
Selesai mandi, Liyan mengajak Savan sarapan pagi. Sedangkan yang lainnya sudah menunggu.
"Selamat pagi, Savan. Dah ganteng nih, cucunya nenek. Gimana tidurnya semalam, nyenyak?" sapa istrinya Tuan Boni kepada Savan cucunya.
Savan mengangguk.
"Sini, duduk di sebelahnya Kakek. Ayo, jangan malu-malu sama Kakek. Ini juga rumahnya Savan, jangan takut. Sini, temani Kakek sarapan." Ucap Tuan Boni sambil membujuk cucunya.
Savan tidak menjawab, justru menoleh ke arah Liyan. Tentu saja meminta persetujuan terlebih dahulu.
Liyan yang mengerti maksudnya, pun mengangguk, yakni memberi kode kepada putranya.
"Savan boleh duduk didekatnya Kakek, Ayahnya Bunda, ya Kakeknya Savan. Jangan takut, Kakek orang baik. Kita semua yang ada disini itu keluarga, baik semua. Savan gak perlu takut. Sekarang kita sarapan bareng sama Kakek, Nenek, dan Paman Zavan." Ucap Liyan berusaha untuk membujuk.
"Bunda gak bohong, 'kan?" tanya Savan.
"Enggak, sayang. Kakeknya Savan, ya Ayahnya Bunda sama Paman Zavan." Jawab Liyan.
"Benar, Savan. Ini Kakeknya Savan. Sini, duduk di sebelahnya Kakek." Ucap Tuan Boni meyakinkan cucunya.
"Iya, Savan. Ini beneran Kakeknya Savan. Ayo, sini, atau mau duduk didekatnya Nenek." Timpal istrinya Tuan Boni.
Savan yang percaya dengan ucapan ibunya, ia langsung duduk di sebelah Tuan Boni.
"Nah, Kakek 'kan, jadi ada temannya, yaitu Savan. Kita sarapan bareng ya, biar gak sendirian. Savan mau makan apa? roti atau bubu?"
"Em- Savan suka bubur, Nenek Arum sering masak bubur, tapi-"
"Tapi kenapa, Savan?"
"Sekarang gak ada Nenek Arum, sama aunty Yena, paman Aditya." Jawab Savan dengan lesu.
__ADS_1
"Paman Aditya, nenek Arum, sama aunty Yena. Baiklah, kapan-kapan nanti akan dijemput sama supirnya Kakek, gimana?"
"Hore... asik... Kakek gak bohong, 'kan?"
"Tapi gak sekarang, nanti kalau ada waktu luang, pasti akan Kakek kabulkan keinginannya Savan. Sekarang ini lebih baik kita sarapan dulu. Soalnya Kakek sama Paman Zavan mau berangkat kerja di kantor."
Savan sendiri mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah itu, mereka semua menikmati sarapan pagi bersama. Namun, Liyan justru tersedak.
"Kalau makan tuh ya, jangan ngelamun. Begini nih jadinya, tersedak 'kan? nih, diminum dulu." Ucap Zavan yang langsung menyodorkan air minumnya kepada adiknya.
"Siapa yang ngelamun, ini tuh salah pernapasannya saja pas makan. Hem." Jawab Liyan mencoba untuk mengelak.
"Ya siapa tahu aja lagi ngelamunin yang itu, yang sana, tapi gak ada yang disini." Ledek Zavan yang sudah lama tidak bersenda gurau.
Ibunya menggelengkan kepalanya, seperti mengulang kembali masa-masa yang sudah lewat.
"Sudah, sudah. Malu sama anak kecil. Sudah pada dewasanya juga, masih saja suka berantem. Gak malu apa kalian, sama Savan. Habisin dulu makanannya, ngobrolnya nanti dilanjutkan lagi kalau sudah habis makanan kalian." Ucap ibunya mencoba untuk melerai kedua anaknya yang sering saling meledek.
"Iya, Ma, iya." Jawab keduanya bersamaan.
Namun, sebelum berangkat, Tuan Boni mendekati putrinya.
"Nanti kalau Vando datang kesini dan jemput kamu untuk diajak ke rumahnya, jangan lupa jaga sikap kamu dengan baik. Di sana ada mantan suami kamu, jaga diri kamu baik-baik. Mau bagaimanapun, perceraian kamu dengan Devan, kamu yang mulai. Jadi, Papa hanya mengingatkan saja sama kamu. Papa hanya tidak ingin ada masalah yang berkepanjangan. Bukannya Papa gak mau merestui hubungan kamu, masalahnya Devan dan Vando adalah sodara satu rumah. Maka dari itu, jaga sikapmu ketika berada di rumahnya." Ucap Tuan Boni memberi nasehat kecil untuk putrinya.
"Iya, Pa. Liyan ngerti maksud ucapan dari Papa. Semoga semuanya baik-baik saja. Ini sudah menjadi konsekuensi Liyan yang harus berani menanggung resikonya. Makasih ya, Pa, udah ngingetin Liyan. Maafkan Liyan yang sudah membuat Papa malu, juga sudah membuat keluarga harus menanggung akibat ulah Liyan." Jawab Liyan sambil menunduk karena malu atas perbuatannya.
"Yang berlalu biarlah berlalu. Sekarang kamu sudah ada Savan, kamu harus fokus dengan masa depan kamu bersama Savan, dan juga suami kamu nanti." Ucap sang ayah mengingatkan.
Liyan mengangguk.
"Iya, Pa." Jawab Liyan.
__ADS_1
"Ya sudah, Papa mau berangkat ke kantor. Ingat pesan dari Papa." Ucap Tuan Boni sekaligus pamitan.
Setelah tidak ada yang ingin dibicarakan, Tuan Boni segera berangkat ke kantor bersama Zavan putranya. Sedangkan Liyan, kini tengah bersama ibunya.
Liyan yang tidak ingin Savan kesepian, akhirnya meminta tolong sama asisten rumah untuk menemani Savan bermain.
"Kamu yang semangat, ya. Semua demi Savan, kamu pasti bisa. Yang lalu biarlah berlalu, saatnya kamu bahagia bersama anak dan suami kamu. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya bersedih, pasti menginginkan anaknya bahagia. Mama hanya bisa mendoakan kamu, semoga pilihan kamu untuk menikah dengan Vando, adalah kebahagiaan kamu, juga kebahagiaannya Savan." Ucap ibunya.
Liyan menarik napasnya panjang, dan membuangnya perlahan.
"Makasih banyak ya, Ma, atas doa dari Mama. Maafkan Liyan yang pernah mengecewakan Mama. Liyan janji, Liyan gak akan mengulanginya lagi. Mulai sekarang dan seterusnya, Liyan akan berhati-hati dalam bersikap maupun menentukan pilihan. Semoga pilihan Liyan ini, memang yang terbaik untuk Liyan, juga Savan." Jawab Liyan.
Kemudian, Liyan memeluk Ibunya dengan erat.
"Takutnya nanti Vando menunggu lama, mendingan kamu bersiap-siap." Ucap ibunya mengingatkan.
"Iya, Ma. Kalau gitu, Liyan ke kamar dulu ya, Ma. Makasih atas nasehat dari Mama." Jawab Liyan dan segera ke kamar untuk bersiap-siap.
Saat sudah berada di dalam kamar, Liyan menyibukkan diri dengan ponselnya untuk menghilangkan kejenuhannya.
Saat baru saja membuka layar ponselnya, tiba-tiba Liyan dikagetkan dengan pesan masuk dari seseorang. Siapa lagi kalau bukan Aditya yang menanyakan kabar.
Neyla segera membalas pesan masuk dari Aditya, dan mendapat balasan dengan memberi emoji. Liyan tersenyum membacanya, serta emoji yang membuatnya gemes.
Karena harus bersiap-siap untuk berangkat ke rumahnya Vando, Liyan meletakkan ponselnya. Namun, tiba-tiba ponselnya berdering. Liyan yang penasaran dan ingin tahu siapa yang menelpon dirinya, ia melihat layar ponselnya.
"Vando." Gumamnya menyebutkan nama calon suaminya.
Karena penasaran, akhirnya menerima panggilan dari Vando. Dengan fokus, Neyla mendengarnya dengan fokus.
"Iya, aku lagi siap-siap. Kalau mau jemput, datang aja ke rumah." Jawab Liyan lewat sambungan telepon.
__ADS_1
Telepon pun dimatikan, Liyan segera bersiap-siap dan memanggil asisten rumah untuk membantunya menggantikan pakaian untuk Savan.
Setelah bersiap-siap, Liyan bergegas keluar dari kamar.