Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Bersenda gurau bersama


__ADS_3

Saat dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Aditya menghentikan motornya.


"Kenapa sama motornya, Dit? ban motornya bocor ya?" tanya Liyan penasaran.


"Ya keknya, kita ke bengkel dulu ya. Maaf, tadi aku lupa tambah angin." Jawab Aditya sambil memperhatikan ban motornya.


"Tidak apa-apa, itu ada bengkel." Ucap Liyan dan menunjuk ke arah bengkel.


"Gak apa-apa kan, jalan kaki sebentar?"


"Memangnya kenapa, Dit? bukankah dulu ban motornya juga pernah bocor, mana kehujanan lagi. Yuk ah, mau ujan juga sepertinya."


Aditya tersenyum saat mendapati Liyan yang tidak lagi murung. Meski sudah hampir enam tahun lamanya, kenangan begitu banyak yang dilewati bersama. Tentu saja, Aditya tidak bisa mengabaikan perasaannya sendiri, bahwa dirinya masih tetap menyukai Liyan.


Tidak peduli jika harus menunggu waktu yang cukup lama, Aditya akan tetap bersabar meski kenyataannya menjadi istri dari laki-laki lain.


Saat sudah berada di bengkel, Aditya dan Liyan duduk bersebelahan sambil menunggu ban motornya di tambal..


Namun, tiba-tiba suara perut keroncongan tengah mengagetkan Aditya.


"Kamu lapar? kita beli bakso di sana aja, gimana? kebetulan juga mau turun ujan. Takutnya nanti perut kamu sakit, terus khawatir jadi masuk angin. Aku juga udah lapar, tadi cuma makan sedikit di kerjaan. Yuk ah, kita makan bakso sambil menunggu motornya selesai di tambal."


Liyan yang sedikit ada rasa malu karena perutnya yang bunyi keroncongan, alhasil menuruti ajakan dari Aditya untuk makan bakso.

__ADS_1


Saat sudah berada di tempat penjual bakso, Aditya memesan dua mangkok bakso untuk dirinya dan Liyan. Tidak lama kemudian, akhirnya tersaji di hadapan mereka berdua.


"Hem. Rupa-rupanya kalian makan bakso di sini, menyebalkan."


Yena yang baru saja datang secara tiba-tiba, pun langsung berbicara kepada Liyan dan juga Aditya. Tentu saja, mereka berdua kaget.


"Kamu. Sudah pulang juga rupanya. Pesen sendirian, bayar sendiri juga. Soalnya aku gak niat nraktir kamu hari ini. Aku hanya akan mentraktir Liyan, titik."


Yena pun segera memesan bakso. Setelah itu, ikutan duduk bersama Liyan dan Aditya.


"Hem. Awas saja kalau setelah ini gak mau traktir. Aku gak akan memberi kabar bahagia kepada kalian berdua, titik." Ucap Yena sambil menyangga dagunya.


"Kabar bahagia, apaan?" tanya Aditya penasaran.


"Baiklah. Nanti aku yang bayar. Sekarang cepat katakan soal kabar bahagianya. Palingan juga modus, biar di traktir. Sudah paham sama kamu."


"Cie ... sok gitu. Besok kita mau kedatangan seseorang dari kota." Ucap Yena.


Liyan langsung berhenti mengunyah baksonya. Yena maupun Aditya langsung menoleh ke arah Liyan.


"Kalian berdua kenapa memandangiku seperti itu, ha? memangnya ada yang aneh ya, sama aku."


"Enggak ada." Jawab Yena dan Aditya bersamaan.

__ADS_1


"Terus, kenapa kalian memandangiku seperti itu?" tanyanya kembali.


"Tidak apa-apa, reflek aja tadi. Dan kamu Yena, lanjutin yang tadi. Untuk Liyan, habisin baksonya."


Liyan mengangguk dan melanjutkan makannya.


"Ya udah deh, aku lanjutin yang tadi. Besok tuh mau kedatangan entah berapa orang, akan datang ke tempat kerjaan kita. Kata atasan, ada proyek baru, yakni untuk perkebunan buahnya mau ditambah lagi lahannya. Luasnya sih aku gak tahu. Tapi yang jelas, akan ada pebisnis dari kota." Ucap Yena memperjelas ucapannya.


"Terus?"


"Cakep banget katanya. Eh, tapi ngomong-ngomong pemilik alias bos besar kita siapa ya? selama kita kerja keknya gak pernah ada pertemuan dengan pemilik usaha deh."


"Kenapa emangnya? kamu penasaran?" tanya Aditya.


"Ya iyalah penasaran. Namanya aja gak tahu, pastinya penasaran lah. Eh iya, katanya juga nih, bos besar kita datang juga. Wah, seru nih. Siapa tahu aja aku ke cantol orang kota, lumayan gak sih? keknya malam ini aku perlu perawatan deh."


"Hem. Mimpi." Ucap Aditya langsung mengusap wajah Yena yang saat itu matanya berkedip tidak jelas.


Liyan hanya tertawa mendengarnya.


"Apaan sih kamu. Namanya juga menghayal, siapa tahu aja beneran." Kata Yena sambil bersenda gurau.


Liyan maupun Aditya sama-sama menggelengkan kepalanya karena merasa aneh dengan bicaranya Yena.

__ADS_1


Tidak terasa juga, akhirnya ketiganya menghabiskan bakso satu mangkok. Karena takut di tunggu orang rumah, mereka bergegas untuk pulang. Sedangkan Aditya mengambil motornya terlebih dulu.


__ADS_2