
Masih di rumah keluarga Gavindra, Vando dan Devan masih berada di ruang keluarga. Keduanya tengah menikmati cemilan dan ditemani siaran televisi.
"Gimana dengan anakmu si Savan, gak rewel, 'kan? maksud aku gak nangis saat kamu pulang ke rumah ini. Maaf, bukannya mau ikut campur, cuma sekedar tanya aja sama kamu. Juga, kamu gak perlu repot jika tidak mau menjawab."
"Aku gak tahu, soalnya aku gak pamit. Cuma, aku sudah meninggalkan pesan, kalau besok aku akan datang lagi buat jemput mereka. Aku mau memperkenalkan Savan dan Liyan sama Mamaku."
"Aku juga sudah mengurus surat perceraian dengan Liyan. Kamu tinggal menunggu waktunya saja. Gak usah khawatir, aku akan proses secepatnya." Ucap Devan sedikit berat untuk mengatakannya.
Mau bagaimanapun, Devan pernah menjalin hubungan asmara dengan Liya. Bahkan, dirinya juga sudah menikah. Namun, apa dayanya, semua tidak semanis mimpi dan harapannya. Sakit hati sudah pasti, tapi tidak membuatnya untuk melaksanakan kehendaknya.
Vando yang merasa bersalah karena sudah menghancurkan pernikahan saudara sepupunya, dirinya benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa, karena dirinya juga mencintainya. Selain itu, ada darah dagingnya yang hadir dalam hidupnya, dan Vando sendiri tidak mungkin untuk melepaskan Liyan begitu saja.
"Aku minta maaf, karena aku sudah menjadi pengacau." Kata Vando merasa bersalah.
"Kamu ngomong apa lagi, Van. Aku sudah merelakan Liyan bersamamu. Aku hanya berpesan, jaga Liyan dan juga Savan. Jangan buat mereka kecewa, cintai dan sayangi dengan tulus." Ucap Devan sebaik mungkin.
"Aku janji, aku akan menyayangi dan mencintai mereka dengan tulus. Terima kasih sudah mengizinkan ku untuk menikah dengan Liyan. Kalaupun aku tahu akan jadi seperti ini, mungkin aku akan lebih hati-hati dalam bersikap. Aku doakan, semoga kamu segera temukan perempuan yang tulus mencintai seperti mu."
Devan tersenyum mendengarnya.
"Makasih atas doanya. Kamu juga, semoga bahagia bersama Liyan dan Savan. Ya udah ya, aku mau ke kamar. Kalau kamu membutuhkan sesuatu, bicarakan saja denganku. Kamu gak perlu sungkan, anggap aja kita tidak pernah ada masalah. Ya udah ya, aku tinggal dulu." Ucap Devan yang langsung pamit ke kamarnya.
"Ya. Makasih." Jawab Vando.
Kemudian, Vando sendiri segera masuk ke kamar untuk istirahat sambil menunggu jam makan malam.
Sedangkan di tempat lain, yakni di kediaman keluarga Permana, Aditya yang disibukkan dengan laptopnya. Sambil menghilangkan kejenuhan, alih-alih membuka kenangan bersama Liyan. Harapannya begitu besar, yakni untuk mendapatkan cinta dari Liyan.
__ADS_1
Entah karena sudah dibutakan dengan perasaannya, sampai-sampai Aditya sama sekali tidak peduli jika dirinya terus berharap untuk mendapatkan perempuan yang sudah mencuri perhatiannya.
Merasa suntuk di depan layar laptop, Aditya melihat jam, dan rupanya sudah menandakan waktunya untuk makan malam. Karena memang sudah merasa lapar, Aditya keluar dari kamarnya.
Sambil celingukan, Aditya melihat-lihat isi dalam ruang tamu yang tidak berubah sama sekali. Semua masih terlihat sama, dan tetap elegan.
"Permisi, Tuan. Sudah waktunya untuk makan malam. Tuan Hendrick sudah menunggu." Ucap salah seorang asisten rumah.
Aditya mengangguk.
"Terima kasih." Jawab Aditya dan segera ke ruang makan.
Sampainya di ruang makan, didapatinya sang ayah yang sudah menunggunya.
"Duduk lah. Sudah lama Papa tidak makan bareng sama kamu, duduk lah." Ucap sang ayah.
Aditya mengangguk dan menarik kursinya. Kemudian, ia duduk didekat ayahnya.
"Aku gak kenal dengan keluarga yang barusan Papa sebutkan. Aku sudah menandatangani kerja sama yang pernah Papa suruh. Soal perkembangan selanjutnya, nanti aku akan balik ke kampung lagi." Jawab Aditya seperti tidak bersemangat.
"Kamu kenapa? perasaan dari tadi Papa perhatikan, kamu itu seperti ada masalah. Memangnya kamu ada masalah apa lagi, Dit?" tanya sang ayah yang tengah memperhatikan putranya yang terlihat lesu, dan seperti menahan beban dalam pikirannya.
"Tidak ada masalah apa-apa, cuma mungkin aja aku kecapean. Papa kan, tau sendiri perjalanan dari kampung ke kota itu seberapa lamanya. Jadi, ya wajar aja kalau aku kelihatan lesu." Jawab Aditya beralasan.
"Gak usah membohongi Papa. Katakan saja sama Papa, kalau kamu lagi ada masalah. Tapi sebelumnya kita makan dulu, nanti lanjutin lagi ngobrolnya." Kata sang ayah.
"Terserah Papa saja. Yang jelas, aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ataupun yang lainnya." Jawab Aditya tetap beralasan, karena dirinya tidak ingin membuat ayahnya cemas dan khawatir.
__ADS_1
Apalagi soal perasaan, gak mungkin baginya untuk bercerita dengan ayahnya. Bagi Aditya sangat memalukan.
Karena tidak ingin makanannya jadi dingin dan rasanya berubah menjadi hambar, Aditya segera menikmati makan malamnya bersama sang ayah.
Sedangkan di tempat lain, Liyan yang sulit untuk memejamkan kedua matanya, memilih bangun dan keluar dari kamar.
Dilihatnya jam di ponselnya yang menandakan sudah hampir gelap, Liyan menemui Savan, untuk melihat, apakah sudah bangun, atau masih tidur pulas.
Namun, tiba-tiba ponselnya berdering. Liyan yang tengah dikagetkan dengan suara dering pada ponselnya, ia melihat siapa orangnya yang menelpon.
"Yena." Gumamnya saat melihat kontak nomor yang tertera nama Yena.
Liyan tersenyum senang saat Yena menelpon dirinya. Belum juga menyapa, Yena sudah berbicara panjang lebar, sampai-sampai tidak ada jeda, dan kesempatan untuknya bicara.
"Iya iya, ya, aku baik-baik saja. Aku udah sampai rumah orang tuaku. Terus, Savan lagi tidur, kecapean dia. Oh ya, gimana kabarnya Ibu, dan juga kamu, Yen? baik-baik saja, 'kan? main ya nanti ke sini, nanti biar dijemput." Jawab Liyan, dan kembali fokus mendengar Yena kembali bicara.
Saat itu juga, Yena terdiam dan seperti memikirkan sesuatu.
"Em- ngobrolnya nanti lagi ya, Yen. Maaf banget ya, aku belum bisa ngobrol lama sama kamu. Soalnya aku mau lihat Savan dulu, udah bangun atau belum. Juga, mau makan malam dulu. Salam ya, buat Ibu. Nanti aku telepon balik, bye." Jawab Liyan yang tidak ingin obrolannya mengganggu jam makan malam.
Tidak hanya itu saja, Liyan ingin fokus dengan masa depannya, dan takut mengecewakan putranya, dan keluarga.
Setelah panggilan telepon ia putus, Liyan segera melihat Savan, karena takut kebangun dan mencarinya.
Karena tidak ingin menambah beban pikiran, Liyan berusaha fokus dan tidak mudah goyah dalam memilih keputusan. Juga, yang diutamakan baginya adalah kebahagiaan putra kesayangannya.
Saat sudah berada di kamar, dilihatnya Savan masih tidur dengan pulas, Liyan mendekatinya dan duduk di sebelahnya. Kemudian, Liyan mencium keningnya.
__ADS_1
"Bunda tidak akan mengambil kebahagiaan kamu, sayang." Ucap Liyan dengan lirih.
Lalu, Liyan mengusap pucuk kepalanya, dan mencium pipinya. Tidak ingin mengganggu waktu istirahat anaknya, Liyan segera keluar untuk mencari suasana baru agar tidak jenuh.