Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Pertemuan antar keluarga


__ADS_3

Sore hari, di rumah keluarga Aritama tengah menikmati makan malam lebih awal, lantaran akan kedatangan tamu.


"Pa, boleh gak, aku ngajak Liyan keluar? biasa lah, Pa. Biar Liyan gak bosen di rumah terus. Em- pingin ngajak Liyan ke rumah kosannya Devan. Gak jauh kok, Pa."


"Gak bisa."


"Lah, kok gak bisa, Pa. Memangnya kenapa?"


"Malam ini kita akan kedatangan tamu. Jadi, kalian di rumah aja. Main ke kosannya Devan besok aja. Malam ini kalian harus di rumah. Gak boleh nawar." Jawab Tuan Boni.


"Memangnya siapa yang mau datang, Pa?" tanya Zavan penasaran.


"Nanti kalian juga tau. Sudah, habiskan dulu makannya. Sayang kalau hanya dianggurin." Kata sang ayah.


Zavan maupun Liyan sama-sama nurut dan tidak menolak.


"Ya deh, Pa, kita nurut aja. Jadi penasaran, bukan orang asing 'kan, Pa?"


"Bukan orang jahat juga 'kan, Pa?"


"Bukan. Orang baik, Kok. Kalian juga kenal, malah Liyan sangat akrab."


"Vando kah?" tanya Zavan bertambah penasaran.


Liyan sejenak diam, ingatannya kembali dengan janji manisnya dulu yang gak akan pernah menyakiti hatinya, juga berjanji akan bertanggungjawab atas dirinya. Namun, justru semua ucapannya berbanding terbalik. Apalagi sudah hadir sosok Savan waktu itu, perjuangannya tidak diragukan lagi. Tapi, kenyataannya benar-benar sangat berbeda. Semua berubah drastis.


"Malah ngelamun. Ingat Vando, ya?" tanya Zavan.


Liyan menggelengkan kepalanya.


"Enggak. Aku cuma gak nyangka aja, kisahku sudah berakhir setelah kurang lebih enam tahun lamanya." Jawab Liyan.


"Tenang saja, bukan Vando yang datang. Tapi, Tuan Permana bersama putranya yang bernama Aditya."


Zavan maupun Liyan sama-sama membulatkan kedua bola matanya.


"Kondisikan dulu kedua bola mata kalian, kek mau nerkam musuh aja kalian ini." Kata sang ayah.


Zavan sama Liyan sama-sama nyengir kuda saat mendapat komentar dari ayahnya.

__ADS_1


Ibunya justru tertawa kecil melihat kedua anaknya yang begitu kompak.


"Ya gimana kita gak kaget, Papa nyebutnya gitu. Maksudnya nyebut namanya orang yang gak asing, tapi-"


Zavan terhenti dari ucapannya.


"Tapi kenapa?" tanya Tuan Boni.


"Tapi itu anak menyukai Liyan, Pa. Takutnya ada bau bau rencana mau melamar Liyan. Eh."


Liyan langsung menoleh ke sebelah.


"Lah, Kakak 'kan, cuma nebak. Yang tahu 'kan, Papa, bukan Kakak, masa mendelik gitu sama Kakak. Ampun, Tuan putri."


"Papa belum tanya kedatangan mereka mau apa, mungkin kerja sama. Jangan mikir yang aneh-aneh. Sudah cepat habiskan makanan kalian." Ucap Tuan Boni.


"Percaya aja sama Mama, yang diomongin Papa mungkin memang benar. Kalau kedatangan Tuan Permana tidak lain adalah soal kerja sama." Timpal ibunya.


"Aku mau ke kamar, aku udah kenyang." Ucap Liyan yang memilih untuk kembali ke kamarnya.


Kedua orang tuanya maupun sang kakak, tidak ada yang berani mencegahnya.


"Kejar adik kamu, temani Liyan. Suasana hatinya mudah berubah-ubah." Perintah Tuan Boni kepada Zavan.


Liyan yang baru aja masuk ke kamarnya, memilih untuk duduk santai di balkon. Zavan yang tidak ingin terjadi sesuatu kepada adiknya, pun segera menemuinya.


Saat masuk ke kamar adiknya yang tidak dikunci, Zavan mengecek balkon. Benar saja, Liyan tengah duduk sendirian.


Zavan yang tidak ingin melihat adik perempuannya banyak pikiran, ikutan duduk di sebelahnya. Kemudian, di ambillah gitar dan menyanyikan lagu untuk menghibur adiknya yang terlihat penat kepalanya.


"Kak Zavan! berisik tau." Dengan ketus, Zavan kena omel oleh adiknya.


Zavan tidak menanggapinya, justru masih terus bernyanyi. Kesal, geram, itu pasti. Zavan yang tidak ingin adiknya ngambek, menyudahi main gitarnya.


"Kamu kenapa lagi, Liy? kok tiba-tiba kamu kek gak nyaman saat Papa membicarakan Aditya."


"Enggak apa-apa. Aku hanya tidak ingin bertemu dengannya. Aku takutnya timbul rasa kasihan pada dirinya, karena aku sudah menolak dia." Jawab Liyan.


"Terus, sebenarnya siapa yang kamu suka, Liy? jangan sampai kamu mengecewakan Devan. Dia sudah kehilangan semuanya, apa kamu akan membunuh mentalnya? apa kamu juga karena kasihan? ingat Liy, kamu sudah pernah menyakiti Devan begitu dalam, sekarang ini dia sedang terpuruk, apakah kamu akan menambahkan luka padanya?"

__ADS_1


"Aku tidak menyukai Aditya, Kak. Aku merasa nyaman dengan Kak Devan. Dia yang bersabar, meski aku sudah menyakitinya. Dan aku hanya tidak ingin melihat Aditya kecewa, itu saja. Makanya, aku tidak ingin bertemu dengannya. Kak, aku mohon, bantu aku agar aku tidak bisa bertemu." Jawab Liyan sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Baik, kamu pura pura sakit." Ucap Zavan memberi ide kepada adiknya.


"Apa aku gak salah dengar?" tanya Liyan merasa aneh dengan ide yang diberikan oleh kakaknya.


"Iya emang cuma itu idenya. Kan, Papa tadi udah bilang, kamu gak boleh keluar, termasuk Kakak. Terus, mau pakai ide kek mana? mau kabur? gak jaman, yang ada kamu akan dicari dan ditangkap oleh Aditya, kamu mau?"


Liyan menggelengkan kepalanya. Bergidik ngeri mah iya, pikirnya.


Karena memang sudah tidak ada cara lain, akhirnya Liyan mengiyakannya.


"Ya udah deh, nurut aja. Lagi pula gak ada cara lain selain pura-pura sakit." Ucap Liyan yang sudah pasrah.


Tidak ingin pikirannya melebar kemana-mana, Liyan memilih untuk duduk santai, meski pikirannya sedang tidak karuan.


Benar saja, rupanya tamu yang sudah buat janji, akhirnya datang juga seperti yang dijanjikan. Aditya yang baru saja turun dari mobil, dirinya celingukan disekitarnya.


Kemudian, anak dan orang tua tengah disambut hangat oleh Tuan Boni dan istrinya, sedangkan Liyan tengah ditemani kakaknya, memilih untuk tidur. Tentu saja, agar idenya terlihat nyata, bukan main-main.


"Selamat malam, Tuan Permana dan Nak Aditya. Bagaimana kabarnya? lama sudah tidak pernah bertemu." Sapa Tuan Boni kepada Tuan Permana dengan sebaik mungkin.


"Kabar kami baik, seperti yang Tuan lihat. Tuan sendiri bersama keluarga, bagaimana kabarnya?"


"Baik juga, sama seperti Tuan. Jawab Tuan Boni.


"Syukurlah." Kata Tuan Permana.


"Mari, silakan masuk." Ucap Tuan Boni mempersilakan tamunya.


"Terima kasih." Jawab Tuan Permana, dan bergegas masuk ke rumah.


Saat sudah dipersilahkan untuk duduk, mereka duduk dan saling berhadapan.


"Maaf sebelumnya, kedatangan kalian kemari, kalau boleh tahu, ada perlu apa, Tuan?"


"Kami datang kemari hanya ingin mempertemukan putra kami yang dikenal sosok Aditya. Kalau boleh tahu, dimana putri kalian?"


Zavan yang sudah membuat rencana, pun segera keluar dari kamarnya, tentu saja untuk memainkan sesuatu yang sudah direncanakan.

__ADS_1


"Ada tamu rupanya, Aditya, Tuan Permana, apa kabarnya?" sapa Zavan berusaha ramah dihadapan keluarga Permana.


"Kabar kami baik-baik saja, dimana Liyan?" jawab Aditya dan balik bertanya kepada Zavan.


__ADS_2