Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-42 Penyerangan di malam hari.


__ADS_3

Malam hari tiba dengan cepat langit gelap disertai dengan kicauan hewan malam, bulan telah menampakkan dirinya menyinari bumi agar tidak terkubur dengan kegelapan. Semua makhluk akan tidur di malam indah ini dengan badutan kehangatan dari selembar kain selimut atau bahkan dari tubuh pasangan masing-masing.


Kedua sejoli yang baru saja selesai melakukan olahraga panas mereka yang begitu menguras tenaga hingga keduanya bermandikan keringat disertai nafas yang turun naik tidak menentu. Percintaan kali ini sungguh memabukkan bagi kedua insan itu yang saling mereguk indahnya puncak kenikmatan yang telah mereka gapai bersama.


Jika sang pria begitu menikmati hingga tertidur dengan lelapnya di dekapan dada sintal wanitanya, berbeda dengan sang wanita yang masih berpikir hal yang ingin ia tanyakan pada prianya itu. Ia menilik sang suami yang nampaknya tertidur lelap, sangat menggemaskan seperti kucing penurut. Sangat berbeda ketika netra biru itu telah terbuka memunculkan aura kekelaman dari dalamnya.


"Mas." Ujar Tica perlahan membelai surai tebal nan hitam kecoklatan milik Dendy yang tengah menikmati dua benda favorit milik istrinya dengan menopangkan kepalanya di atas benda empuk itu. Sungguh cinta memang membawa kebahagiaan bagi mereka.


"Hmm?" Sahut Dendy tanpa menoleh, matanya masih terpejam seraya kembali meminta istrinya untuk mengelus rambutnya. Karena wanita itu berhenti sejenak, Dendy sangat suka dimanja oleh istrinya. Entahlah, seakan dirinya mendapat hujaman cinta yang ia inginkan dalam diri wanita cantiknya itu.


"Boleh aku tanya sesuatu?" Dendy mengangguk masih dengan posisi yang sama.


"Tadi Mas kemana? Aku ke kantor Mas engga ada. Kata resepsionis, Mas kan lagi cuti dan digantikan oleh orang kepercayaan Tuan Brydan, kalah engga salah namanya Alex."


Deg!


Dendy tertohok, sekarang ia benar-benar mati langkah. Dendy tahu benar istrinya bukan wanita bodoh, kini terbukti wanita itu tidak percaya begitu saja tanpa adanya bukti.


"Emh... Itu Sayang..." Dendy gugup bukan main melihat tatapan istrinya sudah mulai berubah seakan curiga. Sepertinya ia tidak bisa mengelak lagi dengan alasan apapun. Terlebih lagi Tica sangat tidak suka akan kebohongan, ia akan dalam masalah sekarang.


"Mau jujur atau masih mau ngelak?"


Deg.


Lagi-lagi ucapan istrinya begitu menohok hingga Dendy tidak lagi memiliki kesempatan untuk bahkan mencari alasan yang masuk akal. Dendy merubah posisi seraya menempelkan wajahnya di perut datar istrinya dan menggesek hidungnya di sana. Tica paham suaminya itu tengah merayu agar dirinya tidak marah karena tahu kebohongan Dendy.


"Maafin Mas, Sayang!" Ujarnya parau. Masih tetap menggesek wajahnya di perut datar Tica. Hingga Tica merasa geli dan barulah Dendy mengehentikan kegiatannya itu.


"Aku akan maafin Mas, kalau Mas mau jujur, sebenarnya apa yang Mas sembunyikan."


"Sebenarnya... Mas tengah mencari bukti untuk menjebloskan wanita psycho itu ke dalam sel seumur hidupnya."


"Maksud Mas? Bukti apa lagi, bukankah Mas sudah menemukannya?"


"Ya, Mas menemukan salah satunya. Tetapi Mas harus menemukan, kepada siapa wanita itu membeli obat berdosis tinggi yang digunakannya untuk membunuh ibu. Mas sudah menemukan klinik tempat dia membelinya, dan ternyata itu klinik ilegal, Sayang."


"Sekarang tinggal apa?"


"Tinggal mencari dokter yang memilikinya klinik itu yang telah dikabarkan lama hilang. Saat Mas menemukan rumah keluarganya kemarin, ibunya justru mengusir Mas. Ibunya seperti memiliki trauma. Wajahnya langsung berubah sedih saat Mas menyebut nama Dokter itu yang merupakan putrinya."


"Kenapa Mas menyembunyikan ini?"

__ADS_1


"Mas hanya tidak ingin kamu terbebani, Sayang. Lagipula, kamu harus fokus untuk merawat si kembar."


"Mas, kamu anggap aku apa?"


"Kenapa kamu menanyakan pertanyaan yang jawabannya sudah jelas?"


"Kalau sudah jelas aku ini istri Mas, lalu kenapa masih harus menyembunyikan masalah dari aku. Bukankah aku juga berhak tahu untuk itu?"


"Mas kan sudah memberitahu alasannya. Maafin Mas, Sayang."


"Oke sekarang gini, kalau Mas ada di posisiku, tidak diberitahu apapun mengenai masalah yang ada oleh pasangan Mas sendiri, bagaimana perasaan Mas?"


"Tentu saja Mas tidak suka."


"Mas tahu jawabannya, jadi mulai saat ini bisakah berjanji untuk terbuka dalam hal apapun."


"Janji Sayang!" Dendy tertunduk sedih, ia sebenarnya juga tidak mau berbohong kepada istrinya. Tetapi keadaan telah memaksanya untuk berbohong pada wanita itu yang notabenenya adalah istrinya sendiri.


"Besok, aku akan membantu Mas. Antarkan aku ke rumahnya, aku pastikan ibunya pasti akan luluh dengan perasaan seorang wanita."


"Beneran Sayang? Kamu mau bantu?"


"Tentu! Makanya Mas kalau ada masalah itu cerita!"


"Hmhm apa?"


"Ituloh yang dibuka, dijilat, terus dicelupin!"


"Besok aja, kamu ini robot yah engga ada capeknya!"


"Mas, besok aku mau ketemu Recaz. Dia pasti bingung cari aku sama si kembar! Kamu main culik aja!"


"Tidak!"


"Masss!!!"


"Aku akan menemani!"


Akhirnya Dendy hanya tidur dengan kondisi keduanya yang benar-benar naked tanpa busana di balik selimut. Hingga terasa jelas pusaka pria itu menyentuh perut Tica karena mereka saling mendekat dengan Dendy yang menyembunyikan wajah Tica di dada kekarnya.


***

__ADS_1


"Persiapkan semuanya! Sekarang kita akan bergerak, sampai matipun aku tidak akan diam melihat dia bahagia di atas penderitaanku!"


"Baik Nona Boss!"


Seorang wanita psycho itu telah bersiap dengan mantel kulit berwarna hitam beserta outfit berupa celana Jogger hitam. Semua anggotanya juga telah siap untuk melakukan penyerangan malam ini, dimana mereka akan bekerja sesuai tuganya masing-masing. Karena targetnya kali ini adalah dua bayi tampan milik Tica dan juga Dendy. Karena wanita itu yakin, kedua bayi itu adalah kelemahan dari Tica dan Dendy.


Mobil yang mereka kendarai melaju menuju mansion Dendy. Dimana mansion itu dijaga dengan ketat, tetapi di tengah malam seperti ini semua orang mungkin sudah terlelap dalam indahnya hasutan mimpi. Maka ini adalah waktu yang, ia harus bertindak sebelum Dendy menindak habis dirinya dan juga anggotanya.


"Sampai Nona Boss!"


"Kalian lakukan sesuai dengan rencana. Jika sampai gagal, nyawa kalian taruhannya!"


"Baik Nona Boss!"


Seketika semua anggota berpakaian serba hitam dengan topeng yang menutupi wajah mereka itu berpencar mengelilingi mansion besar itu. Sebagian dari belakang, dari depan dan dari samping. Mereka masuk melalui segala penjuru. Tanpa mereka ketahui bahwa penjagaan di mansion itu begitu ketat dengan banyaknya alat-alat canggih dan juga mata-mata Dendy yang tidak terlihat alias menjaga dari jarak jauh.


"Tuan! Mereka bertindak dengan masuk dari segala penjuru!"


(...)


"Baik! Kami telah menyiapkan semua yang Anda minta! Beberapa setrum yang akan berbahaya jika diinjak dan juga laser mematikan serta beberapa panah beracun!"


"Bagus! Kau jangan habisi mereka, tetapi ikat mereka semua dalam kondisi hidup kita akan membawa mereka ke pihak berwajib!"


"Baik Tuan!"


Dendy dengan santainya memakai piyamanya setelah menelfon anggota hitamnya yang berjaga tanpa diketahui oleh siapapun.


Cup!


Ia segera pergi setelah mengecup lama dahi sang istri yang sepertinya sudah terlelap begitu cantik dan imut di matanya.


.


.


.


.


TBC!

__ADS_1


Vote like and komennya yah.


__ADS_2