
Satu bulan sudah waktu yang Tica lalui tanpa sang suami di sampingnya. Hari-hari ia lewati sendiri hanya dengan bermodalkan uang yang Dendy berikan bulan lalu dan itupun akan segera habis karena semakin hari pengeluaran semakin banyak. Dengan meningginya harga barang-barang kebutuhan pokok, membuat uangnya semakin menipis. Dan sudah sebulan ini Tica mencoba untuk menghubungi Dendy, namun nihil tak ada satu pesan ataupun satu panggilan yang terjawab.
Dendy seakan lenyap ditelan bumi, tidak diketahui kabarnya. Tica tetap bersabar, bumil itu masih optimis bahwa pria yang ia cintai akan menjemputnya bulan depan. Karena ia telah berkonsultasi dengan Dokter Meysha dan ia boleh berpergian jarak jauh ketika usia kandungannya memasuki Minggu ke-15 atau bulan ke 4.
"Uangku sudah semakin menipis. Terlebih lagi aku tidak punya simpanan. Beberapa lembar ini tidak akan cukup untuk dua Minggu ke depan." Gumam wanita hamil itu dengan wajah murung. Uang memang bukan segalanya, tetapi segalanya menggunakan uang. Jika begini terus, Tica bisa mati kelaparan.
"Kemana dia? Kenapa tidak membalas pesanku? Sudah sejak lama aku mengirim pesan-pesan ini!"
Imbuhnya menatap kosong handphone yang ada di genggamannya memancarkan cahaya terang dengan wallpaper foto wajah pria tampan yang berstatus sebagai suaminya.
"Tidak, aku tidak boleh pesimis! Aku tidak boleh bergantung pada orang lain! Aku kan punya ijazah, aku juga bisa cari kerja." Tica bangun dari tempatnya, mencari sesuatu yang seingatnya masih ia simpan.
"Dimana kartu itu? Aduh ayo dong ketemu!! Giliran engga butuh ketemu, giliran butuh ilang begitu aja. Ngeghosting terus deh!"
Tica tak menyerah, ibu hamil itu terus menggeledah buffetnya. Dan akhirnya ia menemukan secarik kertas yang ia cari dan dianggapnya penting.
"Ini diaaa!"
Tica mencatat nomor seseorang di handphone-nya dan menekan tombol hijau.
"Hallo!"
("Hey, ada apa?")
Ujar seorang pria yang tidak lain adalah Recaz Hemezz. Bule lokal yang ia kenal di bandara.
"Aku butuh kerja! Ada lowongan tidak?"
Ujar Tica tanpa jaim, ia memang apa adanya. Tidak pemalu tetapi memalukan.
("Haha... Sangat bar-bar! Untukmu selalu ada, apa kau mau menjadi sekertarisku? Kebetulan sekertarisku baru beberapa hari lalu mengundurkan diri karena sudah menikah!")
__ADS_1
"Baiklah aku mau, besok aku taruh lamaran. Tapi ijazahku hanya SMA!"
("Tak apa, kau masuk lewat jalur dalam. Kau sudah tahu bukan alamat kantorku?")
"Ya, terimakasih Recez!"
("Kutunggu besok, datanglah pagi menjelang siang, biar aku sendiri yang melihat surat lamaranmu?")
"Siap bos!"
Tutt.
"Nak, dedek jangan rewel ya Sayang. Mami mau kerja, biar dedek engga kelaparan. Biar bisa beli apa yang dedek mau."
Malangnya nasib bumil satu ini, bergumam sendiri sembari mengusap lembut perutnya yang sedikit membuncit. Tica yakin ia pasti bisa memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa bergantung pada siapapun. Mungkin diluar sana suaminya sedang sibuk hingga tak sempat mengabari dirinya.
Drtt. Drtt.
"Halo Bu?"
("Halo, apa kabar?")
"Tica baik, Bu. Ibu dan ayah bagaimana?"
("Kami baik, dimana suamimu?")
Degg.
Inilah yang Tica khawatirkan, apa dirinya harus berbohong atau harus jujur. Ia tidak mau menambah beban pikiran ibunya jika ia berkata jujur. Dengan terpaksa, Tica harus kembali berbohong pada sang ibu, bahwa suaminya tengah bekerja di kantor.
"Suamiku lagi di kantor, Bu. Nanti malam baru pulang. Oh, ibu bagaimana kondisi ayah?"
__ADS_1
Karena seminggu lalu ibunya memberi kabar kalau penyakit jantung ayahnya kambuh. Pada saat itu Tica ingin sekali pulang dan menengok ayahnya, tetapi apa daya. Ia masih belum boleh berpergian jauh dan ibunya pun hanya bisa memaklumi keadaan putrinya.
("Ayah sudah semakin membaik.")
"Syukurlah!"
("Jika kau ada masalah, selesaikan dengan baik-baik. Jangan minggat atau kabur!") Firasat ibu mengatakan bahwa putrinya sedang dalam masalah. Firasat ibu terhadap anaknya memang tidak pernah salah, terbukti jika Tica memang tengah dilanda masalah.
"Iya Bu!"
("Jangan iya-iya saja. Kau itu otak dangkal!")
"Sekarang sudah lumayan dalam kok, Bu. Kemarin Tica gali pakai cangkul."
Anak dan ibu memang sama saja. Sama-sama sablengnya..
("Dasar tukang cangkul!")
Setelah beberapa menit melakukan panggilan bersama ibunya, Tica pun pamit untuk tidur siang. Begitupun sang ibu yang hendak mengurus ayahnya yang masih dalam pemulihan pasca sakit.
.
.
.
.
TBC!
Vote like and komennya yah.
__ADS_1