
Saat sudah duduk di ruang tamu, Aditya menyuruh asisten rumah untuk mengambil air minum. Kemudian, setelah diambilkan air minum, ia menyodorkannya kepada Yena.
"Minum dulu, biar pikiran kamu agak tenang." Ucap Aditya, Yena pun langsung meminum air minumnya.
Setelah itu, ia mengatur napasnya. Kini, arah pandangannya masih lurus ke depan.
"Aku udah dengar kabar dari kampung. Niatnya siang ini aku mau berangkat ke kampung, tapi Devan sudah menghubungiku duluan, dan mengatakan kalau kamu bersamanya. Bude bagaimana keadaannya? baik-baik saja, 'kan?"
Yena menggelengkan kepalanya.
"Ibu udah meninggal, tinggal aku seorang diri. Aku saat itu lagi di kerjaan, dan saat aku pulang, ibu tidak tertolong. Aku menyesal, aku gak bisa menjaga Ibu dengan baik. A-aku hanya punya kamu yang menjadi saudaraku." Jawab Yena masih menangis.
Aditya yang sudah seperti kakak beradik dengan Yena, pun langsung memeluknya agar dapat memberi ketenangan.
"Aku turut berdukacita atas kepergiannya Bude, kamu yang sabar. Kita tidak bisa menyalahkan takdir, kita harus terima dengan hati yang lapang. Kamu gak sendirian, kamu masih ada aku yang akan bertanggungjawab atas dirimu." Ucap Aditya memberi nasehat kecil untuk saudara sepupunya.
Karena malu ada Devan yang tengah duduk di hadapannya, langsung merenggangkan posisi duduknya.
"Ini, usap air matamu. Kamu yang sabar, semua pasti punya ujiannya masing-masing. Kamu gak sendirian, ada aku dan Aditya. Nih, ambil tisunya." Timpal Devan menyodorkan tisu kepada Yena.
"Kamu udah makan?" tanya Aditya kepada Yena.
"Udah tadi. Devan tadi yang beliin aku makanan, dia ajak aku ke restoran. Juga, dia membelikan aku baju." Jawab Yena tidak ada yang ditutupi.
"Makasih banyak ya, Dev. Kamu udah nolongin Yena. Sekali lagi makasih banyak. Tapi ngomong-ngomong, kok kalian bisa bertemu, dimana?"
"Tadi aku di jalan pas mobil berhenti, aku turun, eee gak tahunya aku kena jambret. Terus, banyak yang ngejar, tapi gak ke kejar. Gak tahunya jambretnya dapat di tangkap oleh Devan. Dan, baju aku ketinggalan di mobil. Setelah itu, aku diajak ke restoran sama ke butik." Jawab Yena menjelaskan dengan detail.
__ADS_1
"Begitu ceritanya. Syukurlah kamu dipertemukan dengan Devan. Makasih banyak ya, Dev. Aku berhutang budi denganmu." Ucap Aditya.
"Kamu itu ngomong apa, Dit. Kita kan, emang diwajibkan untuk saling tolong menolong, hal lumrah dan manusiawi. Oh iya, tadi dia sempat bicara soal kerjaan. Kamu ada lowongan atau gak. Kalau gak ada, aku ada lowongan pekerjaan untuknya." Jawab Devan, dan sekalian membahas soal pekerjaan.
Aditya sekilas menoleh ke arah Yena, dan kembali menghadap Devan.
'Sepertinya mereka berdua ini cocok. Baiklah, apa salahnya jika aku memberi kesempatan untuk mereka berdua agar bisa lebih kenal dekat. Siapa sangka kalau mereka ini berjodoh, toh si Liyan udah menikah dan bahagia dengan Vando.' Batin Aditya.
"Setelah aku pikir dan aku pertimbangkan, lebih baik Yena kerja di tempat kamu. Bukannya aku gak mau nyariin kerjaan untuknya, tapi adanya juga lowongan kerjaan jadi OB di kantorku. Jadi, lebih baik kerja di kantor kamu. Kecuali kalau membuat masalah, akan aku tarik dari kantor mu." Ucap Aditya dengan memberi keputusan.
"Tapi, apa aku bisa kerja di kantor?" tanya Yena merasa tidak mampu.
"Kamu ini gimana sih, Yen. Katanya mau nyari kerjaan, hem. Kamu itu kan, anak kuliahan dulunya. Jadi, aku rasa kamu akan cepat bisa beradaptasi di kantor. Juga, kamu perempuan yang berprestasi. Kamunya aja yang dari dulu menolak diajak kerja di kota." Jawab Aditya.
Yena cuma nyengir kuda.
"Bukannya aku gak mau. Tapi, ibuku yang memintaku untuk bekerja di kampung aja. Juga, kamu kerepotan saat membutuhkan orang yang kamu percaya, hem."
"Iya deh, iya. Ya udah, sekarang lebih baik kamu istirahat. Nanti pelayan yang akan mengantarkan kamu ke kamar. Bentar, aku panggilkan dulu." Ucap Aditya dan memanggil asisten rumahnya.
Kemudian, Yena diajak ke kamar untuk istirahat, lantaran memakan waktu yang cukup lama dalam perjalanan.
Kini, tinggal Devan bersama Aditya yang berada di ruang tamu.
"Sepertinya sudah mau sore, aku pamit pulang ya. Soal Yena kerja ditempat ku, kamu bisa hubungi aku kalau keadaan Yena udah membaik. Sepertinya dia kecapean di perjalanan." Ucap Devan berpamitan.
"Gak nanti aja pulangnya, sekalian makan malam di rumahku." Jawab Aditya dan mengajaknya untuk makan malam di rumahnya.
__ADS_1
"Makasih sebelumnya, aku harus beres-beres rumah. Soalnya aku baru aja pindah rumah, juga tadi aku habis belanja kebutuhan pokok. Jadi, kapan kapan aja makan malam di rumah kamunya. Ya udah ya, aku pamit pulang. Salam buat Yena, aku tunggu jadwal siap kerjanya." Ucap Devan.
"Kamu udah pindah rumah?" tanya Aditya.
"Iya, aku udah pindah rumah. Aku gak mau menjadi duri di dalam rumah tangga saudara aku sendiri, dan juga mantan istriku. Ya udah ya, aku pulang." Jawab Devan dan pamit pulang.
"Iya, hati-hati. Semangat buat kamu. Semoga kamu segera mendapat penggantinya." Ucap Aditya menyemangati, Devan sendiri tersenyum mendengarnya.
"Makasih. Kamu juga, semoga segera mendapat pengganti wanita yang mau singgah dalam hidupmu. Aku pulang, sampai bertemu lagi besok." Jawab Devan dan pulang ke rumah.
Aditya yang mengetahui jika Devan sudah pindah rumah, ia dapat merasakan gimana rasa sakit hatinya itu. Tentu saja sangat menyakitkan ketika mantan istrinya menikah dengan saudara sepupunya sendiri.
"Kasihan banget kamu, Dev. Cintamu kandas seperti layangan yang putus dari pemiliknya. Pasti merasa kehilangan banget kamunya." Gumamnya saat memperhatikan Devan mengendarai mobilnya hingga tak terlihat bayangannya.
Setelah Devan sudah pergi dari rumahnya, Aditya segera masuk ke dalam rumah.
"Siapa tadi yang datang, Dit?" tanya sang ayah.
"Itu, tadi temanku, Pa. Devan. Tadi habis nganter Yena ke rumah. Ternyata benar, di kampung terjadi musibah banjir bandang. Yang disesali, kalau Bude gak tertolong." Jawa Aditya sekaligus membahas soal bencana yang ada di kampung mendiang ibunya.
"Jadi benar, kalau di kampungnya Yena ada bencana alam? terus, gimana keadaan ibunya?"
"Bude udah meninggal, Pa. Sekarang Yena sudah aku suruh istirahat, biar pikirannya tenang." Jawab Aditya.
"Papa turut berdukacita atas kepergian Bude kamu." Ucap sang ayah.
"Ya udah ya, Pa, aku mau mandi, badan aku gerah."
__ADS_1
"Ya udah sana kalau mandi, terus istirahat. Soalnya nanti malam akan ada pertemuan di keluarga rekan kerja Papa. Jadi, mendingan setelah mandi buat istirahat, agar nanti malam gak ngantuk berat saat pulang larut malam."
"Iya, Pa. Ya udah ya, Pa, aku mau ke kamar." Jawab Aditya dan segera ke kamarnya.