
Seorang wanita cantik tengah terlelap dengan indahnya menyelam alam bawah sadarnya yang membawanya terus berlari mencari jalan keluar untuk kembali sadar dan bangun dari pingsannya. Tica berada berada di sebuah ruangan yang mewah dengan ranjang berukuran king size serta berbagai pernak-pernik elegan di dalamnya. Design interior ruangan berwarna gold menambah kesan mewah ruangan tersebut.
"Emh! Ashhh!" Tica mengerjap, ia memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Seingatnya tadi ia di pukul oleh seseorang di bagian tengkuknya dan setelah itu dirinya tak mengingat apapun lagi karena semuanya berubah menjadi gelap gulita.
"Dimana aku?" Herannya kala melihat sebuah ruangan mewah dan ranjang yang tengah ditiduri olehnya.
Tica mencoba untuk bangun tetapi tubuhnya bahkan serasa mati rasa dengan kepala yang terus berdenyut nyeri. Tica terus meringis tetapi wanita berparas ayu itu masih belum menyerah terus mencoba untuk berdiri.
"Diamlah jangan bergerak."
Seorang pria berparas tampan yang melangkah dengan gagahnya tubuh kekar dan langkah tegap laksana seorang raja pemimpin kerajaan.
"Dimana putraku? Jangan bermain-main kau!" Sentak Tica dengan sarkas dan kasar. Wanita beranak dua itu begitu geram dengan sosok pria yang jelas berdiri tegap di hadapannya terlihat tengah menyiapkan senampan makanan lengkap beserta segelas air putih. Namun Tica tak peduli, karena yang menjadi pusat pemikirannya sekarang adalah putranya. Ia gelisah, khawatir putranya kenapa-napa.
"Makanlah dulu, Sayang. Kau masih belum makan sedari tadi." Pria itu dengan sabar mengarahkan sesuap nasi beserta lauk yang ada di atas sendok besi mahal. Tica bahkan enggan hanya untuk menoleh pada makanan itu, rasanya ia sama sekali tak memiliki nafsu untuk sekedar membuka mulutnya.
"Dimana putraku?" Sekali lagi nada dingin itu Tica lontarkan menyeruak masuk ke dalam telinga pria itu. Membuat hatinya seakan mulai terbakar, dirinya telah sesabar mungkin berusaha untuk memerhatikan wanita itu. Tetapi dengan tidak tahu dirinya wanita itu justru menolak kebaikannya. Darahnya mendidih, dadanya serasa panas ditikam besi panas yang meleleh terbakar api amarah yang semakin lama semakin menggelora.
"Jangan membuatku sampai memaksamu! Aku tidak sesabar yang kamu kira!" Sendok berisi sesuap nasi itu masih tetap melayang di udara tidak dihiraukan oleh Tica.
Prang!
Nampan tersebut melayang, piring dan gelas itu pecah berserakan di lantai marmer bercorak putih bersih itu. Makanan hangat dan air putih itu berserak tidak beraturan di lantai, sontak Tica mendelik tak percaya atas perlakuan lelaki di hadapannya itu.
"Selama kau tak mau makan, kau tidak akan bertemu siapapun. Akan tetap terukurung di sini sampai kau mau menurut titahku!"
Brak!
__ADS_1
Pria itu beranjak setelah menendang kursi yang tadi ia duduki dan membuat kursi itu terlempar jauh ke belakang. Suara keras itu berhasil membuat Tica menoleh dan menyadari kalau pria itu tidak bermain-main akan ancamannya. Tica segera bangun dengan tertatih-tatih menggapai daun pintu yang terletak enam meter dari ranjang tempatnya tidur.
"Bukaa! Brengsekk kau, bukaa! Aku tak sudi berada satu atap bersamamu, bukaa." Tica terus berteriak menggedor daun pintu yang terbuat dari lapisan kaca buram yang sengaja di buat setebal mungkin agar bisa tertutup dengan sempurna dan tidak tembus pandang dari luar. Percuma Tica berteriak karena ruangan itu kedap suara, tidak akan ada satu orangpun yang bisa mendengar suara teriakan Tica.
***
Beberapa jam Tica terdiam dalam kesendirian termenung sendiri memikirkan bagaimana nasib kedua putranya jika ia tidak ada di sisinya. Kedua putranya itu tidak akan bisa tidur tanpa Tica, wanita itu menjadi semakin gelisah tidak karuan.
"Tidak, ini pasti sudah malam. Aku harus bisa keluar dari sini, putraku membutuhkan aku! Aku harus bisa!" Tica berdiri, walau ia sama sekali tidak memiliki tenaga lebih untuk keluar dari ruangan itu, karena sedari tadi ia tidak diberi makan. Ingin sekali Tica mengumpati pria itu yang telah mengurung dirinya di ruangan tidak jelas itu.
Tica menilik sekitar, kemudian ia melihat ke arah pintu yang terbuat dari kaca, dan wanita itu yakin semua kaca itu pasti bisa dihancurkan. Ia pun melangkah mengambil apapun benda yang ada untuk digunakan sebagai pemecah kaca. Patung emas, ya miniatur patung yang terbuat dari emas itu pasti bisa menghancurkan kaca.
"Dapat! Patung ini berat, ini artinya bisa mengalahkan ketebalan kaca!" Tica terus berusaha melangkah meski kakinya sudah gemetar karena tenaganya telah terkuras habis untuk berteriak dan menggedor pintu tadi.
"Bisa Tica, kamu pasti bisa! Ingat, kedua putramu membutuhkan dirimu, mereka membutuhkanmu, ibunya!" Inilah perjuangan yang rela dilakukan oleh seorang ibu hanya untuk sekedar bertemu putranya dan menemani putranya untuk tidur, karena ibu muda itu yakin kedua putranya tidak tidur nyenyak tanpa dirinya. Perasaan keibuan dalam dirinyalah yang terus mendukung dan mendorongnya untuk melakukan semua ini. Hanya demi anak-anaknya.
"Huh!" Tica mendongak mengucapa secercah doa pada sang pencipta agar ia bisa bebas malam ini dan menemui sang putra. Tica bersiap mengambil ancang-ancang hendak melempar patung emas berbentuk manusia telanjang itu yang memiliki tinggi berkisar 140 centimeter dan berat berkisar 7 kilogram atau bahkan lebih. Lumayan berat tetapi Tica tak pantang menyerah.
Prang!
Patung itu terlempar tepat mengenai lapisan kaca tersebut. Membuat benda berat itu saling berbenturan dan menghadiahkan kehancuran untuk kaca tersebut. Tetapi sayangnya, lapisan kaca itu berserak melompat menancap di setiap bagian tubuh Tica yang tak sempat menghindar dari bahaya.
"Akhhhh.....!" Tica berteriak kesakitan sebelum akhirnya ia pingsan karena pecahan beling itu menancap tepat di beberapa titik di tubuhnya bahkan di pipi kanan dan juga dagunya. Lengan beserta kaki dan juga yang paling parah di kedua pundaknya.
Grep!
Lengan kekar itu berhasil menangkap tunuh lungali Tica yang hendak terbentur lantai. Jika saja tubuh itu sampai terbentur lantai, maka semua beling yang berjatuhan di bawahnya akan menancap di tubuh bagian belakang Tica. Pria itu begitu heran, kenapa Tica sampai melakukan hal senekat ini tanpa memikirkan resiko mengenai keselamatan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Ke...kem...ba...likan... Put...ra...ku!"
Whuss!
Ruangan mendadak gelap karena tejadi konslet pada lampu di ruangan itu. Karena pecahan beling tadi membuat lapisan listrik di ruangan tersebut menjadi kacau.
Prang!
"Siall!"
Lampu gantung yang tergantung di ruangan itu juga jatuh berserakan. Untung saja pria itu segera menghindar dengan Tica yang masih berada di gendongannya.
"Pelayan!!!"
Teriaknya berlari keluar ruangan menggendong tubuh lunglai Tica. Bahkan ia tak perduli pada luka sayatan di lengannya akibat menerobos masuk melalui celah kaca yang hancur tadi. Darah terus mengucur dari setiap permukaan kulit di tubuh Tica, bahkan kini tangan dan baju pria itu telah dipenuhi oleh darah. Terlebih lagi darahnya sendiri yang juga mengalir dari lengannya.
"Cepat sialan!!"
.
.
.
.
TBC!
__ADS_1
Vote like and komennya yah.
Nulisnya sampe ngeri saking ga kuatnya liat darah.