Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Di usir dari rumah


__ADS_3

Dengan sekuat hatinya untuk menerima kenyataan pahit, Liyan berusaha kuat dan tegar saat harus kehilangan putra kesayangannya.


Devan yang sedari memantau Liyan yang tengah ditemani kakak laki-lakinya, merasa sedikit tenang dan tidak dihantui kekhawatiran. Sedangkan Vando sendiri masih terlihat acuh dengan istrinya sendiri, Vando masih menyimpan kemarahan karena menganggap Liyan adalah penyebab utamanya.


Sampainya di pemakaman, semua merasa kehilangan dengan kepergian Savan dan ibunya Vando. Nasib tragis yang telah merenggut nyawa mereka berdua. Niatnya untuk menyenangkan keluarga, justru berubah menjadi petaka dan musibah besar yang harus diterima Vando maupun Liyan.


Saat kedua jenazah dimakamkan, Liyan maupun Vando tidak menangis histeris, justru keduanya tertunduk sedih sambil merenung.


Zavan selaku kakaknya yang mendapati adik perempuannya tengah berkabung, ikut berjongkok di sebelahnya sambil menaburkan bunga dan menyiramkan air dalam botol ke pemakaman putranya, dan beralih ke pemakaman ibu mertua.


Penyesalan yang tidak bisa untuk dirubah lagi, kematian tetaplah kematian yang tidak bisa untuk diputar lagi waktunya. Cukup lama berada di pemakaman, Zavan mencoba membujuk adiknya untuk pulang ke rumah.


"Liyan, ayo kita pulang." Ajak Zavan mencoba untuk mengajaknya pulang.


"Iya, Nak. Ayo kita pulang. Kalau kamu merindukan Savan, Mama sama Papa akan menemani kamu datang ke sini lagi. Sekarang kita harus pulang, kamu yang sabar. Percayalah sama Mama, kamu pasti bisa untuk melewati masa sulitmu ini." Ucap ibunya yang juga ikut membujuk putrinya untuk pulang ke rumah.


Liyan tidak menjawab, dirinya hanya mengunakan isyarat.


Saat dalam perjalanan pulang, Liyan tengah melamun. Sedari tadi terbayang bayang kenangan bersama di kampung halamannya Yena. Perjuangannya dalam membesarkan Savan, sungguh penuh lika-liku dalam hidupnya.


Liyan benar-benar tengah bekerja keras demi membesarkan putranya, kini harus dipisahkan begitu saja, yang pastinya sangat shock. Sedari tadi yang masih terus melamun, ibunya tidak tega melihat kondisi putrinya yang seperti kehilangan separuh nyawanya.


"Liyan, minumlah. Jangan biarkan kamu larut dalam kesedihan mu. Kamu harus kuat, ada Savan di hatimu. Ini, minumlah." Ucap Zavan mencoba untuk mengajak adiknya bicara, takutnya terus-terus melamun.

__ADS_1


Devan yang tengah berada dalam satu mobil bersama Aditya dan Vando, mereka bertiga tidak ada yang bersuara hingga sampai di depan rumahnya Vando.


Setelah sampai, mereka segera turun dari mobil. Termasuk Zavan dan ibunya, ayahnya, juga Yena bersama adiknya segera turun.


Liyan yang terasa tidak bertenaga untuk berjalan, Zavan membantunya untuk menuntun adiknya. Sebenarnya Devan maupun Aditya sama-sama merasa kasihan dan ingin menggendongnya, namun mereka bisa apa? hanya bisa memperhatikannya dengan perasaan sedih.


Vando yang sudah berdiri di ambang pintu, ia memutarbalikkan badan.


"Stop! kalian dilarang untuk masuk. Tunggu di depan rumah." Ucap Vando dengan nada yang cukup kedengaran keras.


Semua dibuatnya bingung atas ucapan dari Vando. Karena terdengar serius, akhirnya menuruti perintah dari Vando.


Tidak memakan waktu lama, rupanya Vando sudah datang dengan membawa sebuah koper ditangannya.


"Gara-gara kamu! Liyan, anak dan orang tuaku mati kare ulahmu. Mulai sekarang, kau angkat kaki dari rumahku ini. Aku tidak sudi mempunyai istri macam dirimu. Sekarang juga, aku ceraikan kamu." Ucapnya dengan lantang.


Sudah jatuh, tertimpa tangga. Begitulah nasib buruk yang tengah dihadapi oleh Liyan. Dengan tubuhnya yang terasa lemah dan tidak berdaya, akhirnya membuat Liyan emosi dan dengan tertatih untuk berjalan, Liyan mendekati suaminya.


"Kamu bilang apa tadi? aku pembunuhnya? jangankan untuk membunuh Savan sakit saja aku seperti orang kelimpungan. Sekarang aku sudah terperosok karena kehilangan putraku satu-satunya, itu juga karena kau! kau yang sudah mengajakku ke pantai. Kalau bukan kau yang mengajakku berlibur, aku tidak akan kehilangan putraku. Baik. Kalau kamu mau menceraikan aku, aku pun siap menerimanya. Kehadiran mu tidak lain adalah perusak hidupku." Jawab Liyan dengan penuh emosi.


Bukannya menenangkan pikirannya, justru suami sendiri yang menghancurkan hidupnya sedalam dalamnya hingga terasa ngilu hingga ke ulu hatinya.


Devan yang merasa dongkol dan penuh amarah karena telah menyakiti mantan istrinya, kini tidak terima.

__ADS_1


Saat itu juga, Devan melayangkan sebuah tinjuan ke arah Vando. Nahas, Zavan langsung menyambar tangannya Devan.


"Jangan kamu kotori tanganmu kepada lelaki yang tidak tahu diri. Aku menyesal menyetujui pernikahan mereka kalau pada akhirnya adik kesayanganku harus dilukai hatinya. Sungguh, tidak ada lagi kata maaf untukmu, Vando. Kami tidak akan pernah lupa atas perbuatan kamu ini. Ingat satu hal, tidak pernah aku izinkan kamu kembali dengan Liyan." Ucap Zavan yang sudah kecewa kepada Vando.


Ayah Liyan yang merasa terhina atas tuduhan yang dilontarkan oleh menantunya, terasa sakit mendengarnya.


"Aku menyesal menikahkan kamu dengan putriku. Aku pikir kamu itu lelaki yang bisa aku percaya, tapi kenyataannya kamu telah menipu banyak orang. Tidak ada lagi kata maaf buat kamu, sekalipun kamu menyesali." Timpal Tuan Boni ikut angkat bicara.


Aditya sendiri memilih diam, tidak ingin ikut campur urusan rumah tangga orang lain. Berbeda dengan Devan, dia begitu kuat untuk ikut campur urusan rumah tangga mantan istrinya, lantaran dirinya pernah dihancurkan rumah tangganya karena Vando yang sudah meren_ggut kehorm_atan mantan istrinya.


Siapa orangnya yang mau terima jika perempuan yang dicintainya itu telah direng_gut kehormatannya, yang pastinya tidak terima. Lebih lagi ketahuan setelah menjadi istrinya, benar-benar sangat menyakitkan.


Vando yang malas menjawab, memilih masuk kedalam rumah, dan menyuruh penjaga rumah untuk mengusir mereka.


Karena sudah di usir dari rumah yang menjadi tempat tinggalnya Vando, segera pergi dan meninggalkan rumah tersebut.


"Tuan, saya permisi, saya mau langsung pulang. Jika membutuhkan sesuatu yang penting, hubungi saya. Untuk Liyan, kamu yang sabar ya. Aku yakin kalau kamu mampu untuk melewati semua ini. Kalau kamu butuh teman, aku bisa datang ke rumah kamu. Untuk Yena, kamu temani Ljyan, jangan pernah mengabaikannya. Hibur dia, karena kamu teman dekatnya. Untuk Zavan dan Devan, aku pamit, sampai bertemu lagi. Tuan, Nyonya, kami pamit pulang." Ucap Aditya yang memilih untuk pamit pulang, lantaran tidak ingin mengganggu pikirannya Liyan.


"Iya, Nak Adit. Makasih banyak ya, udah membantu kami. Hati-hati dijalan, salam buat orang tua kamu." Jawab Tuan Boni.


"Iya, Tuan." Ucap Aditya.


"Dit, makasih banyak atas semuanya. Hati-hati di jalan. Kalau ada waktu, datanglah ke rumah." Timpal Zavan selaku kakaknya Liyan.

__ADS_1


"Hati-hati dijalan, Dit. Sampai bertemu lagi." Ucap Devan ikut menimpali.


Aditya mengangguk, dan bergegas pulang ke rumahnya.


__ADS_2