
Setelah semua akses yang dimiliki Devan harus diminta oleh Vando, mau tidak mau Devan pun menyetujui. Niatnya sih mau menolak, tapi Devan tidak mempunyai bukti lantaran orang tuanya di kasuskan menghabiskan banyaknya uang yang dihamburkan untuk kepentingan pribadi, serta telah melakukan kebocoran keuangan perusahaan.
Devan yang tidak mempunyai bukti yang kuat, tidak bisa berkutik di hadapan saudara sepupunya. Dengan terpaksa meski menyimpan perasaan kesal juga gram Devan tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.
"Kalau menurutmu bukti itu sangat jelas dan benar, aku berharap sama kamu untuk mengelola perusahaan milik keluarga Gavindra dengan baik." Ucapnya.
"Kamu tenang aja, semua akan baik-baik saja dan tidak perlu kamu khawatirkan soal perusahaan yang akan aku kelola. Kamu cukup mendengar berita jika aku akan sukses kedepannya, sedangkan kamu hidupmu akan hancur dan jatuh miskin."
"Syukurlah kalau begitu, aku tidak begitu cemas saat meninggalkan keluarga Gavindra dari Ingatanku. Aku berharap, bahwa kamu bisa menjadi pemilik perusahaan yang dapat menjanjikan keberhasilannya." Ucap Devan.
"Tentu saja perusahaan yang akan aku kelola akan berubah drastis. Bahkan, kamu sendiri sulit untuk mempercayainya, dan kamu tinggal tunggu dan pasti akan ada kabar terbaru untukmu." Kata Vando yang kini berubah karakternya.
Devan yang malas berdebat dengan saudara sepupunya itu, dirinya memilih untuk pulang tanpa mobil yang ia bawa. Sesuai perintah dari Vando, Devan benar-benar pergi dengan tangan yang kosong, dan dengan terpaksa Devan harus naik ojek agar sampai ke rumahnya.
Dalam perjalanan pulang dengan terik matahari yang sangat panas, kini dirinya menuju rumah. Juga, ingatannya Devan kembali saat-saat bersama ibunya Vando. Kenangan yang begitu melekat bagi Devan, tidak akan pernah dilupakan. Mau bagaimanapun, Devan sudah dibesarkan, dan mendapat kasih sayang dari orang tuanya Vando sedari kecil.
Ketika sudah sampai di rumah , Devan segera bersiap-siap untuk pergi meninggalkan rumahnya.
Perasaan yang bercampur aduk rasanya, Devan memilih untuk angkat kaki dari rumah yang ia tempati. Hanya bermodal pakaian yang melekat di tubuhnya, kini tengah menyusuri jalanan. Hanya sebuah kotak peninggalan Tantenya, yang selama ini belum ia buka isinya.
Devan teringat jelas, jangan membuka kotak ini selama Tante masih hidup. Devan diizinkan untuk membuka kotak tersebut ketika Devan mendapatkan masalah besar, dan buntu untuk memecahkan masalah.
Karena tidak menaruh curiga apapun kepada tantenya, Devan sama sekali tidak menyimpan rasa penasaran untuk melihat isinya. Bahkan, saat ini dirinya tengah mendapatkan masalah, pun tidak ingin membukanya selagi jiwanya masih baik-baik saja.
Rasa haus karena dahaga dan tenggorokan terasa kering, Devan memilih untuk istirahat sejenak.
__ADS_1
Dengan penampilannya yang sederhana, Devan duduk sambil menunggu antrian untuk membeli minuman.
"Mas, mau kemana? kelihatan mau pindahan, tapi kok sedikit bawaannya."
"Iya, Pak. Saya lagi mau nyari kontrakan yang murahan, gak apa-apa lah, walau kecil." Jawab Devan sambil menunggu air minum datang.
"Kalau mau nyari kontrakan sejenis kos-kosan mah, ada banyak. Tapi, lumayan agak masuk gang sih." Kata sang Bapak pemilik warung.
"Boleh, gak apa-apa kok, Pak. Mau jalan lorong juga gak masalah, yang penting bisa untuk berteduh sementara waktu." Jawab Devan sedikit merasa lega, lantaran tidak harus tidur lewat emperan orang.
"Ya udah, nanti Bapak antar kamu ke kontrakannya Bapak. Kamu tunggu sebentar, Bapak mau ambilkan air minum, biar gak kelamaan ngantrinya."
"Iya, Pak, santai aja." Jawab Devan merasa bersyukur karena telah ditemukan orang baik.
Setelah membeli minuman, Devan diajak pemilik warung untuk diantarkannya ke rumah kos-kosannya.
Jarak yang tidak begitu jauh dari jalan raya, membuat Devan biasa-biasa saja ketika berjalan kaki menuju kos-kosan.
"Ini kos-kosannya, Nak. Maaf, masih kurang rapi modelnya. Soalnya Bapak minim modal, hanya ala kadarnya saja. Setidaknya masih dapat digunakan untuk istirahat. Kalau soal pembayaran mah, bisa bulanan."
"Syukur lah, Pak, kalau boleh bulanan. Sebenarnya sih, maunya langsung satu tahun saya lunasi, tapi saya belum punya pekerjaan tetap, Pak. Jadi, mohon dimaklumi ya, Pak. Janji deh, nanti kalau udah dapat pekerjaan, saya pastikan untuk membayarnya dengan lunas." Ucap Devan meyakinkan seseorang yang mempunyai kos-kosan.
"Kamu gak perlu panik, santai aja. Bapak mah gak memberatkan. Ya udah ya, Bapak mau kembali ke warung. Kalau kamu butuh kunci, kamu tinggal minta sama yang jaga kos-kosan, dia putranya Bapak, selalu jaga kos-kosan, karena takutnya dibuat tempat yang gak baik. Jadi, butuh pengawasan." Kata si Bapak, Devan sendiri mah hanya modal mengiyakan.
"Makasih banyak ya, Pak. Sebelumnya saya mau bayar tanda jadi, baru sebulan dulu gak apa-apa ya, Pak?"
__ADS_1
"Enggak apa-apa, gak masalah walau hanya sebulan." Jawabnya, Devan berusaha untuk bersikap ramah.
Setelah mendapat kos-kosan, Devan merasa lega. Kemudian, Devan bergegas untuk masuk ke dalam rumah kos, yakni untuk membersihkan, dan membereskannya.
Namun sebelum masuk, Devan meminta kunci rumah kepada anaknya pemilik kosan. Yakni, agar dirinya bisa masuk kedalam.
Ketika kunci kamar kos sudah dilunasi, Devan membersihkan isi dalam ruangannya. Juga, tidak lupa untuk menata barang miliknya yang hanya beberapa pakaian lengkap dan barang yang menurutnya sangat berharga.
Nasib yang begitu tragis, belum juga reda. Setelah konflik hubungan asmara hingga berujung fatal dan masalah besar, Devan mampu menerima kenyataan pahitnya. Kini, justru dirinya tengah diuji dengan saudaramu sendiri, maupun teman dekatnya.
Sambil membereskan ruangan yang hendak dijadikan tempat tinggalnya, tiba-tiba dikagetkan dengan suara ponsel miliknya yang terus berdering.
Devan yang penasaran dan ingin melihat siapa orangnya yang sudah menelpon, pun diraihnya ponsel miliknya untuk dilihat siapa yang menelpon dirinya.
Karena rasa penasaran, pada akhirnya diterima panggilannya.
"Iya, Liy, kenapa?" tanya Devan yang mengalihkan panggilan video pindah nelpon dengan akses biasa.
Dengan fokus, Devan mendengarnya. Saat mendapat rengekan dan meminta dirinya untuk mendatangi rumah mantan istrinya.
"Gimana ya, Liy, aku sibuk banget hari ini. Kerjaan aku belum selesai. Jadi, aku harus menyelesaikan pekerjaan yang gak bisa aku tinggalin." Jawabnya yang merasa telah berbohong.
Liyan yang berada di tempat lain, seperti tidak percaya dengan berita yang ia tonton lewat media televisi maupun media yang lainnya.
Karena harus disampaikan, Devan akhirnya mengiyakan dan mendengarkan apa yang akan diucapkan oleh mantan istrinya.
__ADS_1
Liyan yang sedikit ragu, namun juga penasaran dan ingin tahu langsung ucapan yang hendak bicara soal penting, pikirnya.