Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-51 Kabar gembira.


__ADS_3

Seorang wanita cantik yang begitu indah dipandang dengan style-nya yang mengagumkan, dress selutut berwarna putih dengan motif bunga kecil dan jug sebuah pita merah yang melekat indah di rambutnya yang sengaja ia gerai dibumbui dengan sepatu flat berwarna krem senada dengan tas selempang yang ia bawa.


"Perfect!" Ujar Tica menatap dirinya di cermin seraya membawa tasnya dan keluar dari kamarnya. Pagi ini ia hendak ke kantor suaminya bersama dengan si kembar dan juga Wila.


Mobil melaju membelah jalanan ibu kota yang tidak begitu padat karena hari memang sudah mulai siang terlebih lagi matahari menjadi sedikit menyegat kulit.


Setelah sampai di geudng pencakar langit milik Brydan itu, Nadya turun seraya membawa bayinya untuk menemui suaminya.


"Mas?"


Deg!


Baru saja dirinya membuka pintu sudah disuguhkan dengan pemandangan penuh kegeraman. Seorang wanita cantik ada di dalam ruangan suaminya dan hanya mereka berdua. Wanita dengan pakaian begitu minim dan juga gincu bibir yang menyala merah serta dadanya yang menonjol membuat Tica jijik melihat penampilan wanita itu. Walau ia sadar kalau ini bukan di negaranya jadi penampilan seperti hanya wajar untuk masyarakat.


Wanita itu nampak berbincang serius dengan Dendy bahkan mereka begitu dekat posisi wanita itu mungkin hanya 1 meter dari Dendy. Tica masih saja mengintip dari celah pintu yang sedikit ia buka, sepertinya pembicaraan mereka hanya mengarah pada pekerjaan wanita itu mencoba untuk berpikir positif.


Setelah beberapa saat, wanita cantik itu akhirnya keluar dari ruangan suaminya dan Tica masuk bersamaan dengan si kembar dan juga Wila yang mendorong kereta si kembar.


"Sayang? Oh anak-anak Daddy yang tampan! Do you wanna play with Daddy, boys?" Dendy beranjak merentang tangannya untuk merengkuh kedua putranya dan mengeluarkan dari kereta bayi. Ia meminta office boy untuk membuatkan minuman untuk mereka.


"Tadi itu siapa, Mas?"


"Yang mana, Sayang?" Sahut Dendy masih dengan bermain-main bersama si kembar sedangkan Wila keluar untuk berjalan berkeliling sekitar karena dia tidak mau mengganggu keluarga majikannya.


"Perempuan barusan yang memakai rok mini?"


"Oh itu sekertaris aku! Dia juga yang aku percaya saat kita berlibur ke Indonesia!" Sahut Dendy dengan enteng semakin membuat Tica menjadi was-was. Terlebih lagi wanita itu terlihat begitu seksi dan anggun tidak seperti dirinya yang apa adanya.


"Oh! Apa dia cantik?"


"Iya, memang kenapa , Sayang? But you're the most beautiful and gorgeous women in the world, honey!" Dan sontak Tica bersemu merah sepertinya suaminya telah peka kemana arah pembicaraannya. Dendy melirik istrinya yang masih saja cemburu, walau ia tidak akan pernah bisa berpaling ke lain hati.


"Apa sih, Mas!"

__ADS_1


"Jangan berpikir berlebihan! Pakaian masyarakat di sini dan di Indonesia itu beda. Kalau di sini pakaian itu wajar karena itu formal biasa saja. Dia wanita baik-baik, Sayang. Aku sudah tahu latar belakangnya, karena setiap pekerja di sini sudah menceritakan latar belakang mereka masing-masing!" Dendy menjelaskan dengan rinci supaya tidak akan ada kesalahpahaman yang timbul dan membuat keretakan untuk rumah tangganya.


"Oh gitu! Okey.."


"Sayang, apa kamu sudah makan siang?"


"Sudah, Mas!"


Dendy membiarkan putranya bermain di tempat khusus yang sengaja ia buat di dalam ruangannya supaya keluarganya memiliki ruang saat mengunjungi kantor. Dendy kembali berkutat dengan tumpukan berkas yang akan menjadi untung untuk perusahaan, Tica hanya diam saja seraya mengawasi si kembar dan sesekali melihat Dendy bekerja.


"Mas, aku kok engga enak badan ya?" Entah mengapa dua hari ini dirinya merasa begitu pusing dan juga sesekali merasa kamarnya kurang nyaman dengan bau yang tidak enak.


"Istirahat!" Dendy menuntun istrinya ke ranjang di ruangan khusus, ia membaringkan Tica sembari mengecup Istri tercintanya.


"Apa kamu kerja berlebihan?"


"Engga Mas! Aku engga kerja dua hari ini karena aku cuti kurang enak badan." Ujarnya lemas.


"Aku akan panggilkan dokter wanita." Dendy mengambil handphonenya dan menelpon sekertaris tadi agar segera memanggil dokter wanita untuk istrinya.


"Apa benar dengan Nyonya Tica Maharani Faresh?" Tanya dokter dan diangguki oleh Tica. Dokter itu memeriksa beberapa titik di tubuh Tica dan seketika wajahnya berubah tersenyum seraya menatap Dendy penuh makna. Pria itu sedari tadi berada di sebelah Istrinya dengan si kembar yang ia biarkan bermain di bawah bersama Wila yang ia telfon agar segera kembali.


"Dok? Istri saya kenapa?" Tanya Dendy dengan tidak sabaran, ia ingin tahu apa yang terjadi pada sang istri karena dokter itu hanya tersenyum sedari tadi sembari menata kembali alat-alat medisnya ke dalam tas yang ia bawa. Membuat Dendy menjadi semakin penasaran dibuatnya.


"Tidak terjadi hal buruk pada Nyonya Tica, hanya saja..."


"Hanya saja apa, Dok?"


"Nyonya Tica tengah hamil."


Dendy tercengang tak percaya. Dan dokter kembali mengatakan kalau Tica memang hamil. Pria itu senang bukan main, ia langsung mengecup seluruh bagian wajah istrinya sembari mengucapkan kata terimakasih berulang-ulang. Tica mengucao syukur begitu banyak, ini adalah harapan dia dan suaminya akhirnya terkabul.


"Terimakasih Tuhan! Terimakasih Sayang! Aku senang sekali, akhirnya jadi kenyataan!"

__ADS_1


"Sama-sama Mas!"


"Halo!"


"Untuk berita bahagia bahwa istriku tengah hamil, aku ingin kalian bagikan sebuket bunga dan satu pack coklat serta bingkisan cantik kepada seluruh karyawan yang tengah hamil. Baik yang cuti ataupun yang masih aktif di kantor!" Dendy tak segan untuk menelfon sekertaris agar segera membagikan bingkisan sebagai tanda ucapan syukur mereka atas karunia yang Tuhan berikan.


"Sayang, mulai sekarang kamu engga usah kerjain apapun! Jangan membuat kandungan kamu dalam bahaya, sekarang jangan bekerja lagi! Kalau kamu masih bekerja aku akan sita semua fasilitas kerja kamu!"


"Iya Mas, tapi kan aku kerja cuma dua jam di rumah. Engga akan lelah kok."


"Engga ada bantahan! Cuti kerja atau berhenti kerja?"


"Baiklah aku cuti!"


"Selamat Nyonya!"


"Terimakasih Wila!"


Kebahagiaan tengah menyelimuti hati Dendy dan Tica. Keluarga kecil itu begitu bahagia mendengar kabar yang baru saja tersampaikan itu. Berharap mereka bisa menjaga calon anak mereka dengan baik dan juga memberikan kasih sayang cukup untuk tumbuh kembang si kembar.


Terimakasih Tuhan! Telah memberikan aku kebahagiaan yang berlimpah ini dengan istri dan anak-anak yang sempurna. Aku berharap akan seterusnya harmonis dengan penuh cinta kasih di dalamnya. Aku mencintaimu istriku! Dan juga Daddy mencintai kalian Boys!


"I love you, Sayang!"


"I love you too, Mas!"


.


.


.


.

__ADS_1


TBC!


Vote like and komennya yah.


__ADS_2