
Vando yang mendengar ucapan dari Devan, merasa geram. Zavan sebagai kakak dari Liyan, dapat menyimpulkan kalau Vando hanya cemburu yang berlebihan.
"Kejadian ini aku harap tidak terulang lagi. Jadi, aku tidak mau mendengar keributan masalah yang seperti ini. Juga, aku yang akan mengantar Liyan pulang. Kalian tidak perlu protes, karena Liyan adikku sendiri." Ucap Zavan.
Liyan yang tidak bisa berkata apa-apa lagi, memilih untuk diam. Bicara pun akan menimbulkan masalah kepada suaminya.
"Baik. Aku hanya memperingatkan saja kepada Aditya maupun Devan, karena aku tidak akan pernah mengizinkan kalian menemui istriku." Jawab Vando yang masih dikuasai emosinya.
"Aku harus pulang, ada pekerjaan di kantorku yang lebih penting. Jadi, gak guna untukku membahas yang bukan masalahku. Pesanku, jangan terlalu posesif dengan istri sendiri, yang ada istrimu tidak betah berada di dekatmu." Ucap Devan, dirinya langsung pergi begitu saja.
Aditya yang juga harus pamit, pun secepatnya undur diri.
"Aku juga mau pamit. Aku rasa permasalahannya ini sudah selesai. Intinya kamu itu cemburu denganku, juga dengan Devan. Aku memang mencintai Liyan. Tapi, aku sadar diri kalau Liyan lebih memilih dirimu. Jadi, jaga istrimu dengan sikapmu sendiri. Gak cuma aku yang mencinta Liyan, tetapi juga Devan. Tapi, kita berdua bersaing dengan akal sehat. Cemburu boleh, tapi lihat keadaan." Ucap Aditya yang kini mulai berani membalas ucapan dari Vando.
Vando yang seperti terpojok, ingin rasanya menghajarnya. Namun, di hadapannya ada kakak iparnya, mana bisa untuk melawannya.
Zavan kini mendekati Vando, keduanya tengah berhadapan.
"Aku ngerti perasaanmu. Pada intinya kamu itu cemburu akut. Aku tahu kalau kamu mencintai adikku, dan mungkin juga kalau kamu takut kehilangan. Aku serahkan Liyan sama kamu. Sayangi dia, cintai dia, karena Liyan adalah harta paling berharga di keluarga Aritama. Pulanglah, tenangkan pikiran kalian. Aku percaya sama bahwa kamu tidak akan menyakiti perasaan adikku." Ucap Zavan mencoba untuk percaya dengan adik iparnya.
Vando merasa malu, juga bersalah karena perbuatannya yang sudah bersikap arogan, rupanya telah membuat nama baiknya menjadi jelek.
"Iya, Kak. Makasih sudah menjadi penengah buat kami. Aku akui, aku memang cemburu sama mereka berdua. Alasannya, karena aku tidak mempunyai waktu bersama Liyan. Sedangkan mereka mempunyai kenangan yang begitu banyak, yang pasti mudah untuk mendekati." Jawab Vando berterus terang.
Zavan menepuk pundaknya.
"Bagiku sangat wajar jika seorang suami cemburu dengan istrinya. Kalau tidak cemburu, mana tahu kalau kamu itu cinta. Itu namanya suami yang peka. Ya udah, aku pergi. Jangan diulangi lagi masalah yang seperti ini. Dan kamu Liyan, pulang bersama suami kamu." Ucap Zavan, juga kepada adiknya.
"Iya, Kak, makasih udah ikut membantu menyelesaikan masalah kami." Jawab Liyan merasa malu dengan kakaknya sendiri.
"Ya udah, Kakak pergi duluan. Hati-hati kalian dijalan." Ucap Zavan berpamitan.
Liyan maupun Vando, keduanya mengiyakan. Kini, tinggallah Vando bersama istrinya yang masih berada di Danau Seruling.
__ADS_1
Vando yang merasa lega karena tidak harus berdebat dengan istrinya, langsung memeluknya.
"Maafkan aku ya, Liy. Aku minta maaf, kalau aku sudah membuatmu seperti ini, menambah masalah buatmu. Aku hanya takut kehilangan kamu. Aku tahu, kamu mantan istri, juga mantan pacarnya Kak Devan, tapi aku mencintaimu." Ucap Vando sambil memeluk istrinya.
Liyan yang tengah dipeluk istrinya, memejamkan kedua matanya, dan membalas pelukan dari suaminya.
"Maafkan aku, jika aku masih belum sempurna menerimamu sebagai suamiku. Aku butuh beradaptasi dengan karaktermu, juga sosok dirimu." Jawab Liyan dengan kedua mata yang terpejam.
Vando yang mendengar jawaban dari istrinya, perlahan melepaskan pelukannya menjadi renggang. Vando menatap lekat wajah istrinya, dan begitu intens memandanginya.
"Aku tidak akan memaksamu untuk sempurna dalam mencintaiku, atau menerimaku. Cukup dengan kesetiaan, dan juga saling menerima satu sama lain, dan mencintai walau cinta itu tak sempurna." Ucap Vando sambil menatap lekat wajah ayu milik istrinya.
Liyan tersenyum mendengarnya.
"Makasih. Karena cintaku yang sempurna hanya untuk Savan putra kita." Jawab Liyan yang kini tengah bersandar di dada bidangnya.
"Ya udah kalau gitu, kita pulang ke rumah. Aku mau libur kerja untuk hari ini. Waktuku akan aku berikan untukmu dan Savan." Ucap Vando.
"Mobilnya mogok, dimana?"
"Di jalan merpati, tadi sempat mogok. Terus, gak disengaja ada kak Devan, dan nganter aku buat ngejar kamu."
"Oh."
"Kok cuma oh, kamu marah lagi?"
"Aku gak marah. Jadi begitu ceritanya. Aku pikir kamu menghubungi Devan buat nganter kamu ke kantorku."
"Ngapain juga aku minta antar kak Devan. Dah deh, gak usah dibahas lagi. Kek anak kecil, tau gak."
"Iya, iya, sayang. Ya soalnya yang tahu kantorku kan, cuma kak Devan. Jadi, ya filing aku ya kamu minta tolong sama mantan suami kamu itu." Kata Devan.
"Oh jadi gitu kamu marah? pantes aja Kak Devan nasehatin kamu kek gitu. Seharusnya kamu minta maaf sama Kak Devan, kan kamu yang sudah salah paham." Ucap Loyan.
__ADS_1
"Enggak ah, biarin aja."
"Gak boleh gitu. Mau bagaimanapun kamu udah salah paham."
"Kapan kapan kalau bertemu."
"Ya udah yuk, kita pulang. Hari ini aku mau manjain kamu sama Savan. Aku mau ajak kalian jalan-jalan ke pantai, bagaimana?"
"Boleh. Soalnya udah lama juga gak jalan-jalan. Sekalian ajak Yena, bagaimana? sekalian menghibur dia yang sedang bersedih." Jawab Liyan.
"Iya, nanti kita ajak Yena jalan-jalan. Ya udah, ayo kita pulang." Ajak Vando kepada istrinya.
Karena niatnya mengajak jalan-jalan, Vando segera pulang untuk menjemput anak dan teman akrab istrinya.
Dengan kecepatan sedang, Vando mengendarai mobilnya. Tidak memakan waktu lama, pun akhirnya sampai juga di depan rumah.
"Ayah, Bunda." Panggil Savan sambil berlarian mendekati kedua orang tuanya.
"Ayah sama Bunda darimana?" tanya Savan yang tengah memegangi tangan kedua orang tuanya.
Vando maupun Liyan, mereka berdua berjongkok agar lebih leluasa untuk berbicara dengan putranya.
"Ayah sama Bunda tadi itu sedang mencari tempat buat liburan. Ayah mau ngajak Savan sama Aunty Yena, juga Nenek, kita jalan-jalan ke pantai, gimana?"
"Asik.... hore... kita jalan-jalan." Sorak sorai dari Savan sambil mengitari kedua orang tuanya dengan bahagia.
"Iya, sayang. Nenek pasti mau." Jawab neneknya Savan.
Setelah itu, Savan mendekati Yena sambil meraih tangannya untuk merayu.
"Aunty juga, Aunty gak bakal nolak asal jalan-jalannya bareng Savan."
Kemudian, Savan menghampiri kedua orang tuanya. Dengan perasaan senang, Savan mencium kedua pipi milik kedua orang tuanya secara bergantian.
__ADS_1