
Karena waktu sudah sore, Yena bersama Aditya segera pulang. Takut, jika membuat orang rumah menunggu.
Hanya melewati persawahan, akhirnya tinggal beberapa rumah saja sudah sampai. Cepat cepat si Yena masuk ke dalam. Rupa-rupanya sang ibu sudah menunggunya di depan rumah.
"Jam berapa ini? kenapa kalian berdua baru pulang?"
Ibu Arum yang tidak biasanya mendapati putrinya bersama Aditya pulang terlambat, kali ini harus pulang melebihi jam pulang kerja.
Yena maupun Aditya sama-sama menoleh.
"Em- tadi ada yang kita obrolin, soal- Liyan, Bu." Jawab Yena yang langsung menempelkan jari telunjuknya tepat di bibirnya.
Ibu Arum langsung menatap Aditya.
"Maaf, Bude, soalnya gak mungkin juga disembunyikan. Dari pada kaget, Adit ngasih tahu sekalian. Gak apa-apa 'kan, Bude?"
"Tidak apa-apa. Yang terpenting kalian bisa jaga ucapan, dan jangan mudah membicarakan orang lain. Cukup simpan rahasia, jangan kamu tunjukkan aib orang lain."
"Ya, Bu."
"Iya, Byde."
Keduanya menjawab bersamaan.
"Ya sudah, buruan kalian segera mandi. Setelah itu, bantu masak. Untuk Aditya, kamu belikan vitamin, susu, dan buah juga, untuk Nak Liya. Ini duitnya, sisanya bisa buat beli cemilan di pinggir jalan." Ucap Ibu Arum, dan juga memberi perintah kepada Liyan.
Tidak mungkin menolak, Aditya segera ke kamar untuk ganti baju terlebih dahulu sebelum pergi ke apotek.
Sedangkan Liyan yang masih berada di kamar, ia terasa bosan dan memilih keluar.
Lagi-lagi Liyan terasa mual, dan tidak karuan rasanya. Cepat cepat ia pergi ke kamar mandi. Terasa lega saat sesuatu dapat dimuntahkan.
'Aku harus kuat, demi janin yang ada didalam rahim ku.' Batin Liyan yang terasa lemas dan tidak bertenaga.
Yena yang mendengar suara dari kamar Liyan, segera masuk dan melihat kondisinya, takut terjadi sesuatu padanya, pikir Yena yang dipenuhi dengan kekhawatiran.
__ADS_1
"Liyan. Liyan, kamu baik-baik saja? mana yang sakit?"
Liyan menggelengkan kepalanya.
"Kepala aku yang terasa pusing, juga perutku gak karuan rasanya. Aku-"
"Ya, aku udah tahu soal kamu. Ayo duduklah di tempat tidur. Fisik kamu lemah, jangan paksa buat bangun." Ucap Yena sambil membujuk.
Liyan langsung menatap wajah Yena.
"Maafkan aku, Yena. Aku sudah membuat keluarga kamu bertambah beban dengan hadirnya diriku yang kotor ini." Jawab Liyan dengan malu.
Yena meraih tangannya Liyan, dan tersenyum padanya.
"Kami tidak memandang siapa kamu. Bagi kami, kamu sudah menjadi bagian keluarga kami. Kamu tidak perlu khawatir, semua sayang kok sama kamu. Poin utamanya, jaga kesehatan kamu, juga calon jabang bayi yang ada di rahim kamu. Tidak perlu memikirkan hal-hal yang gak penting, fokus masa depan kamu dan janin kamu ini." Ucap Yena berusaha untuk menguatkan Liyan.
Kemudian, Yena memeluknya.
"Kamu harus kuat, meski tidak ada sosok laki-laki yang kamu harapkan. Percayalah, kalau kamu itu bisa melewati masa sulit mu. Jika kamu membutuhkan sesuatu, katakan saja, selagi itu hal yang wajar, dan tidak menyakiti diri kamu." Sambung Yena saat memeluk Liyan.
"Kamu bukan dari keluargaku, teman dekatku, kamu dan keluarga kamu, lebih dari segalanya. Terima kasih banyak ya, Yen. Maafkan aku yang selalu merepotkan, juga membuat malu." Ucap Liyan.
"Tidak boleh bicara seperti itu. Sekarang keluar yuk, dikamar terus memang gak bosan? kebetulan tadi waktu balik lagi ke tempat kerja, aku sama Aditya beli buah, ada mangga, juga ada buah pir, buah naga juga ada."
"Kamu dan Aditya baik banget. Makasih ya."
"Makasih terus. Memangnya aku siapa? aku bukan orang asing. Sudahlah, ayok."
Yena pun mengajak Liyan untuk keluar dari kamar.
Saat keluar dari kamar, Liyan duduk di ruang tengah sambil menonton televisi ditemani Ibu Arum dan Yena yang tengah mengupas buah mangga.
"Kalau Liyan bentar lagi punya dede bayi. Berarti aku mau dipanggil aunty ya, sebutan yang sangat istimewa. Eh, ntar bayinya cewek apa cowok ya. Kalau cewek, pasti cantiknya kek aku. Kalau cowok, kek Adit." Ucap Yena sambil mengupas buah, juga sambil mengobrol.
Tanpa disadari, rupanya Adit dapat mendengar.
__ADS_1
"Ekhem." Adit pun berdehem.
"Eh. Yang disebutin udah datang." Ucap Yena setengah melirik ke arah Aditya.
"Ngomongin siapa kamu, Yen?" tanya Adit sambil meletakkan sesuatu yang dibeli.
"Sudah sudah. Waktunya makan malam, kita makan bersama dulu. Ngobrolnya nanti lagi. Oh ya, itu tadi Ibu minta sama Adit buat beliin susu sama vitamin, juga buah apel sama buah pir, ada jeruknya juga, siapa tahu kamu ingin makan buah yang ada asemnya." Ucap Ibu Arum melerai, dan sekaligus bicara kepada Liyan.
"Ibu baik banget. Sampai-sampai membelikan Liyan susu, vitamin, dan juga buah. Semoga kebaikan Ibu menjaga ladang keberkahan buat Ibu dan keluarga. Maafkan Liyan yang selalu merepotkan." Jawab Liyan merasa diperhatikan.
Ibu Arum tersenyum.
"Sudah, jangan terus menerus berterima kasih. Sekarang kita makan dulu, ngobrolnya nanti dilanjut lagi." Ucap Ibu Arum.
Liyan bersama Yena, dan juga Adit, pun beranjak dari tempat duduk, dan pindah ke ruang makan.
Setelah itu, mereka menikmati makan malamnya. Dan dilanjut lagi mengobrol hingga bersamaan senda gurau hingga tidak terasa waktunya untuk istirahat.
Tidak ingin bangun kesiangan, semua tidur lebih awal sampai tertidur pulas, dan paginya disambut dengan kokok ayam yang saling bersahutan.
Pagi yang cerah, meski tak secerah harapan seorang Liyan, namun hidupnya seakan dalam ruang lingkup keluarganya sendiri.
Hari-hari yang dilewatinya, membuatnya penuh perjuangan, juga pengasahan mental yang cukup berat.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, kini tibalah saatnya untuk persalinan. Liyan merasakan kontraksi yang cukup hebat, lebih lagi tidak ada seorang pendamping seperti suami, benar-benar ujian terberat baginya tanpa ada pihak keluarga sama sekali, sudah seperti hidup sebatang kara.
Jangan untuk mendapatkan suport dari keluarga, selama hampir delapan bulan, Liyan tidak mendapati sosok bagian keluarganya yang datang. Bahkan, ibunya ataupun kakaknya sekalipun.
Ibu Arum, ya, ibu Arum yang begitu banyak memberi perhatian kepada Liyan. Meski memang sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai orang kepercayaan keluarganya Liyan, tetap saja merasa kasihan dengan nasib yang dijalani oleh perempuan yang sudah jatuh, kini harus tertimpa tangga, begitu malang nasibnya.
Dengan segala upaya dalam penanganan proses melahirkan, akhirnya bayinya lahir dengan selamat.
Ibu Arum menangis haru saat mendengar suara bayi yang baru lahir. Hatinya benar-benar tersayat ketika melihat Liyan berjuang sendirian tanpa seorang suami.
Namun, mau bagaimana lagi, Ibu Arum tidak bisa berbuat apa-apa. Menyemangati dan memberi perhatian, hanya itu yang bisa dilakukan oleh ibu Arum.
__ADS_1