
Vando yang sempat menoleh dan melihat ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi, langsung menyambar Liyan dan Savan agar tidak tertabrak mobil.
"Awaaaaaas!" teriak Vando menarik secepat mungkin untuk menyelamatkan dua nyawa.
"Tidaaaaaaak!" teriak Yena yang melihat semata-mata jika Vando tertabrak mobil dan terpental.
Da_rah segar pun seperti air yang muncrat dari dalam botol. Sungguh sangat mengerikan. Yena sendiri yang melihat kejadian tersebut, langsung pingsan karena lemah jantung.
Liyan yang sama halnya melihat semata-mata bahwa Vando tergeletak bak tak bernyawa dan dengan dara_hnya yang keluar dari anggota tubuhnya, langsung berteriak histeris bersamaan dengan tangisnya, juga sambil memeluk Savan.
Aditya yang melihat insiden tersebut, langsung menghubungi polisi dan juga mobil ambulans. Tidak berselang lama, korban pun dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Liyan tengah dibantu yang lain, dan dilarikan ke rumah sakit karena dirinya mengalami cidera. Juga, kondisinya yang belum fit.
Ibu Arum yang kebingungan dengan situasi yang sangat mencekam, seolah bagai mendapat bom yang meledak di tempat. Vando yang mengalami kecelakaan, juga putrinya yang jatuh pingsan, dan Liyan maupun Savan yang ada cidera karena Vando sengaja menariknya dan mendorong dengan kuat, takut waktu tidak sempat menyelamatkan nyawa keduanya.
__ADS_1
Liyan masih menangis sesenggukan karena dipertemukan dengan cara dadakan, tentunya seperti orang jantungan.
Sedangkan Aditya tengah berada di dalam mobil ambulans bersama Vando dengan perasaan khawatir. Karena sesuatu yang penting, Aditya segera menghubungi ke tempat kerjanya untuk menyampaikan pesan soal Vando kepada teman-temannya.
Sontak saja, Zivan maupun Devan sama-sama kaget mendengar kabar kalau Vando mengalami insiden kecewa, yakni tertabrak mobil.
Dengan penuh khawatir atas keselamatan Vando, cepat-cepat untuk segera berangkat dan melihat kondisinya.
Sedangkan Liyan, kini tengah ditangani untuk dilakukan pemeriksaan, termasuk memeriksa kondisinya teman-teman yang lainnya.
Tidak memakan waktu lama, akhirnya Devan bersama Zivan sampai juga di rumah sakit. Dengan penuh kekhawatiran, mereka berdua berlari masuk kedalam rumah sakit untuk mencari keberadaannya.
Liyan yang sudah ditangani, pun memilih untuk keluar bersama putranya karena ikutan khawatir dan menyesal atas perbuatannya yang sudah mencelakai Vando.
Air matanya pun terus mengalir, Liyan menangis sesenggukan. Sambil berjalan, Liyan dibantu Ibu Arum karena takut kenapa-napa lantaran kondisi fisik yang masih lemah. Sedangkan Yena bersama Savan.
__ADS_1
Saat itu juga, Devan yang melihat sosok Liyan yang masih dikenali tengah dituntun jalannya oleh Ibu Arum, langsung kaget pastinya.
"Liyaaan!" teriak Devan dan berlari mengejarnya.
Ibu Arum yang kaget, langsung melepaskan tangannya dengan reflek. Devan langsung memeluknya, merasa bersalah juga karena perbuatannya menjadikan Liyan diasingkan dari rumahnya.
Aditya sama kagetnya ketika ada satu laki-laki yang baru saja datang dan memeluknya. Bertanya-tanya didalam benak pikirannya itu sudah pasti.
"Maafkan aku, Liyan. Maafkan aku atas semuanya. Tidak seharusnya aku melakukan hal kasar terhadapmu. Aku benar-benar minta maaf sama kamu, Liyan." Ucap Devan yang ikut menyesalinya.
Zivan sendiri segera menghampiri.
Liyan yang sulit untuk bernapas, langsung mencoba melepaskan pelukan dari Devan.
"Lepaskan. Aku tidak bisa bernapas." Ucap Liyan meminta untuk melepaskannya.
__ADS_1
Devan menurutinya, dan melepaskan pelukannya dan menatap wajah perempuan yang sudah dinikahinya, juga diceraikan dimalam yang seharusnya menjadi malam bahagianya.