Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Menghadiri acara pernikahan


__ADS_3

Waktu yang ditunggu akhirnya tiba juga di hari pernikahan setelah cukup lama dinantikannya. Liyan dan Vando akan proses pernikahan yang sakral.


Didalam ruangan khusus untuk calon pengantin perempuan, Liyan tengah dirias wajahnya secantik mungkin. Sedangkan Vando tengah bersiap-siap untuk berangkat.


"Akhirnya kamu akan menikah juga, Liy. Kakak turut bahagia atas hari bahagia mu ini." Ucap Zavan.


Liyan tersenyum mendengarnya.


"Semoga Kak Zavan segera menyusul. Maafin Liyan ya, Kak." Jawab Liyan serasa tidak enak hati, yakni sudah mendahului kakaknya yang kedua kalinya.


Zavan memegangi lengannya Liyan, dan tersenyum kepada adiknya.


"Minta maaf kenapa, Liy? kamu gak ada salah apapun sama Kakak. Kamu gak perlu minta maaf. Hari ini adalah hari bahagia mu, jangan kamu sia-siakan momen sekarang ini. Maafkan Kakak yang tidak bisa memberimu hadiah yang lebih, Kakak hanya bisa memberi mu doa. Semoga kamu bahagia bersama Vando, serta rumah tangga yang langgeng." Ucap Zavan, Liyan mengangguk.


"Makasih ya, Kak." Jawab Liyan.


"Ya udah kalau gitu, Kakak tunggu kamu di luar." Ucap Zavan, Liyan mengiyakan.


Sedangkan di tempat lain, Vando yang baru saja selesai bersiap-siap, ia segera berangkat ke acara resepsi pernikahannya.


Di sudut ruangan, Devan yang sudah siap untuk berangkat, tiba-tiba ia terasa berat untuk menyaksikan hari pernikahan mantan istrinya sendiri. Sakit hati, sedih, kehilangan, itu sudah pasti dirasakan oleh Devan.


Ibunya Vando yang melihatnya, pun segera mendekati keponakannya yang terlihat tengah melamun, juga memikirkan sesuatu.


"Devan, kamu sedang apa?" tanya tantenya.


Devan yang menyadari jika tantenya tengah mengagetkan dirinya, langsung menoleh.


"Tante." Sahut Devan dengan lesu.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Dev? kelihatannya kamu lesu gitu. Apa karena hari Liyan dan Vando akan menikah, dan kamu tidak sanggup untuk menghadiri acara pernikahan mereka berdua, benarkah?"


"Iya, Tante. Maaf, jika aku harus jujur sama Tante. Aku mohon sama Tante, jangan katakan apapun sama Vando. Nanti aku nyusul, sekarang aku ingin sendirian dulu Tante." Jawab Devan yang akhirnya berterus terang pada ibunya Vando.


"Tante ngerti. Ini semua pasti sangat berat untuk kamu. Juga, Tante gak bisa berbuat apa-apa. Maafkan Tante, karena tidak bisa berpihak padamu." Ucap ibunya Vando.


Devan berusaha untuk tetap tersenyum, meski hancur perasaannya. Meski mulut berkata tidak, tapi dalam lubuk hatinya menyimpan perasaan sedih dan sakit hati. Namun, demi untuk tidak membuat keributan, Devan memilih untuk tetap terlihat tenang, juga baik-baik saja.


"Tidak apa-apa, Tante. Nanti lambat laun juga akan terbiasa. Ya udah Tante, kalau mau berangkat. Katakan saja sama Vando, kalau berangkatnya belakangan, nanti nyusul." Jawab Devan.


"Kalau gitu, Tante berangkat dulu. Jaga diri kamu baik-baik, jangan melakukan sesuatu yang dapat merugikan diri kamu. Tante percaya, kamu pasti bisa melewati ini semua. Ya udah ya, Tante berangkat." Ucap ibunya Vando yang sekaligus pamit, Devan mengiyakan.


Setelah tidak ada keluarga yang ada di rumah, Devan sendirian duduk di balkon ditemani secangkir kopi pahit dan sebuah gitar yang dijadikan alat penghibur perasaan sakit hati.


Sambil memainkan gitarnya, Devan membayangkan kenangan-kenangan dimasa lalunya bersama mantan istri. Bahkan, tidak cukup baginya menjalani kebersamaan selama bertahun-tahun lamanya, tetapi pernikahannya kandas hanya kesalahpahaman semata.


"Permisi, Tuan. Maaf, sekarang sudah jam sebelas siang. Tuan bilang, Bibi suruh manggil Tuan di jam sebelas."


"Iya, Bi. Makasih sudah mengingatkan ku. Kalau gitu, Bibi siapkan kunci mobil, dan taruh aja di atas meja yang di ruang tamu."


"Baik, Tuan." Jawabnya saat mendapat perintah dari majikannya.


Setelah itu, Devan segera bersiap-siap untuk berangkat ke acara pernikahan saudara sepupunya.


Dilain tempat, tepatnya di kediaman keluarga permana, Aditya yang juga mendapat kartu undangan dari Liyan, pun sama halnya yang terasa enggan untuk datang. Aditya yang juga mempunyai rasa dengan Liyan, ikut patah hati karena Liyan lebih memilih Vando daripada dirinya.


Aditya sendiri memakluminya, meski kecewa dan patah hati karena Liyan tidak memilih dirinya, yakni karena adanya Savan putranya. Tentu saja, Aditya tidak begitu emosi.


"Katanya mau menghadiri acara pernikahan anaknya Tuan Boni. Terus, kenapa kamu masih ada disini?"

__ADS_1


"Ini juga mau siap-siap untuk berangkat, Pa. Ya udah ya, Pa, aku tinggal dulu. Aku mau berangkat." Jawab Aditya.


"Kamu pasti patah hati, iya 'kan? ngaku aja sama Papa. Namanya juga bukan jodoh, mau ditunggu mau sampai kapan pun, juga gak bakalan menjadi milikmu. Lebih baik kamu lupakan. Masih banyak wanita di luaran sana yang jauh lebih baik dari perempuan yang tidak memilih mu. Ya udah sana kalau mau berangkat. Papa hari ini mau menikmati liburan. Nanti kalau sudah pulang, langsung menuju Danau yang tidak jauh dari terminal, oke." Ucap sang ayah.


"Iya, Pa. Ya udah ya, Pa, aku berangkat dulu. Nanti pulangnya aku nyusul Papa." Jawab Aditya.


Setelah itu, Aditya bergegas untuk berangkat, yakni menghadiri acara pernikahannya Liyan dengan Vando.


Tidak memakan waktu lama dalam perjalanan menuju acara resepnya pernikahannya Liyan, akhirnya sampai juga di tempat tujuan.


Saat baru saja turun dari mobil, rupanya Devan juga sama halnya yang baru aja turun dari mobilnya.


"Kamu."


Keduanya saling menunjuk satu sama lain dengan jari telunjuk masing-masing.


"Kebetulan kita datangnya bareng, semoga nasib baik ada dalam keberuntungan kita." Ucap Aditya yang memang mengetahui jika Liyan mantan istrinya Devan.


"Kamu ngomong apa, gak ada yang salah bicara, 'kan?"


Aditya tertawa kecil ketika dipertemukan dengan orang yang sama halnya tengah patah hati karena perempuan yang sama.


"Lucu aja. Bisa-bisanya kita datang bareng gini. Mana bukan laki-laki pilihan, lagi. Sudah lah, ayo kita masuk. Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk mengalah." Ucap Aditya.


"Berarti kita ini bukan yang terbaik. Jadi, lebih baik kita introspeksi diri, itu jauh lebih baik." Jawabnya dan membuang napasnya dengan kasar.


"Benar juga katamu. Ya udah kalau gitu, ayo kita masuk, dan beri ucapan selamat padanya." Kata Aditya, dan keduanya bergegas untuk masuk di dalam ruang gedung yang cukup luas ruangannya, dan terlihat begitu indah.


Devan yang baru masuk ke dalam gedung besar yang tengah dijadikan tempat acara pernikahan, ingatannya seperti dibuka kembali apa yang sudah ia ingat.

__ADS_1


__ADS_2