
Masih di rumah keluarga Gavindra, Devan bersama Aditya tengah menunggu Vando bangun dari tidurnya. Baru saja dibicarakan, rupanya Vando sudah bangun dan dia langsung menyambar jaket yang ada di sofa. Kesadarannya pun sudah kembali sempurna, ingatannya tertuju pada Savan putranya, dan ibunya.
Devan maupun Aditya yang terdengar suara hentakan kaki yang sedang menuruni anak tangga, keduanya pun menoleh. Devan langsung bangkit dari posisinya, begitu juga dengan Aditya.
"Kamu sudah bangun? mau kemana kamu?" tanya Devan sambil menuju tangga.
"Ngapain kalian berdua masih mengawasi ku? aku gak butuh bantuan kalian. Sekarang juga, enyah dari rumah ini. Aku tidak sudi melihat kalian berdua yang sok dan berlagak baik di hadapan ku. Sekarang juga pergi, cepat!" usir Vando kepada Devan sambil menunjuk ke arah keluar.
"Ini masih menjadi bagian rumahku, kamu tidak mempunyai hak untuk mengusirku, termasuk Aditya yang sudah menjadi temanku." Jawab Devan yang langsung menyahut.
Memang benar, rumah yang ditempatinya selama ini memang masih haknya Devan. Jadi, Vando tidak mempunyai hak untuk mengusir Devan.
Vando yang merasa dongkol dan seperti tengah dipojokan oleh saudara sepupunya, langsung pergi begitu saja.
"Tunggu. Kamu mau kemana? di luar masih hujan, sebaiknya kamu sarapan terlebih dahulu sebelum melakukan perjalanan jauh ke pantai."
"Iya, benar. Lebih baik kamu sarapan dulu, isi perutmu agar kamu tidak jatuh sakit. Cuaca diluar masih ekstrim. Pikirkan baik-baik sebelum kamu bertindak." Timpal Aditya yang ikut bicara.
"Mana bisa aku makan, sedangkan anakku sendiri dan orang tuaku saja belum aku temukan. Aku bukan orang yang seperti kalian, enak makan ketika mendapat musibah." Sahut Vando.
"Setidaknya kita menjaga kesehatan. Kalau kita hanya pakai perasaan tanpa akal, fisik bisa saja drop, ego juga bakal lebih tinggi. Karena orang sakit akan lebih mudah pemarah, dan egonya lebih tinggi." Ucap Devan dengan asumsinya sendiri, lantaran demi saudara sepupunya tidak jatuh sakit.
Tetap saja, Vando tetap menolak dengan cara tidak menanggapi ucapan dari Devan. Aditya yang tidak bisa memaksa, pun segera pergi untuk melanjutkan pencarian. Mereka bertiga berangkat menuju pantai.
Ketika sudah berada di pantai, rupanya suasana sudah ramai banyaknya anggota tim pencarian yang sudah siap untuk melanjutkan tugasnya.
Vando yang tidak sabar hanya sekedar menunggu, ia memilih ikut dalam pencarian. Begitu juga dengan Devan maupun Aditya, mereka pun ikut tim untuk melakukan pencarian.
Ada yang ke tengah, ada pula yang menyusuri tepian pantai, berharap terdampar dan masih selamat.
Devan yang sedari tadi memanggil nama Savan dan Tantenya, berharap akan ada keajaiban.
"Savan...! Tante Sevira...!" teriak Devan yang masih terus memanggil.
"Savan...! Mama...!" teriak Vando yang juga ikutan memanggil anak dan ibunya.
Aditya tidak lagi berteriak, ia justru tengah tertunduk sedih.
'Savan, kamu dimana? apa kamu tidak ingin bertemu Paman? apa kamu tidak ingin bermain dengan Paman? Savan, dimana kamu? kamu ingat, kita pernah berjanji, kita tidak akan pernah berpisah?' batin Aditya yang begitu merasa kehilangan.
Begitu juga dengan Devan, sama halnya yang tengah dirasakan oleh Aditya, sama-sama kehilangan orang yang sangat berarti.
'Tante, Tante ada dimana? Devan gak mau kehilangan Tante. Devan janji, Devan akan penuhi permintaan Tante, ayolah Tante, tunjukkin titik terangnya, Tante ada dimana sekarang?' batin Devan sambil menangis.
Vando sendiri tengah sibuk memanggil nama anaknya, dan juga ibunya.
"Pak, itu apa itu, ayo kita lihat itu, seperti bentuk orang itu." Ucap salah seorang dari tim yang melihat sesuatu yang mirip orang yang terdampar.
"Iya itu, sepertinya benar. Ayo kita ke sana, ayo." Jawab satu timnya.
Karena penasaran, Devan maupun Vando dan Aditya, sudah tidak sabar untuk mengeceknya.
Saat sudah menepi, alangkah terkejutnya saat melihat kenyataan bahwa benar dua korban yang terseret ombak.
"Savan...! Mama...!"
"Savan...! Tante...!"
__ADS_1
"Savan...!"
Mereka berteriak histeris.
Nahas, beberapa tim tengah menghadang mereka bertiga agar tidak langsung mendekat. Tentunya tim lah yang akan memeriksakan korban.
"Lepaskan!" Bentak Vando maupun Aditya dan juga Devan.
Tetap saja, mereka ditahan agar tidak gegabah. Beberapa tim tengah menahan serta melarang mereka untuk mendekat, yakni akan diperiksa terlebih dulu oleh anggota tim.
"Bagaimana?" tanya salah satu anggota tim untuk dimintai keterangan.
"Mereka sudah tiada, yang berarti tidak selamat. Korban telah meninggal dunia."
Devan, Aditya, Vando, mereka yang mendengarnya, pun sangat shock.
"Apa!"
"Tidak, tidak mungkin. Mereka masih hidup."
"Savan...! Mama...!" teriak Vando yang sangat berat kehilangan kedua orang yang sangat berarti dalam hidupnya.
Tubuh Devan maupun Aditya, keduanya sama-sama terjatuh di dekat korban. Mereka menangis histeris saat mendapati kenyataan bahwa Savan dan neneknya ditemukan dengan kondisi yang tidak bernyawa.
Saat itu juga, mereka ditangani oleh beberapa tim, dan dilarikan ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan korban.
Devan, Vando, juga Aditya, ketiganya tidak berdaya dengan kenyataan pahit yang diterima oleh mereka.
Tuan Boni ikut terkejut mendengar kenyataan saat kabar duka telah ia terima. Sungguh sangat menyayat hatinya.
Ponselnya pun jatuh seketika di hadapan anak dan istrinya, juga Yena yang tengah menemani Liyan dengan kondisi yang lemah.
Tuan Boni menggelengkan kepalanya.
"Kamu sama Yena jaga Liyan, aku mau keluar sebentar." Jawab Tuan Boni yang langsung mengambil ponselnya, dan bergegas keluar untuk menunggu korban yang sedang dalam perjalanan.
Liyan yang merasa aneh dengan ayahnya, ingin menyusul.
"Ma, Papa kenapa?" tanya Liyan penasaran.
"Mama tidak tahu, semoga saja Savan sama neneknya ditemukan. Kamu jangan terlalu banyak pikiran, berprasangka baik lah dulu."
"Tidak, Ma. Aku harus menyusul Papa." Ucap Liyan yang langsung melepaskan selang infus.
Dengan tenaga seadanya, Liyan berusaha tetap memberontak, meski harus mendorong ibunya maupun Yena.
Tidak peduli juga, jika Liyan mendorong kakaknya yang hendak masuk ke ruangannya.
"Liyan! tunggu, Nak."
"Liyan!"
"Liyan! jangan pergi. Tunggu aku."
Yena dan Ibunya Liyan, juga Zavan sangat kakak tengah berteriak memanggil Liyan dan berusaha untuk mengejar.
Seketika, tubuh Liyan sontak terkunci dan sulit untuk berjalan saat mendapati banyak tim yang sedang memproses korban untuk dibawa masuk ke rumah sakit.
__ADS_1
Ditambah lagi ada Devan dan suaminya, juga Aditya yang ikut dalam satu mobil ambulan.
"Tidak...!" Teriak Liyan sangat nyaring suaranya.
Vando maupun Devan dan Aditya yang mendengar teriakan Liyan, langsung menoleh. Saat itu juga, Devan berlari menangkap tubuh Liyan yang dilihat mau pingsan.
Vando yang sulit untuk berpihak ke siapa, akhirnya memilih untuk mengabaikan istrinya, dan fokus dengan anaknya maupun ibunya.
Aditya sendiri menemani Vando. Sedangkan Tuan Boni dan Zavan mengikuti Aditya dan Vando.
Devan yang begitu mencemaskan keadaan mantan istrinya, langsung membawanya ke ruang rawat pasien untuk dilakukan penanganan.
Ibunya Liyan sangat panik, termasuk Yena.
"Kenapa Liyan bisa kabur, Tante?" tanya Devan sambil menunggu Dokter selesai menangani Liyan.
"Tadi ayahnya Liyan dapat telepon, dan ponselnya jatuh ke lantai. Disitulah Liyan ingin mengetahui kebenarannya, dan mengejar ayahnya. Tapi, gak tahunya-"
"Iya, Tante, Savan dan neneknya tidak terselamatkan. Takdir berkata lain, Liyan harus kehilangan anak kesayangannya. Juga, aku yang kehilangan Tante Sevira." Ucap Devan yang kembali menitikkan air matanya.
"Kasihan Liyan, hari bahagianya telah direnggut hanya dalam sehari. Ini semua salah kami, yang sudah menghancurkan hidupnya, dan harus kehilangan harta yang paling berharga. Tante sama kamu Devan, tolong hibur dia, semangati dia, jangan sampai dia terpuruk yang kedua kalinya." Kata ibunya yang juga ikutan menangis.
Devan menganggukkan kepalanya.
"Iya, Tante. Aku akan akan berusaha menghibur Liyan." Jawab Devan dengan napas yang terasa sesak.
Jalan hidup yang penuh liku, dan kini semua merasa kehilangan orang yang disayangi.
Vando yang tengah duduk termenung, juga Aditya yang begitu shock mendapati kenyataan pahit, membuatnya tertunduk sedih.
"Aku turut berdukacita atas perginya keponakan aku, dan juga Mama kamu. Semua sudah takdir, tidak ada yang bisa disalahkan." Ucap Zavan yang tengah duduk berada ditengah-tengah Aditya dan Vando.
Pikiran yang tidak karuan, membuat Vando maupun Aditya sama-sama duduk termenung. Keduanya sama-sama hilang selera untuk bicara.
Kenyataan yang begitu pahit untuk diterima. Aditya tidak bisa membayangkan perasaan Liyan ketika mengetahui jika anak kesayangannya telah meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Kenangan indah yang begitu banyak telah dilewati bersama, kini seolah semuanya sirna bak ditelan bumi. Hancur sudah harapan yang pernah terukir dalam ingatan.
Karena harus diproses, dan segera dibawa pulang ke rumah duka, Vando bersama Aditya diminta untuk bersiap-siap untuk pulang.
Zavan yang takut terjadi sesuatu pada Vando dan Aditya, tetap berjaga-jaga berada di dekatnya.
Liyan yang belum sadarkan diri, begitu shock ketika mendapati kenyataan yang sangat menyakitkan. Terlebih lagi melihat kerumunan para anggota tim dan juga polisi, membuatnya sulit untuk mencernanya.
Devan yang tengah menemani Liyan, terasa kasihan melihat kondisi mantan istrinya yang terlihat pucat.
"Kasihan kamu, Liyan. Baru juga bahagia, kamu harus menerima kenyataan pahit yang seperti ini." Gumamnya sambil memandangi wajah Liyan yang terlihat pucat.
Karena kondisi fisiknya yang masih lemah, dengan terpaksa Liyan tetap dirawat di rumah sakit. Jadi, proses pemakaman hanya Vando, Aditya, Zavan, dan Tuan Boni, serta anggota keluarga yang lainnya.
Sedangkan Devan, bersama ibunya Liyan, dan juga Yena, kini tengah menemani Liyan di rumah sakit. Tuan Boni maupun istrinya lebih mempercayai Devan ketimbang Aditya yang diketahui mempunyai rasa pada putrinya.
Meski mereka mengetahui sudah lama mengenal Liyan, tetap saja, Tuan Boni lebih percaya soal Devan.
Proses pemakaman pun sudah disiapkan oleh beberapa asisten rumah dan pekerja lainnya yang ikut membantu.
Liyan yang baru sadarkan diri, pelan-pelan menggerakkan jari jemarinya. Kemudian, Liyan mengamati isi dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
"Savan, Savan anakku. Savan, kamu ada dimana?"
Liyan langsung terbangun saat mengigau sambil memanggil nama putranya.