
Tidak ingin bertambah sakit hatinya ketika melihat Vando dan Liyan tengah berduaan di ruang tamu, Aditya memilih untuk masuk ke kamar.
Sedangkan Liyan bersama Vando, pun bergegas kembali ke kamar masing-masing karena takut ada yang mengetahui.
Vando yang sudah ada perasaan lega, tidak begitu khawatir jika Liyan akan direbut oleh Aditya. Namun, tetap saja, Vando tetap memberi pengawasan kepada Liyan, takutnya ada sesuatu yang tidak ia ketahui.
Malam semakin larut, membuat kedua matanya terasa kantuk. Benar saja, rupanya sudah hampir mau jam dua pagi, Vando merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kemudian, ia memejamkan kedua matanya, berharap mimpi yang baik.
Di lain sisi, Aditya yang sudah berada didalam kamar, ia memandangi foto bersama Liyan, juga dengan Savan. Dirinya kembali teringat dengan kenangan indah bersamanya.
Aditya masih terus memandangi fotonya bersama Liyan, serasa berat untuknya berpisah.
"Aku masih berharap untuk mendapatkan kamu Liy. Maafkan aku yang tidak bisa melepaskan mu. Aku sudah jatuh hati tehadap mu. Bahkan, aku sudah seperti orang gila ketika mencintai perempuan milik lelaki lain. Juga, aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan mu." Gumamnya sambil memandangi fotonya.
Tidak ingin kesehatannya terganggu, Aditya segera istirahat. Sebelumnya, ia mencuci muka dan buang air kecil, lalu baru dirinya tidur hingga ayam berkokok membangunkan tidurnya.
Pagi hari, daya tubuh Aditya menurun, badannya panas, juga menggigil kedinginan.
"Liy, Liyan. Liy, Liyan." Panggil Aditya setengah mengigau.
Yena yang baru saja keluar dari kamar, ia mendengar suara memanggil nama Liyan. Kemudian, ia mencari sumber suara, yakni suara tersebut terdengar dari kamarnya Aditya.
"Liy. Liyan. Liy."
__ADS_1
Aditya kembali memanggil nama Liyan. Yena yang khawatir, ia langsung membuka pintunya.
"Dit! Aditya. Kamu kenapa? badanmu panas banget. Astaga, kamu sakit?"
Saat itu juga, Yena langsung keluar untuk memanggil Liyan dan ibunya.
"Bu, Ibu! Liyan, Liy! Aditya, Adit sakit." Panggil Yena kepada ibunya dan juga Liyan.
Semua terbangun dari tidurnya, termasuk Vando yang juga kaget. Mereka bertiga segera keluar dari kamar.
"Yena. Ada apa, Yen? siapa yang sakit?" tanya Liyan yang baru saja keluar dari kamar.
Yena yang sudah khawatir, langsung menarik tangannya Liyan.
Vando maupun ibu Arum mengikutinya dari belakang.
"Liy, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku, Liy."
Aditya masih terus mengigau. Liyan segera mendekatinya, dan mengecek suhu badannya lewat kening.
"Panas banget badannya. Kita bawa ke rumah Dokter Harun, ayo Yen, badannya panas banget." Ucap Liyan khawatir dan juga cemas.
"Gak perlu, biar aku panggil dokternya, dimana rumahnya?"
__ADS_1
"Sama Ibu, ayo sama Ibu aja manggil dokternya. Biar Yena sama Liyan yang menjaga Aditya." Timpal ibu Arum, karena tidak mungkin jika Liyan yang ikut bersama Vando, yang ada Aditya akan bertambah cemburu.
Lebih lagi dengan kondisi fisiknya yang lemah, takut keadaannya semakin mekburuk.
Vando yang tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya mengiyakan, meski dirinya ikut menyimpan rasa cemburu. Namun, mau bagaimana lagi keadaan yang mendesak dirinya untuk mengalah karena darurat.
Sedangkan Liyan segera mengompres Aditya agar panasnya turun, yakni sambil menunggu dokter datang.
Dengan suhu badannya yang tinggi, membuat Aditya menggigil dan terus mengigau.
"Yen, tolong ambilkan airnya lagi." Ucap Liyan meminta bantuan.
"Iya, Liy. Bentar, aku ambilkan." Jawab Yena yang langsung mengambilkannya.
Saat itu juga, Aditya meraih tangan miliknya Liyan, dan menggenggamnya dengan erat. Kemudian, ia berpindah tiduran di pangkuannya. Kemudian, Aditya mendongak ke arah Liyan sambil menggenggam tangan miliknya Liyan.
Liyan yang was-was dan takut ketahuan Vando, ia berusaha untuk menggeser posisi duduknya.
Namun nahas, Vando yang baru saja pulang bersama dokter, dirinya terbakar api cemburu saat melihat Aditya yang tiduran di pangkuannya Liyan.
"Sini, biar aku yang akan urus Aditya. Lebih baik kamu urusin Savan, ini biar menjadi urusanku." Ucap Vando yang langsung menyingkirkan Aditya.
Kemudian, Vando meminta kepada sang dokter untuk memeriksa kondisi kesehatan Aditya. Sedangkan Ibu Arum dan Yena tengah menunggu hasilnya.
__ADS_1