Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Kembali memohon


__ADS_3

Bayi laki-laki berkulit putih, mata sipit, hidung mancung, berat badan empat kilogram, dengan rambut hitam lurus dan lebat, membuat yang melihatnya pun menjadi gemas. Ingin mencubit pipinya, itu sudah pasti.


Yena bersama ibunya, pun ikutan bahagia melihat bayi laki-laki yang lahir dengan selamat.


"Bu, ganteng banget ya. Pasti ayahnya juga cakep, ibunya juga sangat cantik. Ih, gemes deh Bu. Yena jadi pingin punya dede bayi, eh."


"Mantapkan diri dulu, baru menikah." Jawab ibunya.


Yena nyengir kuda.


"Nih lihat, mirip siapa ya, Bu. Kelihatannya kok gak mirip Liyan, ya. Pasti bayi gemes ini mirip bapaknya. Tapi kok tega ya, gak mau mencari Liyan. Kejam gak sih, Bu. Kasihan Liyan, berjuang sendirian." Ucap Yena dengan sedih.


"Makanya, ini pelajaran buat kamu. Jangan mudah tergiur dengan cinta, tapi otak juga perlu berpikir, ngerti." Kata sang ibu yang tak lupa memberi nasehat kecil kepada putrinya.


Sedangkan Aditya, tengah menemani Liyan yang baru saja melakukan persalinan.


"Selamat ya, Liy, atas kelahiran anak kamu." Ucap Aditya memberi ucapan selamat.


Liyan tersenyum tipis, ada rasa malu ketika melahirkan tidak ada seorang suami.


"Terima kasih." Jawab Liyan yang tidak tahu harus berkata apa lagi.


Aditya duduk di sebelahnya.


"Aku siap kok, untuk menjadi ayah dari anak kamu." Ucap Aditya yang akhirnya mengatakannya langsung.


"Tidak perlu. Biarkan putraku menghadapi masalahnya sendiri, tidak ada yang perlu ditutupi. Benar kata ibu Arum, biarkan seperti air mengalir, jangan egois dan berpikirlah yang positif." Jawab Liyan menolak.


"Maksudnya aku, bahwa aku siap menikahi kamu, Liy. Mau kah kamu menikah denganku? aku tidak mempersalahkan dengan kehidupan kamu sebelumnya. Aku menerima kamu apa danya, termasuk anak yang kamu lahirkan." Ucap Aditya yang akhirnya berterus terang dengan perasaannya.


Liyan sangat terkejut mendengarnya, sungguh bagai mimpi di siang bolong.


Aditya meraih tangan Liyan.


"Aku sudah jatuh cinta denganmu, Liy." Ucapnya lagi.


Liyan langsung melepaskan tangannya.

__ADS_1


"Aku belum siap. Aku masih harus menghadapi banyak hal bersama putraku. Maaf. Aku masih belum ingin menikah, aku harus berjuang untuk anakku terlebih dulu. Aku belum siap membagi waktuku untuk yang lain, hanya putraku yang berhak mengatur waktuku." Jawab Liyan dengan gugup.


Aditya mengangguk.


"Aku mengerti. Aku siap menunggumu. Juga, aku siap menjadi ayah untuk anakmu." Ucap Aditya sedikit ada rasa kecewa ketika perasaannya tertolak.


"Maaf. Aku belum bisa." Jawab Liyan.


"Tidak apa-apa. Setidaknya aku sudah berkata jujur sama kamu. Soal diterima atau enggaknya, bukan lagi menjadi beban dalam pikiranku. Yang terpenting aku sudah lega, karena aku tidak lagi menyembunyikan perasaan ku padamu." Ucap Aditya dengan napas yang terasa berat.


Liyan menatapnya penuh rasa tidak enak hati, karena harus menolak cinta dari Aditya.


"Kita berteman aja ya, aku lagi ingin fokus dengan anakku." Jawab Liyan, Aditya mengangguk dan tersenyum tipis padanya.


"Cie ... yang lagi ngobrol serius. Nih, jagoan aku, ganteng banget, 'kan?"


Yena bersama perawat datang membawa bayi gemes miliknya Liyan.


Aditya langsung bangkit dan melihat bayinya Liyan.


Saat itu juga, Liyan duduk bersandar sambil memangku putranya. Dengan seksama, Liyan memperhatikan bayinya.


'Vando, anak kita sudah lahir. Lihat lah, semua mirip dengan kamu. Aku merindukan mu, aku ingin sekali bertemu denganmu. Apakah kamu baik-baik saja? semoga orang tuaku tidak memberi hukuman padamu.' Batin Liyan sambil melamun.


"Nak Liyan, Nak, itu bayimu lihat. Sangat menggemaskan. Coba lihat, mirip siapa hayo?"


"Mirip ayahnya." Jawab Liyan yang akhirnya mengatakannya dengan jujur.


Ibu Arum tersenyum, sedangkan Aditya memilih keluar, dan tidak ingin mengganggu suasana bahagianya Liyan yang sudah melahirkan anaknya.


Di lain sisi, Vando seperti orang yang frustrasi. Tidak lagi bertahan dengan kesabarannya, Vando segera pergi ke rumahnya Tuan Boni untuk meminta alamat dimana Liyan tinggal.


"Vando. Kamu mau pergi kemana, Nak?"


Ibunya yang melihat putranya seperti terburu-buru, melempar sebuah pertanyaan kepada putranya.


"Aku mau pergi, Ma. Aku mau ke rumahnya Tuan Boni. Vando gak bisa terus-terusan begini, Ma. Vando butuh tahu kemana Liyan tinggal, Ma. Aku seperti orang bodoh yang tidak bisa mencari keberadaannya. Aku seperti laki-laki yang tidak berguna, Ma."

__ADS_1


Vando pun langsung meneteskan air matanya ketika dirinya merasa tidak berguna untuk orang yang dicintainya.


Ibunya segera memeluk putranya.


"Mama sendiri tidak tahu harus bagaimana. Keberadaan Liyan saja tidak bisa ditemukan, Mama tidak mempunyai solusi untuk kamu." Ucap ibunya yang sama halnya merasa kebingungan untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh putranya.


"Karena sudah tidak ada cara lain, Vando mau ke rumah Tuan Boni." Jawab Vando dan langsung pergi begitu saja.


Ibunya hanya bisa pasrah dan mendoakan putranya, berharap semuanya akan baik-baik saja.


Dengan tekadnya yang sudah bulat, Vando tengah dalam perjalanan menuju kediaman Tuan Boni. Tidak memakan waktu lama, akhirnya sampai juga.


Tidak peduli dengan beberapa orang yang berjaga, Vando terus melakukan perlawanan agar diizinkan masuk untuk memenuhi pemilik rumah.


Tuan Boni yang sering didatangi Vando, merasa bosan untuk menghadapinya. Dengan terpaksa, akhirnya Vando diizinkan untuk masuk kedalam rumah.


Tuan Boni dan Vando, kini saling berhadapan.


"Mau apa kau datang kemari? apakah kamu sudah lupa, aku tidak sudi bertemu denganmu, paham." Ucap Tuan Boni dengan sangat santai.


"Saya mohon, berikan alamat dimana Nona Liyan tinggal, Tuan. Pertemukan saya dengannya."


Tuan Boni tersenyum sinis saat mendengar kalimat yang sering ia dengar lewat mulutnya Vando.


"Sudah aku peringatkan sama kamu. Jangan berharap untuk bertemu dengan putriku. Sebenarnya aku tidak sudi menjadikan mu menantuku. Pergilah sekaran juga, jangan sampai kesabaran ku habis."


"Saya tidak akan menyerah, sekalipun penjara yang menjadi titik akhir. Saya percaya, bahwa Nona Liyan membutuhkan saya." Jawab Vando yang mulai emosi.


Tuan Boni menyeringai.


"Das_ar kamu. Sudah aku peringatkan juga, masih saja berani datang kemari. Seharusnya kamu sadar diri, posisi kamu hanyalah perusak, semuanya telah kau rusak, termasuk kehormatan putriku."


DEG!


Vando seperti di hujam oleh peluru hingga tembus ke ulu hatinya. Sakit, sakit sekali ketika tuduhan menjadi penghinaan. Berbulan-bulan sudah selalu mendapat hinaan, terasa di rendahkan juga.


Napas yang awalnya masih bisa dikontrol, mendadak terasa panas dan juga sesak. Otaknya saja terasa mendidih. Ingin rasanya melakukan perlawanan, namun sadar diri siapa yang sedang ia hadapi, ayah dari perempuan yang dicintainya, pikir Vando.

__ADS_1


__ADS_2