Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Membahas masalah


__ADS_3

Aditya merasa bingung saat Vando yang tiba-tiba menghampiri dirinya.


"Aku peringatkan kamu yang terakhir kalinya, jangan sekali-kali datang ke rumahku. Juga, aku melarang kamu untuk bertemu dengan istriku. Tidak hanya itu saja, jauhi Savan putraku. Dia bukan anakmu, tapi Savan anak kandungku, darah daging ku sendiri. Camkan, itu baik-baik." Ucap Vando memberi peringatan kepada Aditya.


Mendengar ancaman dari Vando, Aditya mengatur napasnya.


"Baik. Aku tidak akan menampakkan lagi wajahku di hadapan istrimu maupun Savan putramu. Tapi jangan salahkan aku jika istrimu dan anakmu datang menemui aku." Jawab Aditya dengan tegas.


Tanpa peduli siapa yang sedang dihadapi Vando, dengan penuh emosi, Vando melayangkan sebuah tinjuan tepat ke sudut bibirnya Aditya.


BUG!


Aditya meringis kesakitan saat mendapati sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah yang segar.


"Hentikan!" Bentak Liyan melerai suaminya maupun Aditya dengan cara merentangkan kedua tangannya tepat di depan Aditya.


Vando yang sudah emosi saat melihat istrinya yang justru berdiri di depan Aditya, napasnya memburu dan terasa panas.


Devan yang melihatnya, pun langsung menarik lengannya Liyan agar menjauh dari Aditya.


Lagi-lagi Vando terbakar api cemburu saat ada dua lelaki yang ada dihadapannya.


"Ini jalan umum, tidak baik untuk adu otot, atau adu paling benar. Sekarang kita selesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Kalian laki-laki semua, 'kan? gunakan otak waras kalian berdua. Liyan bukan barang rebutan, juga bukan barang perdebatan. Selesaikan masalah kalian dengan baik, dan dengan kepala dingin. Aku tunggu kalian di tepi Danau Seruling. Liyan bersamaku." Ucap Devan menatap satu persatu kepada Vando maupun Aditya dengan tatapan serius.


Vando yang terasa dongkol ketika mendengar bahwa istrinya ikut Devan, pun hanya mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.


"Liyan itu istriku, bukan istrimu. Punya hak apa kamu membawa istriku? ha. Jangan sok paling bijak kau. Biar Liyan bersamaku." Jawab Vando yang tidak terima jika istrinya ikut bersama Devan, saudara sepupunya.

__ADS_1


"Kamu lupa, kamu yang sudah menghancurkan rumah tanggaku. Kemarin kamu sok bijak menghadapi ku, kini otakmu sudah berubah menjadi brutal. Oh, cemburu? cemburu boleh, tapi pakai otak." Ucap Devan yang kita tidak terima ketika Vando mulai berani dengan dirinya.


Liyan yang tengah menghadapi tiga lelaki yang sama emosinya, bingung harus bagaimana. Satu sisi suaminya tengah dikuasai emosi, yang satunya mantan suaminya juga mulai terpancing emosi, sedangkan Aditya masih menjadi pendengar, namun dirinya sudah mendapat ancaman.


Saat mobil mereka tengah berhenti dipinggiran, jalan, tetap saja mengganggu pengendara lainnya. Seseorang yang merasa geram, pun segera turun dari mobilnya dan mencoba untuk mengetahui ada apanya.


Terkejut sudah pasti, lantaran yang dilihat tidak lain semuanya dikenal.


"Kalian, kok ada disini semua?" tanya Zavan.


Liyan yang mendapati sang kakak, memilih berdiri di dekatnya. Kemudian, Liyan melingkarkan tangannya di lengan kakaknya.


"Tanya sendiri sama adik ipar mu, Zav. Dia yang sudah membuat onar di jalanan. Siap-siap kalau kita akan segera mendapat panggilan karena sudah mengganggu lalu lintas kendaraan." Jawab Devan tanpa ada yang ditutup tutupi.


"Karena ini jalanan umum, kita selesaikan di tempat lain." Ucap Zavan yang akhirnya mencari solusi untuk menyelesaikan masalah.


Setelah itu, Devan, Aditya, dan Vando, mereka bertiga mengikuti Zavan yang jalan paling depan. Tidak memakan waktu lama karena jarak ke Danau Seruling tidak lah jauh.


Zavan yang mendapati adik perempuannya yang seperti banyak pikiran, terasa kasihan melihatnya.


"Kita sudah sampai. Ini, minum dulu, biar pikiran kamu agak tenang. Katakan sama Kakak, kamu ada masalah apa? pernikahan juga baru kemarin. Jangan takut, Kakak akan melindungi mu."


"Vando cemburu sama Aditya. Hanya itu yang aku tangkap. Tapi, gak tahu kalau sama Kak Devan." Jawab Liyan dengan menunduk karena malu.


"Ini 'kan, jalan yang kamu mau? lebih memilih ego mu ketimbang bertahan dengan Devan. Kamu harus siapkan mental mu. Kamu sudah menikah, dan suami kamu sekarang itu Vando. Jadi, kamu harus mengetahui karakter suami kamu. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari." Ucap sang kakak memberi nasehat kecil kepada adiknya.


Liyan terdiam, penyesalan tinggallah penyesalan.

__ADS_1


"Entah lah Kak, aku sendiri bingung. Aku tidak tahu dengan perasaan ku sendiri." Jawab Liyan yang tiba-tiba menitikkan air matanya.


"Sudah, jangan menangis. Sudah menjadi pilihanmu. Wajar saja kalau Vando cemburu, mungkin suami kamu takut kehilangan mu. Berpikirlah dengan positif. Ayo, kita turun. Kamu hadapi mereka dengan baik, jangan kamu pakai ego-mu." Ucapnya, Liyan mengangguk dan bergegas turun dari mobil.


Sedangkan Aditya, Vando, dan Devan, mereka bertiga sudah duduk didekat Danau Seruling. Kemudian, Liyan bersama kakaknya.


Saat mereka semua sudah duduk dan saling berhadapan, Liyan sama sekali tidak berani mendongak.


"Sebenarnya ini sangat memalukan. Tapi, aku bisa apa? sekarang juga, jelaskan permasalahannya kepadaku." Ucap Zavan menatap satu persatu di antara mereka bertiga.


Devan memilih diam, lantaran permasalahan tidak ada kaitannya dengan dirinya, melainkan permasalahan Vando dengan Aditya.


"Aku tidak tahu menahu, karena Vando yang mengejar ku." Jawab Aditya.


"Karena kamu yang sudah lancang main ke rumahku tanpa izin dariku." Sahut Vando masih emosi.


"Mana aku tahu, niatku datang ke rumahmu, hanya mengantarkan Yena. Aku datang juga dengan baik-baik, tidak sendirian. Aku mempunyai alasan yang kuat. Bagaimana aku bisa menolak, sedangkan Ibunya Yena telah meninggal karena adanya bencana banjir bandang di kampungnya. Terus, aku harus menolaknya, begitu kah?"


Vando yang mendengar penjelasan dari Aditya, sedikit menciut.


"Kalau kamu menginginkan ku untuk tidak menemui Liyan, oke, aku akan menurutinya. Termasuk menjauhi Savan putramu, sesuai yang kamu inginkan tadi. Satu lagi pesanku, jaga baik-baik hubungan kamu dengan Liyan." Ucapnya lagi.


Devan sendiri hanya menjadi pendengar setia, dirinya sama sekali tidak ikut campur dengan masalah yang sedang dibicarakan oleh Vando bersama Aditya.


"Dan kamu Kak Devan, aku pun melarang mu untuk bertemu dengan istri ku. Juga, gak usah ikut campur dengan rumah tanggaku. Kamu bukan lagi istrinya Liyan, melainkan hanya mantan." Ucap Vando yang kedengaran sombong di telinganya Devan.


Namun, setelah dicerna, dirinya dapat memahami kecemburuan yang tengah menguasai saudara sepupunya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa memastikan. Karena aku gak tahu dengan situasi, keadaan, maupun kebetulan. Bisa saja, aku justru akan sering bertemu dengan istrimu. Atau, malah dengan Aditya. Jangan diambil hati. Kalau kamu menyikapinya dengan baik, istrimu tidak akan meninggalkanmu." Jawab Devan yang kini justru sengaja menantang Vando, yakni agar berpikir positif dan tidak terus-menerus berprasangka buruk kepada siapapun.


__ADS_2