
Zavan yang mendapat pertanyaan dari Aditya, ikut duduk di sebelahnya.
"Liyan lagi istirahat, kemarin dia kecapean. Sedikit demam." Jawab Zavan beralasan.
"Pasti ulah mantan suaminya yang memaksa dia jalan-jalan. Memang itu orang, gak punya perasaan." Ucap Aditya teringat dengan Devan, perasaannya bertambah dongkol.
"Bukan, tidak ada kaitannya dengan Devan. Memang dari awal sudah dilarang, tapi dia bandel. Ada untungnya juga sih, dia mulai terlihat ceria." Jawab Zavan yang tidak ingin Aditya semakin geram karena membicarakan soal Devan.
"Boleh aku lihat kondisinya Liyan?" tanya Aditya.
Sejenak Zavan diam.
"Boleh, ada di kamar. Biar Zavan yang akan mengantarkan kamu ke kamarnya Liyan." Jawab Tuan Boni.
Kemudian, mengarahkan pandangannya ke arah Zavan.
"Zavan. Antar Aditya ke kamarnya Liyan." Perintah dari ayahnya.
Zavan yang tidak mempunyai pilihan lain, pun mengiyakan. Kini, Zavan sendiri tidak bisa melarangnya, lantaran takut jika Aditya mencurigainya. Dengan terpaksa, Zavan mengiyakan.
Liyan yang ada di dalam kamar yang tengah tiduran dengan santai, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Siapa?" tanya Liyan dari dalam yang tengah tiduran.
"Kakak sama Aditya." Sahut Zavan dari luar.
"Masuk aja." Kata Liyan dan menekan tombol otomatis untuk membuka pintu.
Liyan yang mengetahui jika Aditya bersama kakaknya, pun memilih untuk tetap berbaring di tempat tidurnya.
"Hei, Liy. Gimana kabar kamu? aku dengar kamu lagi gak enak badan, kamu sakit?" Sapa Aditya.
Liyan segera membeberkan posisinya, dan tersenyum tipis.
"Aku cuma kecapean aja, tapi udah agak mendingan kok. Oh iya, kamu sama siapa kesini?"
"Sama Papa aku. Katanya udah lama gak pernah bertemu, jadi mumpung ada waktu, Papa aku ngajak aku ke sini. Karena aku tahu di rumah ini ada kamu, mana bisa aku abaikan."
"Yena gak ikut?" tanya Liyan basa-basi.
"Yena gak bisa ikut, katanya lagi sibuk mempelajari soal kerja di kantor. Soalnya mulai besok, Yena sudah mulai kerja. Jadi, aku minta sama dia untuk belajar dengan sungguh-sungguh." Jawab Aditya menjelaskan alasannya.
"Liy, Kakak tinggal dulu ya. Kalian kalau ngobrol, ngobrol saja." Ucap Zavan yang tiba-tiba merasa gak enak.
Namun, tetap saja, Liyan tetap diawasi lewat CCTV yang ada didalam kamarnya.
"Kak."
"Sama Aditya, bukan sama makhluk astral. Jadi, gak usah lebay. Tuh, lihat, ada CCTV." Ucap Zavan dengan terang-terangan sambil menunjuk ke arah CCTV yang ada di sudut ruangan bagian atas.
Aditya yang dapat melihat CCTV yang nempel di pojok ruang kamarnya Liyan, terasa risih saat dirinya seperti tengah dimata-matai.
"Tenang saja, aku gak bakal gigit kamu." Ucap Aditya yang kini tengah bicara.
Liyan tersenyum tipis mendengarnya. Zavan sendiri bergegas untuk keluar dari kamarnya.
Aditya tidak peduli dengan kamera CCTV yang ada didalam kamar, setidaknya dia bukan lelaki pecundang.
"Eh, tunggu. Liyan, kamu dipanggil Papa, Aditya juga. Orang tua kalian, masing-masing memanggil kalian." Ucap Zavan yang diminta untuk memanggil adik perempuannya, juga Aditya.
Karena tidak lagi bisa untuk mengelak, mau tidak mau, Liyan mengiyakan dan segera keluar dari kamarnya. Aditya yang sebenarnya ingin mengutarakan niatnya, pun harus gagal saat dirinya mendapatkan momen yang tepat, pikirnya.
Ketika mereka berdua sudah berada di ruang tamu, Aditya dan Liyan sama-sama tengah duduk saling berhadapan.
"Begini, Liyan. Tuan Permana datang ke rumah kita ini, ada tujuan lain. Apakah kamu siap untuk mendengarkannya?"
Sebelum Tuan Permana memberinya sebuah pertanyaan kepada Liyan, Tuan Boni bertanya terlebih dulu kepada putrinya perihal soal pertanyaan yang akan Tuan Permana berikan.
"Tujuan, tujuan apa itu, Pa?"
Liyan balik bertanya karena penasaran.
"Begini Nak Liyan, kedatangan kami ini yang tidak lain untuk melamar kamu atas nama Aditya. Kabar yang diterima, Aditya mencintaimu, benarkah? apakah kamu bersedia untuk menerima lamaran dari Aditya?"
Liyan langsung mengarahkan pandangannya ke arah Aditya. Pertanyaan yang cukup rumit.
__ADS_1
Liyan yang tidak tahu harus menjelaskannya apa, sejenak dirinya diam.
"Em- gimana ya, sebenernya ...."
"Sebenarnya apa, Liy? jangan bilang kalau kamu memilih Devan, benarkah?"
Liyan yang mendengar tebakan dari Aditya, kini menoleh ke arah kakaknya, jalan satu-satunya untuk mendapatkan solusi.
Zavan yang seperti dimintai untuk memberinya solusi, justru cuma meninggikan alisnya. Liyan yang merasa geram, itu sudah pasti.
"Liyan, kok diam?"
"Em- gimana ya jelasinnya. Sebelumnya aku mau minta maaf sama kamu, Dit. Aku- aku gak bisa- em- nerima lamaran dari kamu. Maaf. Aku benar-benar minta maaf. Aku-"
"Sudah, cukup. Gak perlu kamu jelaskan lagi padaku, aku tahu kok. Kamu masih mencintai mantan suami kamu, 'kan? aku gak maksa, setidaknya aku sudah berusaha dengan caraku untuk mengutarakan perasaan ku sama kamu. Terima kasih jawabannya." Ucap Aditya penuh kekecewaan.
Liyan menatap wajah kekecewaan dari Aditya, membuatnya merasa bersalah. Namun, perasaan tidak dapat dipaksakan. Dengan berat hati meski melukai perasaan orang lain, Liyan menolaknya.
"Aku minta maaf." Jawab Liyan yang langsung menunduk.
Tuan Permana yang melihat putranya ditolak lamarannya, merasa sakit hati ketika anaknya seolah tidak berharga.
"Tuan Boni, saya ingin berbicara empat mata dengan Anda, apakah Anda bersedia?" tanya Tuan Permana.
"Saya bersedia. Mari, ke ruangan privasi." Jawab Tuan Boni mengajak Tuan Permana untuk ikut ke ruangan privasi.
Aditya yang mengerti maksud dari ayahnya, langsung menoleh.
"Pa, sudah, Pa, jangan menambah masalah." Bisik Aditya yang tidak ingin ayahnya meluapkan emosinya.
Meski ingin merebut Liyan, tetapi hati kecilnya tidak ingin merusak suasana hati perempuan yang dicintainya.
"Diam, kamu." Jawab Tuan Permana dengan suara lirih.
Tuan Boni tersenyum.
"Mari, silakan." Ucap Tuan Boni dengan santun.
Tuan Permana tidak menanggapi putranya, memilih untuk segera berbicara empat mata dengan Tuan Boni, ayah dari Liyan.
"Terima kasih." Jawab Tuan Permana dan masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Silakan duduk, Tuan." Ucap Tuan Boni mempersilakan tamunya untuk duduk.
Setelah itu, mereka berdua duduk saling berhadapan.
"Katakan, apa yang ingin Tuan bicarakan?"
"Maaf. Saya merasa tidak terima atas penolakan dari putri Anda. Apa Anda lupa dengan apa yang sudah pernah saya lakukan demi perusahaan Anda, Tuan?"
Tua Boni tersenyum mendengarnya.
"Saya tahu soal itu, Tuan. Tapi, untuk soal pilihan siapa yang ingin dijadikan suami oleh putri saya, dengan tegas saya mengatakan, itu hak pribadi putri saya. Karena saya tidak akan mencampuri urusan pribadinya." Jawab Tuan Boni dengan tegas.
"Orang tua macam apa, Anda ini. Membiarkan putrinya bersama lelaki yang salah. Apa Tuan tidak menyesal, putrinya menikah dengan lelaki yang sudah jelas tidak mempunyai apa-apa lagi." Kata Tuan Permana yang mulai emosi.
Tuan Boni justru tersenyum mendengar perkataan dari Tuan Permana.
"Saya tidak akan pernah salah dalam menentukan pilihan untuk putri saya, apa lagi menyesal, saya tidak akan pernah menyesalinya. Soal Tuan yang sudah membantu saya, bukankah saya sudah mengembalikan dengan jumlah yang lebih? juga nyawa Tuan yang hampir saja melayang, telah diselamatkan oleh putra saya? apakah Tuan sudah lupa? semua sudah impas jika Tuan ingin bermain dengan perhitungan."
Tuan Permana yang merasa disudutkan, merasa malu sendiri. Mau tidak mau, hanya bisa diam.
"Ya sudah, semua sudah impas."
"Tuan Boni tersenyum melihat ekspresi Tuan Permana yang terlihat malu.
"Saya doakan, semoga Aditya segera menemukan calon istri yang jauh lebih baik dari putri saya. Karena saya sadar, putri saya banyak kekurangan. Jadi, saya menyadari akan hal itu. Sekali lagi, terimakasih sudah mau datang ke rumah kami." Ucap Tuan Boni.
Tuan Permana tidak bisa berkata-kata apa lagi.
"Kalau gitu, saya mau langsung pamit pulang. Saya anggap, semua sudah selesai. Permisi." Jawab Tuan Permana yang langsung pamit pergi.
"Sama-sama." Ucap Tuan Boni.
Setelah itu, Tuan Permana bergegas keluar dan mengajak putranya untuk pamit dan pulang.
__ADS_1
"Ayo, kita pulang. Urusan kita sudah selesai. Permisi." Ucap Tuan Permana dan menarik tangan miliknya Aditya.
"Pa, tapi, Pa."
Dengan susah payah, Aditya mengikuti langkah kaki ayahnya yang begitu gesit. Belum juga pamit dengan Liyan, Aditya ditarik paksa oleh ayahnya.
Saat sudah di dekat mobil, Aditya langsung melepaskan tangannya.
"Pa, maksudnya ini apa? Papa berantem sama ayahnya Liyan?"
"Lupakan. Lebih baik kamu lupakan si Liyan itu. Ayo kita pulang. Gak ada gunanya kita berada di rumahnya Tuan Boni. Ayo, pulang." Jawab Tuan Permana yang memaksa putranya untuk segera masuk kedalam mobil.
Aditya yang belum mengerti permasalahannya, pun hanya bisa nurut dan masuk kedalam mobil.
Berbeda di tempat lain, Devan yang tengah berada di rumah kosan, terasa sepi saat tinggal sendirian.
Sambil rebahan, Devan menyibukkan diri dengan ponselnya. Alih-alih untuk menghilangkan kejenuhan, Devan menghubungi Liyan.
Berkali-kali mencoba untuk menghubungi mantan istrinya, tetap saja tidak ada jawaban darinya.
"Kemana dia? apa jadi ilfil setelah melihat fotoku sama Zavan? mungkin sih iya. Secara aku bukan lagi orang kaya, tajir, aku hanya orang ngangguran, sibuk aja hanya kerja di bengkel. Cuma jadi montir. Maafkan aku Liy, aku memang belum siap untuk terjun di perkantoran. Bukannya kenapa, aku masih ingin mempertimbangkannya. Semoga kamu dapat mengerti dengan kondisi aku yang saat ini. Aku pun pasrah, apa lagi ada Aditya yang jauh lebih tajir dariku. Jadi, mana aku bisa bersaing." Gumamnya sambil menatap langit-langit kamar kosannya.
Saat melihat ponselnya, sama sekali tidak yang berubah. Liyan sama sekali tidak ada kabarnya. Resah, sudah pasti. Apa lagi saingannya bukan kaleng kaleng, membuat Devan ingin menyerah.
Karena tidak ingin banyak pikiran, dan jam istirahatnya terbuang dengan sia-sia, Devan memilih untuk tidur beralaskan kasur lantai dengan ruang kamar yang sangat sederhana.
Tidur yang sangat pulas karena capek seharian kerja, sampai-sampai dirinya sama sekali tidak merespon saat ponselnya berdering.
Liyan yang belum juga tidur, kepikiran.
"Kak Devan marah apa ya? gak mau angkat teleponku. Apa jangan-jangan Kak Devan tahu, lagi. Kalau Aditya datang ke rumah. Mudah-mudahan aja sih, gak tahu soal kedatangan Aditya. Takutnya tahu, dan marah." Gumam Liyan yang kini dirinya yang kepikiran.
Dengan perasaan khawatir, Liyan malah kepikiran mantan suaminya si Devan. Tidak ingin fisiknya lemah, Liyan memilih untuk istirahat. Meski susah payah untuk memejamkan kedua matanya karena kepikiran, Liyan memaksakan diri untuk tidur, hingga bangun pagi pagi.
Liyan yang sudah rapi dengan penampilannya, segera keluar dari kamar.
"Kak, Kak Zavan." Panggil Liyan sambil menggedor pintu kamarnya sang kakak.
Zavan yang baru saja bangun, itupun karena ulah adiknya yang sudah menggedor pintu kamarnya.
"Ngapain sih, pakai gedor gedor pintu segala. Kakak tuh masih ngantuk, tau." Ucap Zavan sambil mengucek kedua matanya karena baru saja bangun dari tidurnya.
Kedua matanya saja masih belum begitu jelas untuk melihat penampilan adik perempuannya yang sudah terlihat cantik.
Saat kedua matanya dapat melihat penampilan adiknya secara gamblang, pun tercengang.
"Pagi-pagi gini, kamu mau kemana? udah rapi gitu."
Zavan benar-benar memperhatikan penampilan adiknya dengan benar. Tidak ada yang dilewatkan.
"Aku mau aku Kak Zavan. Tapi, anterin aku ke tempatnya Kak Devan." Jawab Liyan terlihat memohon.
Zavan mengerutkan keningnya.
"Memangnya ini udah jam berapa, Liy? masih kepagian kali, hem. Kamu gak lagi sedang kasmaran, 'kan?"
"Ih, Kak Zavan ini loh. Aku tuh khawatir, takutnya Kak Devan tahu, dan marah. Soalnya semalam tuh, aku angkat panggilan telepon darinya. Terus, giliran aku telepon balik, gak ada jawaban. Bukankah itu udah kelihatan kalau Kak Devan marah? ayo lah Kak, cepetan mandi."
Lagi-lagi Zavan mengernyit.
"Ya mungkin aja si Devan udah tidur, Liy. Kecapean mungkin. 'Kan, Kakak udah bilang, si Devan tuh kerja di bengkel. Astaga! Kakak sampai lupa. Bentar, Kakak ambil ponsel dulu. Kakak mau tunjukkan sesuatu sama kamu." Jawab Zavan dan balik badan buat mengambil ponselnya.
Setelah itu, Zavan menunjukkan foto Devan dengan penampilan yang terlihat begitu sederhana.
"Ini, ini foto mantan suami kamu yang dulunya tampan, kulit bersih, kini disibukkan dengan peralatan bengkel, bagaimana? kamu masih suka?"
Liyan yang melihat penampilan mantan suaminya, hatinya terenyuh saat melihatnya. Kedua matanya berkaca-kaca, sedih itu pasti.
"Sepahit itukah, Kak, kehidupan Kak Devan yang sekarang?"
Zavan menatap adiknya, dan menganggukkan kepalanya.
"Benar. Devan bukan lagi orang kantoran, dengan fashionnya yang keren. Tapi sekarang, keadaannya berbanding terbalik dengan Devan yang pernah kamu kenal dulu. Apakah kamu akan tetap bertahan dengan hubungan kamu bersama Devan? Kakak sudah membujuknya untuk kerja di kantor Papa, tapi ditolak oleh Devan. Alasannya dia ingin menenangkan pikirannya. Setau Kakak mengenal Devan, apa yang menjadi keputusannya, ya itu keputusan mutlak." Jawab Zavan menjelaskan sosok Devan kepada adik perempuannya.
"Aku akan menerimanya dengan kondisi apapun. Kesalahan yang sudah aku perbuat, tidak sebanding dengan dirinya yang sekarang. Aku menemaninya dari titik nol, aku gak peduli orang lain mau berkata apa. Karena aku yakin, Kak Devan bisa sukses. Dia mental baja, gak pernah mengenal lelah dan menyerah. Sekalipun aku sudah menjadi wanita kotor, Kak Devan masih mau menerimaku untuk singgah di hatinya." Ucap Liyan dengan keputusan yang diambil.
__ADS_1