Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Suasana yang serasa tegang


__ADS_3

Vando tersenyum kepada Savan, tak lupa tangan yang satunya memegangi pipinya.


"Maafkan Ayah ya, sayang. Jika ayah udah mengabaikan kalian berdua. Ayah janji, setelah Ayah sembuh, Papa tidak akan jauh dari kalian. Terima kasih ya, sayang. Savan anak yang baik. Ayah bangga punya Savan." Ucap Vando kepada putranya.


"Ayah salah bicara. Seharusnya Ayah ngomongnya sama Bunda, kok sama Savan. Karena Savan diajarin sana Bunda. Juga, sama Paman Aditya." Jawab Savan, tiba-tiba Vando mendongak dan menatap Liyan.


Apalagi kalau bukan rasa cemburu. Walaupun belum mengetahui pasti, Vando dapat menebak atas prasangkanya, yaitu bahwa lelaki yang bernama Aditya juga memendam perasaannya kepada Liyan.


"Aditya temanku, juga sudah aku anggap saudara." Ucap Liyan yang lebih dulu mengakui sebelum Vando bertanya.


"Aku gak bertanya loh, kamu sendiri yang bicara. Enggak, aku bercanda. Aku juga tau diri, statusmu masih istrinya Devan. Oh, aku salah berucap."


"Siapa Devan, yah?"


Vando maupun Liyan gelagapan.

__ADS_1


"Em- bukan siapa-siapa, Ayah tadi sengaja ngagetin Bunda. Devan itu, Paman yang satunya."


"Savan gak tau. Soalnya tadi gak kenalan."


"Savan, ayo ikut aunty, ada jajan enak nih, dari pamannya Savan, Paman Zivan. Ayuk keluar, biar ayah ngobrol bareng ayah."


"Tapi Savan pingin sama ayah dan bunda." Jawab Savan yang menolak.


Namun, Yena berusaha untuk memberi kode sama Savan.


"Aunty mau ngajak Savan beli mainan lagi, ayuk." Ajak Yena berusaha untuk merayu.


Tidak membutuhkan drama yang lama untuk merayu ataupun membujuk, akhirnya Savan mau mengiyakan. Lalu, Yena mengajak pergi bersama untuk membeli mainan.


Sedangkan Liyan, kini tengah berada di dalam ruang rawat bersama Vando. Keduanya tampak saling diam dan canggung. Berbeda sekali saat pertama kalinya bertemu dimasa lalu. Justru Liyan dulunya begitu percaya diri saat bersama Vando, namun tidak dengan yang sekarang, justru lebih menjadi pendiam.

__ADS_1


Sambil duduk di dekat Vando, masih bingung untuk membuka obrolan, sama halnya dengan Vando sendiri.


Tanpa rasa malu, rupanya Vando memberanikan diri memegangi tangan miliknya Liyan.


"Maafkan aku ya, Liy. Gara-gara kesalahan ku yang tidak bertanggung jawab, kamu harus menerima hukuman dari orang tuamu yang cukup berat. Kesalahan terbesar ada padaku. Kamu berhak menghukum ku, dan aku akan menerimanya." Ucap Vando yang terus mengulang kalimat yang sama untuk meminta maaf atas kesalahan yang pernah dilakukannya di masa lalu.


Liyan berusaha untuk tetap tenang, meski pikirannya entah kemana.


"Aku sudah memaafkan mu. Juga, aku tidak akan memberatkan kamu, termasuk tidak akan memberimu hukuman. Tiada gunanya aku marah, karena tujuan hidupku hanya untuk kebahagiaannya Savan, tidak lebih." Jawab Liyan apa adanya, dan tidak ada yang ditutupi.


"Meski hatimu harus terluka? maksudnya aku, ada lelaki spesial di hatimu, benarkah? siapa orangnya? apakah lelaki yang bernama Aditya? atau Devan yang statusnya masih suami kamu?"


Saat itu juga, Liyan langsung menutup mulutnya Vando dengan telapak tangannya.


"Ekhem. Maaf, sudah mengganggu." Ucap Devan yang baru saja masuk tanpa sengaja berniat untuk mengganggu, hanya sedikit rasa cemburu.

__ADS_1


Aditya yang tidak mempunyai hubungan spesial apapun dengan Liyan, memilih duduk dan menemani kedua orang tuanya Liyan, dan ibu Arum.


Suasana tetap biasa-biasa saja, Aditya mengobrol hanya seputar cerita di kampung. Berbeda dengan yang ada di dalam ruangan. Justru suasana terasa tegang.


__ADS_2