekali ia menanggung semua kesakitan itu asalkan istrinya tidak lagi berteriak kesakitan.
"Apa saya boleh masuk?"
"Silahkan, Tuan!"
***
"Siapa namanya, Honey?"
"Ainsley Fernando." Ujar Jerry.
Tercatat dalam catatan rumah sakit telah lahir seorang bayi cantik dari pasangan Karmila dan Jerry, bayi perempuan yang cantik dengan kulit putih sempurna seperti sang ibu. Mata hijau seperti sang ayah yang selalu menatap siapapun yang menggendongnya, seakan mata itu memancarkan cahaya putih bersinar aura yang kuat.
"Nama yang bagus." Karmila masih menatap Jerry yang berbinar penuh bahagia sembari menggendong sang putri yang lahir beberapa jam yang lalu itu ke dalam gendongannya. Ia begitu bahagia hingga perasaan ini tidak bisa dijabarkan hanya dengan kata-kata saja, Jerry sungguh tidak menyangka melihat pahatan sempurna sang putri. Sama persis seperti Karmila yang cantik, tetapi Jerry sangat yakin kalau mata itu adalah miliknya karena netra istrinya bukanlah hijau melainkan abu.
"Kamu sudah menelfon mommy dan Daddy?"
"Sudah Sayang, mereka bilang akan segera tiba."
Bayi mungil itu mulai mengulet dan merengek meminta sumber makannya dari sang ibu, Jerry memberikan putrinya pada sang ibu dan Karmila segera membuka sumber makanan itu.
"Terimakasih Sayang, untuk semua yang kamu berikan. Terimakasih karena telah bersedia memberikan rahimmu untuk menampung anak kita, terimakasih karena telah hadir dalam hidupku yang tidak akan pernah berwarna tanpa adanya dirimu." Jerry tiba-tiba saja mengungkapkan rentetan kalimat bermakna itu tepat di telinga istrinya. Dan Karmila tersenyum mengangguk seraya membalas ucapan suaminya.
"Sama-sama, Honey."
__ADS_1
Setelah beberapa menit akhirnya Baby Ley tidur, Jerry meletakkan putrinya di box bayi yang telah disediakan. Ia merangkak naik ke bangkar istrinya dan berbaring di sebelah Karmila, dengan senang hati wanita itu menerima dada suaminya sebagai bantalannya.
"Ingat kata dokter, jangan melanggar lagi."
"Iya Honey."
"Mana cucu grandma?" Tiba-tiba saja dari luar terdengar suara ibu Karmila yang datang bersama ayah Karmila. Pasangan paruh baya itu nampak membawa sebuah bingkisan cantik yang berisikan buah-buahan untuk putri mereka. Tanpa melihat putrinya, ibu Karmila terlebih dahulu menghampiri box bayi dan melihat wajah sang cucu.
"Aww! Dia lucu Mila, sangat mirip denganmu." Katanya, ia mengusap pipi merah bayi kecil itu seraya ayah Karmila juga melakukan hal yang sama.
"Iya Mom Dad!"
Inilah yang mereka nantikan, kehadiran seorang cucu. Di masa tua mereka, hanya Karmila yang mereka harapkan, karena hanya Karmila anak semata wayang yang mereka miliki.
"Siap Dad!"
Plup
"Eh apa Sayang?"
"Siap kau bilang! Luka jahitanku bahkan belum sembuh, Honey."
"Daddy hanya meminta kita untuk membuat yang banyak, Sayang! Bukan berarti kita harus membuat sekarang juga, bukan begitu, Dad?"
"Benar! Karmila memang mudah emosi. Lihat saja dia akan beruban."
__ADS_1
"Hehehe, Daddy sih!"
"Mila, Mom ingin dua cucu lagi."
"Siap Mom!"
"Honey!"
"Biarkan saja, Sayang. Apa susahnya membuat anak? Hanya tinggal modal ranjang kan?"
"Ish, mulutmu memang sama seperti mom dan Dad!"
"Hahaha..."
.
.
.
.
TBC!
Vote like and komennya yah.
__ADS_1