Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Salah mengerti


__ADS_3

Devan yang tengah duduk disebelahnya Liyan, pun merasa risih, lantaran si Aditya juga ikutan duduk di sebelahnya Liyan. Keduanya terlihat tidak ingin jauh dari sosok perempuan yang mereka sukai.


"Kamu mau minuman apa? teh manis, teh tawar, atau air mineral?" tanya Devan memberi tawaran kepada mantan istrinya.


"Air mineral aja." Jawab Liyan.


"Aku teh tawar."


"Aku teh manis."


Sahut Yena sama Zavan secara bergantian.


"Biar aku aja yang pesan, aku juga bisa." Sahut Aditya yang langsung bangkit dari posisi duduknya untuk membelikannya.


Devan sendiri memilih diam, dan tidak menanggapi. Sedangkan Zavan, justru pindah tempat duduknya, yakni di sebelahnya Liyan.


Semua berubah menjadi hening, tidak ada yang bersuara sampainya Aditya balik lagi dengan membawa air mineral dua, teh manis, dan teh tawar. Aditya memberikannya sesuai pesan. Untuk Devan sendiri justru tidak dibelikan.


Karena tenggorokannya terasa kering, Liyan segera minum.


"Kamu kalau mau beli, beli aja sendiri." Ucap Aditya begitu entengnya.


"Ngapain harus beli. Nih, aku juga bisa minum." Jawab Devan yang langsung meraih air minum miliknya Liyan, dan meminumnya.


Aditya yang melihatnya semakin geram ketika Devan dengan mudahnya minum miliknya Liyan.


"Udah, 'kan?" tanya Devan dengan santai.


"Sudah jangan saling menyerang, cuma minuman juga. Jangan membuat masalah di depan umum, tidak baik." Ucap Liyan yang tidak ingin ada keributan.


Aditya memilih diam, dan menghabiskan minumannya ada satu botol air mineral.


"Aku pulang ya, Liy. Sampai bertemu lagi. Maaf, sudah membuat suasana tidak nyaman." Ucapnya dan berpamitan dengan menyimpan perasaan dongkol.


"Tidak kok, nyaman nyaman aja." Jawab Liyan merasa gak enak hati.


"Iya, Dit, gak masalah kok, kalau kamu mau gabung bareng kita, iya 'kan, Dev?" sahut Zavan ikut melempar pertanyaan ke Devan.

__ADS_1


"Iya, gak apa-apa. Hal lumrah kalau ada yang sesuatu yang lain, atau apalah, atau perbedaan pendapat, itu hal wajar, namanya juga beda karakter. masing-masing mempunyai cara pandangnya. Oh iya, kamu serius mau pulang?" jawab Devan dan alih-alih bertanya kepada Aditya.


"Aku mau pulang. Soalnya Papa aku udah nunggu, kasihan kalau nunggunya kelamaan. Ya udah ya, aku pamit pulang. Sampai jumpa lagi." Ucap Aditya dan bergegas pergi dengan perasaan cemburu, dan juga dongkol.


Kini, suasana tidak lagi tegang, Devan yang masih duduk didekatnya Liyan, dilihatnya mantan istrinya tengah memperhatikan Aditya yang semakin jauh jarak pandangnya dan tidak lagi nampak bayangannya.


"Kamu kepikiran dia kah?" tanya Devan ingin tahu, berharap mantan istrinya tidak beralasan saat menjawab pertanyaan darinya.


Liyan justru menggelengkan kepalanya. Kemudian, ia menoleh ke arah mantan suaminya.


"Enggak, aku hanya keinget Savan, dia akrab banget sama Aditya. Itu aja sih, gak ada hal lebih." Jawab Liyan sambil menatap wajah mantan suami.


Yena dan Zavan yang tidak ingin mengganggu obrolan yang serius, memilih pindah tempat.


Devan sejenak diam, keburu Liyan membeberkan posisi duduknya, dan saat menoleh ke sebelah, sudah tidak ada lagi kakaknya maupun Yena.


"Oh, kirain kamu kepikiran Aditya, ada rasa yang tertinggal gitu. Eh maaf, bukan niatku membahas hal pribadi kamu. Lupakan." Ucap Devan yang tidak ingin mengganggu suasana hatinya, namun justru keceplosan.


Liyan yang mendengarnya, pun kembali menoleh.


"Kak Devan kenapa? kelihatannya gak nyaman gitu. Aku gak ada rasa dengannya. Aku tahu dia itu tulus, dia baik, tapi aku gak bisa nerima dia. Alasannya dulu aku masih berharap jika Vando menikahi aku dan hidup bahagia, hanya itu harapan aku bertahan. Tapi, kenyataannya aku gagal. Aku takut mengulangi kesalahan yang sama, berharap mendapatkan cinta, tapi kenyataannya aku kehilangan semuanya. Aku gak mau itu terjadi pada diriku yang kedua kalinya."


"Makasih. Kak Devan gak kepikiran untuk menikah? udah lama loh, Kak Devan sendirian."


Devan yang mendapat pertanyaan hal pribadi oleh mantan istrinya, pun bingung harus menjawabnya apa.


"Seharusnya kamu tahu jawabannya. Aih, ngomong apa aku ini. Soal menikah mah gampang, nanti kalau udah waktunya dan dipertemukan dengan calon istri, juga menikah." Jawab Devan sambil nyengir, yakni untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya ingin diungkapkan.


"Kak Devan mah lucu. Mana aku tahu jawabannya, dikasih tahu juga enggak." Ucap Liyan yang entah kenapa begitu lemot saat mencerna ucapan dari mantan suaminya.


Zavan dan Yena yang sudah berdiri dari belakang, pun nyengir kuda kepada Devan.


"Aku mau ke toilet bentar ya, dah kebelet soalnya." Jawab Devan pamit buat buang air kecil.


Kemudian, ia langsung bangkit sambil melotot kepada Zavan.


"Resek Lu." Ucap Devan sambil mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Apanya yang resek, Kak?" tanya Liyan yang tengah mendongak dan melihat Devan yang terlihat memonyongkan bibirnya.


"Itu belakang ada Kakak kamu." Jawab Devan langsung menunjuk, lalu pergi dari tempat duduknya.


"Kak Zavan sama Yena rupanya, kirain siapa tadi." Ucap Liyan, dan mereka berdua segera duduk.


"Kamu ini gimana sih, pura-pura gak ngerti apa kek mana loh. Masa' mencerna ucapan dari mantan suami sendiri aja gak bisa nebak, gak lagi korslet, 'kan?"


"Memangnya ucapan yang mana, Kak?" tanya Liyan yang benar-benar tidak mengetahuinya.


"Hem. Diingat ingat lagi, coba. Seharusnya kamu tuh tahu jawabannya, nah itu yang diucapkannya." Jawab Zavan.


"Oh, ya emang aku gak tahu, Kak. Memangnya Kak Zavan tau?"


"Astaga, Liyan. Sejak kapan sih, kamu itu jadi gini."


PLAK! Zavan sama Yena sama-sama nepuk keningnya.


"Apa dong, Kak? aku serius gak ngerti. Tau sendiri, sejak kehilangan Savan, aku jadi lemot buat mikir."


"Ini nih kan, jadinya begini. Ya berarti mantan suami kamu masih berharap bisa balikan sama kamu. Maksudnya nikah lagi kamunya sama Devan, Liyan."


"Gitu ya, Kak. Nikah lagi, gitu?"


"Astaga! Liyan. Kamu ini, ih!"


Zavan pun gregetan dengan jawaban dari Liyan.


Lagi-lagi Zavan maupun Yena, pun sama-sama menepuk keningnya karena merasa konyol dengan daya tangkapnya Liyan.


Devan yang sudah datang, pun merasa aneh dengan mereka bertiga, termasuk dengan Liyan yang masih bengong.


"Kalian lagi sedang ngapain?" tanya Devan merasa aneh.


"Gak apa-apa, duduk duduk." Jawab Zavan dengan spontan.


"Kamu gak kenapa-napa 'kan, Liy? maksudnya itu, kamu baik-baik saja, 'kan?"

__ADS_1


Liyan mengangguk pelan, lantaran bertambah bingung untuk mencerna semuanya.


__ADS_2