
Setelah semuanya terkejut, semua mengidamkan sosok Aditya yang berubah drastis, pikirnya.
Sedangkan Vando yang sejak tadi memperhatikan kerumunan para pekerja, tidak mendapatkan satu orang pun yang mencurigakan.
'Aku harus mencari mu dimana lagi, Liyan?'
Batin Vando bertanya-tanya mencari keberadaan Liyan yang sudah sekian lama tidak bertemu. Rasa sesal yang terus-menerus menambah pikiran untuknya, karena sama sekali belum menemukan keberadaan orang yang dicintainya.
Cukup lama dalam proses pembahasan kerja sama, tidak terasa acara pun telah selesai. Vando yang masih menyimpan rasa penasaran, ia memilih untuk tidak pulang bersama Zivan maupun Devan.
"Kamu yakin, tidak mau langsung pulang ke tempat peristirahatan?" tanya Devan.
Vando menggelengkan kepalanya.
"Enggak. Sepertinya aku mau jalan-jalan sebentar di sekitaran kampung yang ada disini. Kesempatan ku terbatas, aku harus menyempatkan waktu sebaik mungkin." Jawab Vando.
"Baiklah. Aku tidak akan memaksakan mu, nanti hubungi saja kalau lupa jalan pulang." Ucap Devan.
Vando mengangguk.
"Tenang saja, aku tidak akan tersesat. Kalaupun tersesat, aku bisa meminta tolong sama warga. Ya udah ya, aku jalan-jalan sebentar." Jawab Vando.
__ADS_1
"Sudah siang ini loh, gak makan dulu?"
"Enggak. Nanti aku cari warung makan di sekitaran kampung sini. Kalian kalau makan, silakan. Jangan sia-siakan makan bersama orang yang sudah memberi kesempatan kepada kita untuk mengelola lahan di kampung sini. Ya udah ya, aku duluan. Nanti kalau ada yang tanya, bilang saja kalau aku ingin menikmati suasana di kampung sini." Jawab Vando.
"Ya, nanti akan aku sampaikan kalau ada yang menanyakan soal kamu." Sahut Zivan, Vando sendiri segera berjalan kaki untuk mencoba mencari keberadaan perempuan yang dicintainya.
Sedangkan Zivan bersama Devan, juga yang lainnya, kini tengah menikmati makan siangnya bersama Aditya.
"Bukankah tadi ada delapan tamu undangan? kemana yang satunya?" tanya Aditya yang merasa ada yang kurang.
"Oh. Ya, ada. Rekan kami, namanya Tuan Vando. Kedatangan dia kesini, selain menerima undangan, juga ingin menikmati suasana di kampung sini." Jawab Devan.
"Saya kira kemana. Tapi, tidak sendirian, 'kan? maksud saya ada yang menemaninya?"
"Oh, ya gak apa-apa. Semoga tidak tersesat. Oh ya, mari kita makan siang dulu, nanti kita lanjutkan lagi ngobrolnya." Ucap Aditya.
Sedangkan di luaran sana, Vando tengah berjalan cukup jauh dari tempat acara. Tidak terasa rasa dahaga membuatnya ingin istirahat. Untung saja, Vando menemukan warung untuk membeli air minum.
Namun, tiba-tiba arah pandangannya tertuju pada beberapa anak yang terlihat tengah berantem.
"Itu hadiah punyaku, berikan padaku." Ucapnya sambil memohon.
__ADS_1
"Enak aja hadiah kamu. Ini sudah menjadi milikku. Hu!"
"Bukan! itu hadiah punyaku. Cepat berikan padaku. Itu hadiah aku."
"Ini sudah menjadi milikku. Sana pergi."
Mereka yang masih terus berebutan hadiah, Vando langsung menghampirinya, yakni untuk melerai.
"Cukup, cukup, cukup. Ada apa ini? kenapa kalian berantem?"
"Itu Paman, hadiah punyaku diambil mereka."
"Bukan, Panam. Ini hadiah punyaku." Jawabnya yang tetap membela diri.
"Benar, itu hadiah kamu?" tanya Vando kepada anak yang terlihat sendirian tidak ada pembelaan, beda dengan yang satunya, ada teman yang berpihak.
"Iya, Paman. Itu hadiah aku, tadi dapat dari ibu guru di sekolah, aku menang lomba di sekolah." Jawabnya.
"Ya sudah. Nanti paman ganti yang lebih dari itu. Sekarang, ayo ikut Paman. Nanti Paman antar kamu pulang." Ucap Vando mencoba untuk membujuk.
"Paman serius? hore... terima kasih, Paman." Jawabnya dengan riang.
__ADS_1
Kemudian, Vando mengajaknya untuk membeli hadiah sebagai gantinya.