
Devan yang tengah menghadapi masalah besar, hanya bisa bersabar untuk menerimanya.
"Kamu yang sabar dulu, nanti kita cari tahu permasalahannya. Karena aku yakin, orang tuamu tidak sepenuhnya bersalah. Percayalah denganku, semua akan baik-baik saja." Ucap Zavan meyakinkannya.
"Entah lah, pikiran aku lagi males mikir. Aku mau fokus untuk nyari kerjaan, agar aku bisa nyambung hidupku." Jawab Devan dengan lesu.
"Tetap semangat, walau itu berat untukmu. Ngomong ngomong, kamu sudah mempunyai tempat tinggal atau belum? kalau mau, tinggal saja di rumah ini dulu. Soal pekerjaan, kamu bisa menggantikan aku. Nanti biar aku yang gantiin Papa aku, gimana?"
"Aku sudah mempunyai tempat tinggal. Makasih atas tawarannya, aku lagi belum pingin masuk ke kantor. Pikiran aku lagi buntu. Mungkin untuk sementara waktu, aku nyari kerjaan lain agar aku sedikit terhibur dengan pekerjaan yang meski recehan." Jawab Devan menolak.
"Ya udah kalau itu memang maunya kamu. Tapi, aku boleh kan, datang ke tempat kamu."
"Boleh, tapi kondisinya sangat berbeda jauh dengan rumah kamu ini. Jangan dengan rumah ini, tempat satpam aja masih bagusan tempat satpam punya kamu." Kata Devan.
"Jangan merendah. Mungkin saat ini kamu sedang di uji mentalnya, dan kesabaran kamu. Aku cukup salut sama diri kamu. Selama ini kamu ternyata orang yang hebat, aku aja kalah telak sama kamu."
"Kamu ngomong apa, Dev. Gak usah terlalu memuji diriku, aku sama aja kek kamu. Justru kamu sangat beruntung masih mempunyai kedua orang tua. Berbeda denganku, gak pernah ngerasain gimana rasanya belaian ibu kandung sendiri. Andai saja mereka masih hidup, alangkah bahagianya aku. Tapi takdir berkata lain. Aku hidup dalam keterpurukan, entah kapan aku bisa melewati semua ini. Sangat menyakitkan memang, tapi aku bisa apa? hanya bisa menerima kenyataan yang begitu pahit." Ucap Devan sambil tertunduk sedih.
"Dah malam ini, Dev. Waktunya untuk istirahat, besok kita sambung lagi, ya. Kamar kamu ada di sana, aku tinggal dulu, selamat malam. Oh iya, kalau kamu membutuhkan sesuatu, kamu bisa nyuruh pelayan di rumah. Jangan bergadang loh, nanti fisikmu drop, yang rugi kamu sendiri. Ya udah ya, aku tinggal ke kamar."
"Iya, nanti aku istirahat kok. Ya udah kalau kamu mau istirahat, istirahat saja sana." Kata Devan, Zavan sendiri segera masuk ke kamarnya.
Devan yang masih banyak pikiran, dan sulit untuk tidur, masih duduk di ruang keluarga. Dengan pencahayaan yang tidak begitu terang, pelan-pelan si Liyan menuruni anak tangga. Takutnya bakal kedengaran oleh orang yang masih yang terjaga kesadarannya.
Devan yang masih terjaga kesadarannya, pun langsung menoleh ke sumber suara. Seketika, dengan reflek si Devan langsung menangkap tubuh Liyan yang sudah tergelincir dari tengah-tengah anak tangga.
Detak jantungnya berdegup sangat kencang, sudah terasa jantungan.
"Kamu ngapain belum tidur? untung saja, kalau sampai jatuh, gimana coba? 'kan, ada lampu, kenapa gak kamu nyalakan lampunya? hem."
"Bukan begitu, aku hanya gak ingin bikin silau. Jadi, ya gak aku nyalakan itu lampu. Takutnya ganggu mata. Oh iya, Kak Devan belum tidur?"
Devan langsung melepaskan tangannya yang sempat buat menahan tubuh mantan istrinya.
"Aku belum ngantuk. Mungkin karena efek minum kopi tadi. Kamu sendiri kenapa belum tidur?"
"Aku mau ambil air minum." Jawabnya beralasan.
"Oh. Bentar, aku aja yang ambil air minumnya."
"Gak perlu, Kak. Gak usah repot-repot. Biar aku yang akan ngambil sendiri. Sebelumnya terima kasih."
Devan mengiyakan dan kembali duduk ke tempat duduknya tadi. Liyan yang tengah berada di dapur, justru sedari tadi kepikiran mantan suaminya.
Karena tidak ingin nantinya banyak pertanyaan dari Liyan, akhirnya memilih untuk masuk ke kamar untuk menghindari mantan istrinya.
Saat itu juga, Liyan yang baru saja keluar dari dapur, tidak mendapati Devan di ruang keluarga.
'Kasihan Kak Devan, hidupnya seolah dipermainkan. Ditambah lagi aku pernah menyakiti perasaannya, hatinya begitu hancur. Bahkan, dia tetap bertahan dengan kesendiriannya hingga saat ini. Bodohnya aku yang mudah termakan oleh egoku sendiri. Maafkan aku, Kak. Maafkan aku yang sudah menghancurkan hidupmu.' Batinnya penuh sesal.
Napasnya terasa sesak, kedua kakinya sulit juga untuk menopang berat badannya. Seketika, Liyan terjatuh ke lantai. Untungnya ada pelayan yang melihatnya, dan segera menolongnya.
"Nona, Nona gak apa-apa?" tanyanya penuh dengan kekhawatiran.
"Kaki aku sakit, Mbak. Aw! aduh, sakit banget Kak. Mama, panggilkan Mama, Mbak. Eh jangan, panggil kak Zavan aja. Adu, aw! sakit."
"Liyan. Kamu kenapa?"
Devan yang mendengar suara tengah memekik kesakitan, pun langsung keluar dari kamar, lantaran suara Liyan sangat jelas untuk ditangkap oleh indra pendengarannya.
__ADS_1
"Ini, Kak. Tadi aku jatuh, gak tahunya eh malah gini. Aw! sakit. Aduh, sakit banget. Haduh." Jawabnya dan kembali memekik kesakitan saat salah satu kakinya tengah dipegang oleh Devan.
"Tahan. Tahan dulu. Aku mau urut kaki kamu. Bentar, aku mau ambil minyak untuk mengurut." Ucap Devan yang akhirnya meminta kepada pelayan rumah untuk mengambil sesuatu yang bisa untuk menjadi alat bantu mengurut.
Setelah diambilkan, Devan memeriksa rasa sakit yang dirasakan oleh Liyan.
"Mana yang sakit?" tanya Devan sambil pelan-pelan buat memeganginya.
"Yang ini, sakit." Jawab Liyan sambil menunjuk di bagian pergelangan kakinya.
Dengan pelan-pelan, Devan memeriksanya. Kemudian, diolesi dengan minyak untuk mengurut. Dengan penuh Hati-hati, Devan mengurut kakinya. Liyan yang benar-benar merasakan sakit, sebisa mungkin untuk tetap kuat untuk menahannya.
"Aw! Aw! sakit tau, Kak." Pekik Liyan sambil memegangi kedua pundaknya Devan, dan beralih kedua lengannya.
Tidak peduli yang tengah dirasakan Devan, Liyan benar-benar mencengkram lengan mantan suaminya dengan sangat kuat. Bahkan, Devan ikutan menahan rasa sakit karena tenaga Liyan yang juga kuat.
"Aw! sakit, aw! pelan-pelan dong Kak. Sakit banget tau. Aduh, kenapa sesakit ini sih. Haduh! sakit, aw! sakit." Pekik Liyan yang terus merasa kesakitan.
"Sabar dikit, bentar lagi juga selesai kok. Jangan banyak gerak, takutnya malah salah urut. Tahan, jangan panik. Nanti yang ada otot kamu jadi tegang. Dibuat rileks saja, jangan tegang gitu." Jawab Devan meyakinkannya.
Liyan memilih diam, karena bingung juga mau menjawabnya apa.
"Aw! buset! sakit, tau! haduh. Kak Devan, pelan-pelan dong."
"Sabar. Tahan dulu. Nanti kalau udah lemes, juga gak begitu sakit. Maaf ya, jika kamu kesakitan."
Liyan mengangguk.
"Dah. Coba kamu gerakkan pergelangan kaki kamu. Kalau masih sakit, atau tambah sakit, ngomong saja." Ucapnya.
Liyan mencoba untuk menggerakkan pergelangan kakinya. Ia mencoba untuk merasakannya.
"Kaki aku sembuh. Benarkah, iya, sembuh. Kak Devan hebat. Kak Devan bisa mengurut kaki aku. Makasih ya, Kak. Kaki aku sembuh sekarang. Kak Devan yang terbaik." Ucap Liyan yang begitu heboh.
Bahkan, Liyan sendiri tidak menyadari dengan ucapannya, dan tanpa sadar tengah memeluk mantan suaminya. Kebiasaan yang sering dilakukan dimasa lalunya, kini diulangi lagi.
Devan yang tengah dipeluk oleh perempuan yang sangat dicintainya itu, hatinya begitu tenang. Kemudian, Devan membalas pelukannya.
"Kamu gak lagi salah meluk, 'kan?" tanya Devan yang kini juga memeluk mantan istrinya.
Seketika, Liyan baru menyadari atas perbuatannya itu. Sungguh benar-benar dari kesadarannya. Antara nyata atau mimpi, Liyan masih bengong.
"Aku berharap ini bukan mimpi, tapi ini nyata. Liyan, aku masih mencintaimu. Aku masih mengharapkan kamu untuk kembali menjadi milikku. Aku siap menunggu sampai hatimu benar-benar sudah terbuka lagi untukku." Ucap Devan sambil memeluk erat tubuh mantan istrinya.
Liyan yang mendengarnya, pun tidak tahu harus menjawabnya apa. Perlahan, Liyan mencoba untuk merenggangkan pelukannya. Berharap, Devan tidak marah, pikirnya.
Devan yang mengerti, pun langsung melepaskannya. Kemudian, keduanya kini saling menatap satu sama lainnya.
"Aku masih mencintai mu, Liy. Tapi aku sadar, aku bukan laki-laki mapan atau kaya, yang banyak harta, banyak uang. Kehidupan ku sudah berbanding terbalik dengan yang dulu. Gak usah ditanggapi, anggap saja angin lalu. Sudah malam, kamu istirahat."
Liyan yang mendengar ucapan dari mantan suaminya, justru langsung memeluknya lagi.
Devan sangat terkejut dengan mantan istrinya yang malah memeluk dirinya.
"Kak Devan, maafkan aku. Maafkan aku yang pernah memberimu luka. Aku menyesal tidak mau mempercayai ucapan Kakak, aku minta maaf. Aku sekarang percaya, kalau Kak Devan tulus mencintai aku. Tapi, aku begitu kotor. Aku sudah kotor oleh lelaki lain. Aku sudah hina. Aku gak pantas mendapatkan cinta yang tulus darimu, Kak." Jawab Liyan dengan meneteskan air matanya penuh dengan penyesalan.
Devan segera melepaskan pelukannya. Kemudian, menghapus air mata yang membasahi kedua pipi miliknya Liyan.
"Ngapain kamu menangis? cengeng amat. Senyum dong, kan kelihatan cantiknya kalau tersenyum. Apalagi ada lesung pipinya, tambah manis."
__ADS_1
"Kak Devan mah gitu. Diajakin ngobrol serius, jawabnya bercanda gitu. Giliran diajak bercanda, maunya serius."
Devan menatap lekat wajah Liyan, dan semakin dekat untuk mengambil ciumannya. Tanpa pikir panjang, Devan langsung mencium bibirnya.
Liyan melotot.
"Dah. Aku serius, 'kan?"
Devan pun tersenyum sambil menatap lekat wajahnya. Liyan tersipu malu.
"Aku akan menikahimu setelah kamu siap. Juga, setelah urusan perceraian kamu sudah benar-benar dibereskan, aku akan segera menikahi. Tapi, kamu harus siap dengan kondisiku yang seperti kamu ketahui saat ini."
Liyan mengangguk dan kembali memeluk mantan suaminya. Tanpa disadari oleh keduanya. Rupanya ada orang tuanya, yakni Tuan Boni dan istrinya, juga Zavan.
"Cie ... yang cintanya bersemi kembali. Akhirnya kalian dipertemukan lagi."
Seketika, mereka berdua dibuatnya kikuk dan salah tingkah.
"Syukurlah kalau kalian kembali baikan. Papa sama Mama sangat senang mendengarnya. Jangan diulangi kesalahan yang pernah fatal. Devan, Papa sama Mama titipkan Liyan sama kamu. Karena kami hanya percaya dengan kamu, kalau kamu mampu menjadi suami yang baik untuk Liyan." Ucap Tuan Boni kepada Devan.
"Iya, Tuan. Maksudnya, Papa. Aku akan jaga Liyan dengan baik. Juga, bertanggung jawab atas Liyan. Masalah yang pernah fatal, akan kami jadikan koreksi diri menjadi lebih hati-hati. Terima kasih, atas doa dan restunya." Jawab Devan setengah menunduk.
"Sudah malam, woi. Kembali ke kamar kalian Masing-masing."
"Tapi kaki aku masih sakit, aku gak bisa jalan. Ya udah mendingan sih, tapi takutnya ntar jatuh lagi, 'kan tambah sakit." Jawab Liyan beralasan.
"Hem. Bilang aja kalau kamu tuh minta di gendong. Udah deh, ngaku aja." Ucap Zavan.
"Kak Zavan mah gitu, gak percayaan banget sama aku. Selalu aja mikirnya gitu. Tadi aku tuh beneran jatuh, sakit banget malah. Untungnya juga ada Kak Devan, jadi tadi diurut, terus sembuh." Jawab Liyan yang tanpa disadari telah berkata jujur pada kalimat terakhirnya.
"Nah, 'kan. Katanya tadi sakit, sekarang bilang udah sembuh."
"Ya, 'kan, aku takutnya belum sembuh total. Terus, kalau aku jatuh lagi, gimana? tega banget sih Kak Zavan."
Devan yang tidak ingin mendengar Liyan terus banyak alasan, langsung digendong Devan sampai di kamarnya. Sedangkan kedua orang tuanya maupun Zavan, pun tertawa kecil.
Devan yang sudah mengantarkan Liyan sampai di kamarnya, perlahan menurunkannya ke tempat tidurnya.
"Sudah malam, juga waktunya untuk istirahat, istirahatlah." Ucap Devan sambil menyelimutinya.
Liyan tersenyum, kesedihannya sedikit mulai berangsur membaik kondisinya. Juga, mulai terhibur sejak kehadiran Devan yang tidak pernah menyerah untuk membuat Liyan kembali seperti dulu lagi, yang ceria, dan mempunyai semangat tinggi. Meski jiwanya begitu rapuh karena kehilangan harapannya, Devan telah berjanji untuk mengembalikan kebahagiaan yang pernah hilang.
"Ya udah ya, aku juga mau istirahat. Besok aku harus pergi untuk mencari pekerjaan. Jika kamu bangun, terus aku sudah tidak ada di rumah ini, kamu jangan mencari aku. Kamu cukup hubungi aku. Kalau aku ada waktu senggang aku akan datang menemui kamu." Ucap Devan sebelum keluar dari kamar.
"Iya, Kak. Gak apa-apa. Kalau Kak Devan sedang mengalami kesulitan, hubungi aku atau hubungi Kak Zavan. Atau boleh juga hubungi Mama atau Papa."
Devan tersenyum tipis pada Liyan.
"Iya. Kamu tenang saja. Ya udah ya, aku kembali ke kamar. Aku juga mau istirahat, selamat malam. Mimpi indah." Ucap Devan.
Liyan mengangguk dan tersenyum.
Setelah itu, Devan kembali ke kamar untuk istirahat. Didalam kamar, Devan akhirnya dapat bernapas lega. Dirinya kali ini tidak lagi kepikiran atas perasaannya kepada Liyan, lantaran pengakuan cintanya telah diterima.
Devan begitu yakin, bahwa selama ini mantan istrinya masih mencintainya. Mustahil bagi Devan kalau Liyan melupakan dirinya. Hanya saja, Devan menyadari akan statusnya yang mempunyai seorang anak yang membutuhkan pengakuan dari ayah biologisnya, tentunya tidak mungkin untuk melukai perasaan putranya.
Tapi sekarang, semua telah berakhir. Cinta yang dianggap akan utuh untuk selamanya, rupanya seorang Vando telah melepaskan istrinya. Bahkan, dirinya telah dibutakan dengan harta yang tidak pernah ia kendalikan. Harta dan tahta, kini telah membutakan mata hatinya.
Namun, tidak membuat seorang Devan merasa merugi. Meski tidak mendapat harta dan tahta, bagi Devan seseorang yang mau menerimanya dan menemaninya dari nol lah yang menjadikan harta paling berharga untuknya. Karena bagi Devan, sukses bersama adalah impiannya.
__ADS_1