Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Mengobrol


__ADS_3

Zavan yang mendengar pengakuan dari adik perempuannya, pun merasa senang.


"Akhirnya hatimu terbuka untuk Devan. Percayalah dengan Kakak, Devan tidak seperti yang kamu pikirkan soal marah dengan mu. Mungkin memang benar, kalau dia sedang kecapean. Ya udah, Kakak mau mandi dulu. Kamu tunggu aja di bawah. Nanti Kakak segera turun." Ucap Zavan.


Liyan mengangguk.


"Iya, Kak. Ya udah ya, aku tunggu di bawah." Jawab Liyan dan bergegas turun.


Di tempat lain, Devan yang sudah bangun dari tidurnya, tidak lupa untuk membereskan tempat tidurnya. Kemudian, Devan segera mandi dan berangkat kerja.


Sebelum berangkat, alih-alih untuk memeriksa ponselnya. Dilihatnya ada panggilan yang tidak terjawab. Karena penasaran, Devan membuka layar kunci dan melihat siapa yang sudah menelepon dirinya.


"Liyan. Ah iya, semalam aku udah tidur. Aku telepon balik lagi apa, ya? tapi, aku harus cepat-cepat berangkat kerja. Nanti aja lah, kalau udah sampai bengkel." Gumamnya dan memilih untuk bergegas berangkat kerja.


Hanya dengan jalan kaki, Devan sudah sampai di bengkel.


"Wah, dah datang rupanya. Keknya nih ya, ada aroma aroma yang sudah siap saji oleh istri. Jadi, bisa berangkat sepagi ini." Ledek Tomi yang juga baru saja sampai.


"Ngomong apa sih kamu, Tom. Aku gak ada istri. Aku hidup sendirian, tentu saja datangnya bisa sepagi ini." Jawab Devan sambil memunguti sampah.


"Serius? gak percaya aku. Orang model kamu ini gak mungkin gak punya istri, bohong kamu ini."


"Gak percayaan banget sih kamu ini, Tom. Ya aku serius lah. Masa aku bohong. Aku memang sudah punya istri, tapi udah cerai. Sekarang aku duda, kenapa? kaget."


"Orang sekeren kamu kok bisa jadi duda, gak mungkin. Kamu ini pasti lagi bercanda."


"Gak percaya kamu. Terserah kamu aja, mau percaya apa enggaknya. Yang jelas aku duda, cuma masih tersegel." Jawab Devan dengan lirih pada kalimat yang terakhir.


"Serah kamu aja. Eh, memangnya kenapa bisa jadi duda? kurang tajir kali kamunya. Cewek jaman sekarang 'kan, gitu. Kalau cuma modal tampan sih, gak mempan. Mau jelek, mau tua, kalau tajir mah, diembat juga sama cewek cantik."


"Kamu ini kalau ngomong suka benar. Bukan masalah itu kalau aku. Yang jelas karena ketidak tarikan, itu aja. Ya udah ah, ayo kita buka bengkelnya. Semoga aja ini hari kita bisa dapat hoki. Nanti malam biar bisa tidur nyenyak." Jawab Devan.


Tidak lama kemudian, yang lainnya pada datang. Dengan giat, mereka tidak pernah kenal menyerah, sekalipun sepi pelanggan.


Karena masih banyak kerjaan yang kemarin sempat belum diselesaikan, kini dilanjutkan kembali oleh mereka, termasuk Pak Ridan.


Sedangkan dilain posisi alias tempat, Zavan yang baru saja berhenti di lorong masuk ke kosannya Devan, Zavan celingukan untuk memastikan benar apa tidaknya.


Setelah dirasa gak ada yang salah dengan lokasi yang kemarin dilewati, Zavan sangat yakin tidak ada yang salah.


"Pak, tunggu bentar ya. Saya mau ngajak Liyan turun sebentar. Bapak bisa maju dikit, takutnya ini jalan buat lewat orang-orang yang dari lorong jalan." Ucap Zavan kepada pak supir.


"Baik, Tuan." Jawabnya.


"Liy, ayo turun." Ajak Zavan kepada adiknya.


"Memangnya rumahnya sebelah mana, Kak?" tanya Liyan penasaran.


"Ayo, turun aja dulu. Nanti Kakak kasih tau." Kata Zavan.


Liyan yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Devan, dan juga ingin melihat kondisi tempat tinggalnya, segera turun.


Saat mereka turun dari mobil, Zavan maupun Liyan, mereka berdua sama-sama celingukan. Yang satu untuk memastikan kebenarannya, yang satu karena penasaran.


"Ayo kita ke sana." Ajak Zavan yang langsung gandeng tangan adiknya.


"Kok ke sana sih, Kak. Memangnya jalannya yang ini kah? sempit banget."


"Jangan banyak komen, ikuti saja apa kata Kakak. 'Kan, Kakak sudah bilang, kehidupan Devan berbanding terbalik dengan yang kamu kenal dulu." Jawab Zavan sambil berjalan beriringan. Meski sempit jalannya, masih cukup untuk dua orang.


Saat sudah berada di lingkungan kosan, Zavan celingukan untuk mencari tempat kosan yang ditempati Devan.


"Kita tanya dulu, biar gak salah." Ucap Zavan, Liyan cuma bisa nurut.


"Iya, Kak." Jawab Liyan yang tengah memperhatikan kosan yang ada disekelilingnya.


'Rumah kosannya gak ada yang bagus. Apa iya, Kak Devan tinggal di rumah diantara rumah-rumah kosan disini? kalau iya, kasihan sekali. Vando benar-benar kejam dengan saudaranya sendiri. Padahal perusahaan yang dia kelola saat ini, tidak lain ada campur tangan dari Kak Devan.' Batin Liyan yang benar-benar tidak menyangka jika mantan suaminya tengah bernasib buruk saat ini.


"Liy. Kok malah melamun. Ayo kesana, itu ada orang. Siapa tahu aja bisa memberi petunjuk untuk mendapatkan tempat kosan yang ditempati Devan."


"Iya, Kak. Maaf, tadi aku cuma lagi kepikiran. Kok gak ada Kak Devan, itu aja. Kemana dia?"

__ADS_1


"Sudah berangkat kerja, mungkin. Atau bisa jadi lagi di dalam kosan, lagi siap-siap berangkat kerja." Kata Zavan.


Karena tidak mau membuang buang waktunya, Zavan memberanikan diri untuk bertanya.


"Permisi, Pak. Maaf, mau numpang tanya. Untuk kosan yang ditempati orang baru yang kemarin itu, sebelah mana ya, Pak? namanya Devan."


"Untuk yang ngekos kemarin sih, kalau gak salah nomor 4. Tapi, orangnya udah keluar. Tadi waktu saya sapa, katanya ke bengkel ujung sana, kerja katanya." Jawabnya.


"Udah berangkat kerja ya, Pak. Kalau gitu, makasih banyak ya, Pak. Permisi." Ucap Zavan yang langsung pamit.


Setelah itu, Zavan mengajak adiknya untuk pergi ke bengkel tempatnya Devan kerja.


"Ayo, kita naik mobil. Devan udah berangkat ke tempat kerjanya." Ajak Zavan.


Liyan segera masuk kedalam mobil. Kemudian, mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.


Devan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, sampai tidak mendengar jika ponselnya berdering.


"Dev, ada yang menelpon kamu tuh. Didalam telepon kamu bunyi terus." Kata Doni yang baru saja keluar.


"Biarin aja. Soalnya tanganku kotor, banyak oli. Nanti aja, biar aku telepon balik." Sahut Devan yang sedang disibukkan dengan pekerjaannya.


Liyan yang tengah menelepon Devan tidak ada tanggapan, sedikit cemas. Takutnya mantan suami benar-benar marah pada dirinya. Tentu saja membuat Liyan tidak tenang.


"Stop! ini bengkelnya, Pak. Liyan, ayo kita turun."


Mobil, pun berhenti secara mendadak, tepat di depan bengkel tempatnya Devan bekerja.


Liyan yang penasaran dengan sosok mantan suaminya, satu-satu orang yang ada di bengkel diperiksa.


Saat arah pandangannya tertuju pada seseorang yang tidak begitu asing, Liyan sangat terenyuh saat melihat Devan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Air matanya pun lolos begitu saja.


Zavan yang mengetahui akan hal itu, menepuk punggungnya.


"Ayo kita turun." Ajak Zavan.


Sedangkan orang-orang yang ada di bengkel dibuatnya kaget saat ada mobil berhenti di depan.


"Apaan sih, kamu aja. Sama aja juga, gak ada pemikat dan memikat, udah sana kamu aja yang melayani pelanggan ba-ba-ru." Sahut Devan dan terbata-bata saat melihat sosok yang tidak begitu asing.


Saat itu juga, Devan langsung meletakkan alat kerjanya. Terlihat gugup sudah pasti. Sedangkan teman-teman kerjanya semuanya bengong, termasuk Pak Ridan. Ditambah lagi ketika melihat penampilan Liyan yang terlihat bukan orang biasa, tentunya membuat penasaran.


"Liyan. Sama siapa kamu?"


"Sama aku, kenapa?" sahut Zavan yang baru saja keluar dari mobil.


Tanpa ada rasa malu, Liyan langsung maju beberapa langkah agar jaraknya lebih dekat dengan mantan suaminya.


"Jadi, tadi yang nelepon aku itu, kamu?" tanya Devan yang teringat saat dirinya lagi kerja ada yang menelepon.


Liyan mengangguk.


"Maaf ya, Kak. Udah ganggu Kak Devan kerja. Oh iya, ini, aku bawakan bekal buat Kakak. Tadi Bibi yang masak, soalnya aku gak bisa masak." Jawab Liyan sambil menyodorkan bekal untuk Devan.


"Makasih ya. Lain kali gak usah repot-repot, takutnya nambah kerjaan buat Bibi." Ucap Devan sambil menerima bekal dari Liyan.


Kemudian, Devan memberikannya kepada Tomi yang tidak jauh jaraknya.


"Ayo kita duduk di sana." Ajak Devan kepada Liyan. Sedangkan Zavan memilih untuk mengajak ngobrol karyawan lainnya, yakni si Doni.


Liyan yang tengah duduk bersebelahan dengan Devan, ada perasaan gugup layaknya baru pacaran.


"Kamu ngapain sampai-sampai datang ke bengkel, ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan kah?"


"Aku cuma khawatir aja, kirain Kak Devan marah, soalnya aku gak angkat telepon dari Kakak. Juga,"


"Juga kenapa, Liy?" tanya Devan penasaran yang tiba-tiba Liyan mendadak berhenti bicara.


"Semalam Aditya datang ke rumah sama orang tuanya."


"Ngapain? melamar kamu?" tanya Devan yang langsung menebak.

__ADS_1


Liyan mengangguk sambil menunduk.


"Terus, kamu terima?"


Liyan yang mendengarnya, pun langsung menoleh dan mendongak.


"Kak Devan kok tanyanya gitu sih. Bukannya marah kek, malah gitu." Ucap Liyan dibuat cemberut.


Devan sendiri tertawa kecil saat melihat ekspresi Liyan yang cemberut.


"Kamu ini kenapa, Liy? perasaan aku ngomongnya udah bener."


"Ya enggak aku terima sih. Maksudnya aku, kalau aku gak menerima lamaran dari Aditya. Aku tetap maunya sama Kak Devan, bukan yang lain. Karena semalam Kakak gak mau angkat telepon, aku kira Kak Devan marah dan udah tahu. Gak tahunya belum ya."


"Sekarang 'kan, aku udah gak punya orang bayaran. Jadi, mana tahu kamu dengan siapa, lagi ngapain, aku udah gak tahu Liy. Jadi, kamu bebas, tapi tergantung kamunya yang bersikap untuk diri kamu sendiri. Oh iya, aku harus kerja. Nanti malam aku telepon kamu, gak apa-apa ya?"


"Iya, Kak, gak apa-apa. Udah ketemu kek gini aja udah seneng akunya. Ya udah ya, Kak, aku pamit pulang. Hati-hati kerjanya."


Devan pun tersenyum, dan mengangguk.


"Hati-hati dijalan."


"Ekhem. Kok udah, gak lagi berantem, 'kan?"


Zavan pun mengagetkan mereka berdua.


"Iya, lagi berantem. Mau apa? mau ngasih hadiah yang menang kah?"


"Hem. Ogah. Dah, aku sama Liyan mau pamit. Kerjanya yang bener, kena omel entar sama Bos kamu, dah sana." Ucap Zavan sambil mengibaskan tangannya layaknya mengusir.


Devan hanya menanggapinya justru memilih fokus memandangi mantan istrinya. Saat itu juga, Zavan sengaja menyuruh adiknya untuk cepat-cepat masuk kedalam mobil.


"Resek! Lu." Kata Devan sambil mengepalkan tangannya menunjukkannya kepada Zavan.


Zavan sendiri justru tertawa kecil melihatnya, dan segera masuk kedalam mobil, dan mobil pun melaju perlahan hingga meninggalkan jejak lewat pandangannya Devan.


"Cie ... yang habis bertemu sama pacarnya, asik.... Apa jangan-jangan calon istrinya ini. Wah, bentar lagi bakal ada pesta besar." Ledek Tomi yang sengaja menggoda Devan.


"Iya nih, bentar lagi ada yang mau jadi pengantin baru, asik.. makan-makan kitanya nanti." Timpal Doni ikut menggoda Devan.


"Apa-apaan sih kalian ini. Selain calon istri, dia itu mantan istriku, Bro." Jawab Devan dengan santai.


Semua teman-teman Devan pada melongo mendengar jawaban yang tidak masuk akal itu.


"Apa! Calon istri sama mantan istri? halah! kau ini mah, ngada-ngada sukanya. Mana ada calon istri, tapi mantan istri. Ngarang aja kamu ini mah." Kata Tomi yang semakin bingung mikirnya.


"Calon istri, ya mantan istri. Kek mana itu nyebutnya." Ucap Jino sambil menggaruk kepalanya


"Mungkin maksudnya tuh gini. Perempuan tadi mungkin mantan istrinya Devan. Terus, karena rujuk, jadilah calon istri. Bukan kah begitu Nak Devan?"


Pak Ridan pun ikut memberi penjelasan, entah benar atau enggaknya, yang terpenting ikut berkomentar dengan cara berpikirnya.


Devan sendiri yang mendengar penjelasan dari Pak Ridan, pun tersenyum.


"Benar yang dikatakan sama Pak Ridan. Perempuan tadi itu memang mantan istriku. Karena ingin kembali rujuk, kita akan menikah lagi, gitu." Jawab Devan membenarkan jawaban dari Pak Ridan.


"Widih! bentar lagi jadi orang tajir nih. Lihat mobilnya bukan mobil kaleng kaleng. Jangankan mobil, penampilannya saja udah beda. Tapi, masa iya, orang tajir mau sama kamu. Jangan-jangan sebenarnya kamu itu orang tajir yang lagi nyamar. Wah, ngeri ini." Kata Tomi.


"Tapi, mana ada orang tajir nyamar jadi tukang bengkel." Ucap Jino ikut menimpali.


"Iya juga ya. Ngomong-ngomong, kamu ini sebenarnya siapa sih? seperti kek orang misterius aja."


Devan lagi-lagi tertawa mendengar tebakan dari teman-temannya.


"Sudah lah, gak perlu kalian bahas. Sekarang lebih baik kita selesaikan kerjaan kita. Soal siapanya aku, gak penting. Karena aku itu sama seperti kalian, karyawan biasa di bengkel mobil. Jadi, ayo kita kerjakan lagi tugas kita. Sore ini harus selesai, gak boleh enggak." Ucap Devan.


"Iya deh iya, kamu percaya sama kamu. Terserah juga mau kamu orang tajir kek, gak kek, suka-suka kamunya aja." Kata Doni ikut komentar.


"Sudah, ayo kita lanjutkan lagi kerjaan kita. Ingat, jangan banyak ngobrol, nanti takutnya kerjaan kita gak selesai selesai." Ucap Pak Ridan mengingatkan.


Semua mengiyakan perintah dari Pak Ridan yang usianya di atas mereka bertiga.

__ADS_1


Devan yang tidak ingin kerjaan numpuk dan gak terselesaikan, segera menyelesaikan kerjaannya agar segera selesai dan tidak molor waktunya. Begitu juga dengan yang lainnya, sama aja segera menyelesaikan pekerjaannya masing-masing.


__ADS_2