
Setelah sampai di rumahnya, Tica menaruh barang-barangnya di kamar pribadinya. Sang ibu dan ayah telah menunggu dirinya di ruang tamu bersama dengan Recaz.
"Tic, gimana keadaan cucu ayah sama ibu?"
Tanya Ayah Tica sembari mengelus perlahan perut buncit putrinya.
"Baik Yah! Dan Ayah juga dapat dua sekaligus!"
Sahut Tica tersenyum ke arah ayah dan ibunya.
Ayah dan ibu sontak berbinar senang dan refleks memeluk putrinya bersamaan. Recaz tersenyum melihat keharmonisan keluarga Tica, karena ia masih belum melihat kebar-baran keluarga kecil itu.
"Dia siapa Tic?"
"Oh ya Bu, Ayah! Kenalin beliau atasan sekaligus sahabat Tica. Namanya Recaz."
"Pak Ibu." Recaz menyalami tangan kedua orang tua Tica dengan sopan.
"Nak Recaz, maaf putri kami merepotkan." Ujar Ayah yang merasa tidak enak kepada Recaz. Pria tampan itu hanya tersenyum dan membalas dengan gelengan. Tica sama sekali tak merepotkan dirinya.
"Tic, ganteng pol iki loh! Mas Bule asal dari mana?"
Mendengar dirinya disebut demikian, sontak Recaz terkekeh pelan. Wajahnya memang menurun dari sang ayah yang asli orang Amerika. Dengan netra hijau dan rambut blonde disertai dengan tubuh yang tinggi kekar, siapa yang tidak akan terpesona dengan ciptaan Tuhan yang satu itu. Ditambah lagi kekayaan yang dimilikinya membuatnya tenar dan dikenal di kalangan pebisnis muda yang sukses.
"Ibu bisa saja, saya asal Amerika, Bu. Ibu saya dari Indonesia tanah Jawa dan ayah saya asli berkebangsaan Amerika."
"Tic, sikat!"
"Ibu jangan bar-bar, main sikat-sikat aja. Mentang-mentang ada yang bening, Tica punya suami, Bu! Lagian kita cuma sekedar rekan kerja!" Sahut Tica yang tak terima ibunya menjodohkan dirinya dengan Recaz, jelas-jelas ia sudah memiliki suami. Walaupun tak dianggap.
"Tapi entah kenapa saya jadi teringat ibu saya."
__ADS_1
"Sekarang ibunya Nak Recaz dimana?"
"Di Amerika, Bu. Bersama ayah, karena ayah memiliki beberapa perusahaan di sana jadi beliau berdua hanya satu tahun sekali mengunjungi Indonesia."
"Oh!" Ibu Tica manggut-manggut mengerti.
Mereka pun terus mengobrol hangat layaknya keluarga. Recaz merasa bahagia berada di tengah-tengah keluarga Tica yang begitu hangat dan harmonis. Sama seperti keluarganya, ibu Tica mengingatkan dirinya pada sang ibu.
Recaz pamit untuk pulang setelah dua jam bercengkrama. Ia akan datang beberapa hari lagi untuk mengunjungi Tica, jika jadwalnya tidak padat. Dan Tica akan cuti untuk tiga bulan ke depan.
Dan kini waktunya sang ibu untuk mengintrogasi Tica, kenapa putrinya itu datang ke kampung bukan bersama suaminya. Lalu dimana sebenarnya suami Tica, kenapa pria itu tidak berada di samping putrinya. Padahal pria itu telah berjanji padanya untuk selalu menjaga sang putri.
"Duduk!"
"I..iya Bu!
"Jujur pada ibu sekarang. Kemana suami kamu sebenarnya, ingat Tica! Ibu ini tahu kamu berbohong atau jujur pada ibu, ibu tahu perasaan putri ibu jadi ibu mengharapkan kejujuran kamu!"
Tica tak kuat, ia lelah jiwanya lelah. Ia ingin bercerita semuanya, dan hanya pada wanita yang melahirkannya itu ia bisa mencurahkan segala kesedihan dan semua masalah yang menimpanya. Ia mendekat dan masuk ke dalam rengkuhan hangat ibunya. Tica, wanita itu menangis tersedu-sedu di belahan dada sang ibu. Tak ada anak yang bisa berkata bohong pada ibunya, wanita yang jelas memiliki hubungan batin dengannya dan bisa merasakan apa yang anaknya rasakan.
"Ti...tica lelah, Bu! Hiks... Di..dia pergi..hiks, Ti...tica engga ku..kuat hiks!"
Ibu tetap diam, sebisa mungkin ibu tidak menangis. Ibu berusaha menenangkan putrinya dengan mengelus punggung sang putri. Ibu mana yang tidak sakit ketika melihat putri yang selama ini ia rawat dan ia sayangi disia-siakan oleh seorang pria yang bahkan baru masuk dalam kehidupan putrinya.
Setelah Tica sedikit tenang, ibu melepas rengkuhan dan meminta Tica untuk bercerita sejujurnya.
"Ceritakan sejujurnya pada ibu."
"Jadi begini, Bu. Hiks... Tujuh bulan yang lalu, dia pamit padaku untuk pergi ke Amerika. Dia berjanji akan menjemputku setelah usia kandunganku empat bulan. Hiks... Hiks..., Tica engga kuat, Bu!"
Jika sudah begini, Ibu tak bisa memaksa Tica untuk bercerita. Mungkin bumil itu butuh beberapa saat menenangkan diri.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang istirahatlah. Jangan pernah menangis lagi, ibu disini bersama kamu."
"Iya Bu!"
"Dan ayah juga di sini, Nak!"
Degg.
"A..ayah?"
Tica seketika bergetar ketakutan. Ayahnya paling tidak suka jika dirinya menangis, ayahnya pasti akan langsung marah dan mendatangi siapapun yang membuat putrinya menangis. Apalagi kondisi kesehatan ayah yang masih belum stabil, membuat Tica tidak ingin bercerita kepada sang ayah supaya pria itu tidak terbebani dan tidak banyak berpikir. Tica tidak mau ayahnya sampai drop lagi.
"Maafkan Tica ayah! Hiks."
"Bangunlah Nak, kamu kuat! Kamu anak ayah, kita rawat cucu-cucu ayah sama-sama. Jangan lagi berharap pria itu!"
"Tica sayang ayah ibu!"
Keluarga kecil itu berpelukan bahagia, memberi dukungan untuk gadis malang yang tengah dilanda masalah. Tica begitu merasa bersyukur telah terlahir dari rahim ibunya dan memiliki ayah seperti ayahnya. Yang selalu menyayangi dirinya dan selalu menunjukkan kepadanya pahit dan manisnya hidup yang akan ia tempuh dan akan menguatkan mentalnya.
Aku mencintai kalian, Ayah Ibu!
.
.
.
.
TBC!
__ADS_1
Vote like and komennya yah.