Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Takut


__ADS_3

Saat membuka pintu, rupanya benar putranya yang memanggil.


"Savan, ada apa, sayang?" tanya Vando.


"Ayah, Bunda dimana?"


"Ada apa, sayang? ini Bunda." sahut Liyan yang sudah berdiri didekat suaminya.


Saat itu juga, Savan langsung menarik tangan ibundanya.


"Savan, pelan-pelan jalannya, sayang. Nanti jatuh, sakit." Ucap Liyan sambil mengikuti ajakan dari putranya.


Vando sendiri merasa heran, pun segera mengikuti kemana Savan mengajak istrinya.


"Aunty! Paman Aditya." Teriak Savan memanggil Yena, juga Aditya.


Liyan sangat terkejut saat melihat siapa yang datang ke rumah.


Saat itu juga, Yena maupun Aditya langsung menoleh. Kemudian, keduanya langsung bangkit dari posisi duduknya.


Vando yang masih dianak tangga, melihatnya pun terasa cemburu saat Aditya datang ke rumahnya. Belum juga ditelepon, sudah datang lebih awal, pikirnya.


Liyan yang sudah lama tidak berkomunikasi dengan Yena, langsung berlari mendekati Yena.


"Yena! Yen!" teriak Liyan histeris, dan langsung memeluknya.


Bukannya berucap, justru Yena menangis sesenggukan. Liyan yang mendapati Yena menangis, langsung melepaskan pelukannya. Kemudian, Liyan mengusap air matanya.


"Kenapa kamu menangis? Ibu mana? kok gak ikut bareng kalian. Ibu Arum mana? Yen, Mana ibu kamu?" tanya Liyan dibuatnya bingung yang melihat Yena menangis saat ia peluk.


"Bude Arum sudah meninggal." Jawab Aditya yang akhirnya mengatakannya dengan jujur.


Liyan langsung mengarahkan pandangannya ke arah Aditya.


"Kamu bilang apa, tadi? Ibu Arum sudah meninggal katamu?" tanya Liyan sambil mendekati Aditya dengan jarak yang sangat dekat.


Aditya memegangi kedua lengannya, yakni untuk meyakinkan Liyan.


"Benar. Bude Arum sudah meninggal. Di kampung terjadi banjir bandang, dan Bude Arum menjadi korban bencana alam. Aku juga baru mengetahuinya kemarin. Rencana kemarin sore aku mau ke kampung, tapi rupanya Yena sudah datang ke kota." Ucap Aditya menjelaskan.


Vando yang menyimpan penasaran soal yang tengah dibicarakan oleh Yena, Liyan, dan Aditya, pun segera mendekatinya. Lebih lagi Aditya memegangi lengan istrinya, semakin cemburu melihatnya.

__ADS_1


"Lepaskan. Kamu harus tahu batasannya. Liyan sudah menjadi istriku. Jangan pernah menyentuhnya, walau hanya sekedar lengan." Ucap Vando yang langsung ngegas cara bicaranya.


"Maaf. Tadi aku reflek. Oh iya, sekalian aku mau pamit, aku mau berangkat ke kantor. Dan kamu Yena, mau disini dulu atau ikut aku."


"Paman mau kemana?" tanya Savan yang sudah memegangi ujung bajunya paling bawah.


Aditya langsung mengarahkan pandangan ke Savan, kemudian berjongkok di depannya.


"Paman mau berangkat kerja. Hari ini bukan hari libur. Jadi, Paman harus kerja. Savan kalau masih kangen sama Aunty, boleh kok Aunty ditahan. Nanti Paman datang lagi ke sini, jemput Aunty."


"Yeah! Paman pergi lagi."


Aditya berusaha untuk tersenyum di hadapan Savan.


"Jangan gitu dong sama Paman. Nanti Savan mau minta dibeliin apa? robot, permainan, atau jajan? ayo pilih, maunya Savan apa?"


"Savan maunya jalan-jalan sama Paman, titik." Jawab Savan yang tidak memilih pilihan yang diberikan oleh Aditya.


Merasa tidak enak hati, itu sudah pasti. Lebih lagi ada Vando sang ayah, pastinya takut ada kesalahpahaman.


Sekilas si Aditya mengarahkan pandangannya ke Vando.


"Gak apa-apa kalau mau mengajak Savan jalan-jalan, diajak nginap di rumah kamu juga boleh." Ucap Vando dengan suara yang kedengaran gak enak untuk didengar dari segi nada bicaranya.


Semua yang mendengarnya, pun sama diamnya, hanya tersenyum tipis. Ibunya Vando yang melihat suasana yang cukup tegang, merasa kasihan dengan posisi masing-masing. Mau bagaimanapun, diantara mereka tidak ada yang salah.


"Ya udah ya, Paman pamit kerja dulu. Em- nanti Paman datang ke sini lagi buat jemput Aunty." Ucap Aditya memilih segera pamit untuk pergi.


"Jemput Savan juga ya, Paman."


Aditya mengangguk.


"Iya, Savan. Nanti Paman jemput Savan, juga Aunty."


Setelah itu, Aditya pamit dan bergegas keluar dan segera berangkat ke kantor. Vando yang masih dikuasai emosi dan kekesalannya, ia cepat-cepat ke ruang kerjanya untuk mengambil sesuatu yang akan dibawa ke kantor.


Liyan yang takut suaminya emosi dan tidak terkendali, langsung mengejar. Sedangkan ibunya Vando mengajak Yena dan Savan ke ruang lainnya, tentunya agar perdebatan antara Liyan dan Vando tidak didengar oleh Savan.


Liyan yang melihat suaminya buru-buru mengenakan baju kerjanya, pun langsung berdiri di hadapannya.


"Kamu marah? jangan berangkat ke kantor dulu. Kamu masih dikuasai emosi kamu. Kasihan karyawan kamu kalau sampai kena imbasnya."

__ADS_1


"Sudahlah, jangan menghalangi aku. Aku mau berangkat kerja."


"Kamu gak sarapan dulu? aku bawakan bekalnya ya?"


Vando langsung menoleh kebelakang.


"Gak perlu, aku sudah kenyang." Jawab Vando dan segera keluar dan berangkat ke kantor.


Liyan yang takut kenapa-napa dengan suaminya, memilih untuk mengejar suaminya. Takut, itu sudah pasti. Lebih lagi si Liyan belum mengetahui dengan pasti soal karakternya.


Vando sendiri yang sudah siap melajukan mobilnya, otaknya kembali terasa mendidih saat mendapati sosok Aditya menampakkan wajahnya di hadapan istrinya.


Dengan kecepatan tinggi, Vando menyetir mobilnya secara tidak beraturan di jalanan. Tidak peduli baginya jika harus kena tilang sekalipun. Baginya, yang terpenting emosinya dapat tersalurkan.


Liyan yang tengah mengendarai mobilnya dengan susah payah untuk mengejar mobil suaminya, rupanya mendapat kesialan, lantaran mobilnya macet di jalanan.


"Sial! kenapa juga harus mogok gini sih." Umpatnya dengan kekesalan.


Karena mengganggu jalanan, seseorang yang berada di mobil yang di belakang, pun turun dan menghampiri Liyan.


"Liyan. Kamu."


"Kak Devan."


"Mobil kamu kenapa? dan kamu mau kemana?" tanya Devan.


"Gak tahu kenapa mobilnya mogok. Aku mau mengejar Vando, aku takut terjadi apa-apa dengannya. Juga, takutnya ngejar Aditya." Jawab Liyan dengan cemas.


"Ngejar Aditya, gimana ceritanya?"


"Panjang ceritanya. Tadi Aditya bersama Yena datang ke rumah."


"Ya udah, mendingan kamu ikut aku. Aku akan bantu kamu ngejar Vando. Ayo. Mobil kamu, nanti aku yang akan urus." Ajak Devan, Liyan sendiri menerima ajakan dari mantan suaminya.


Didalam mobil, Liyan terdiam, merasa malu udah pasti. Lebih lagi dirinya pernah membuat masalah, tentu saja malu saat hanya berdua dengannya mantan suaminya.


"Jangan banyak melamun, gak baik." Ucap Devan sambil menyetir mobilnya, dan sekilas memperhatikan mantan istrinya.


Liyan sendiri tidak menanggapinya. Dirinya masih melihat jalanan lewat jendela kaca mobil.


Di lain posisi, Vando masih dengan kecepatannya, ia sedikit mengingat mobil yang sering dipakai Aditya.

__ADS_1


Saat melihat mobil yang ia tebak miliknya Aditya, pun langsung menyalip dengan kecepatan tinggi, dan sengaja berhenti. Tentu saja, Aditya mengerem mendadak, untungnya tidak ada mobil antrian dari belakang.


Aditya yang belum mengetahui siapa orangnya, pun segera keluar dari mobil. Alangkah terkejutnya saat melihat sosok laki-laki yang ia kenali, yakni Vando.


__ADS_2