
Selesai bermain dengan Savan, mereka bertiga segera mandi karena sudah basah kuyup.
"Astaga. Aku lupa bawa handuk, lagi. Gimana ini? duh, memalukan." Gumam Liyan karena gelisah dan bingung.
Tidak ada pilihan lain, akhirnya terpaksa harus berteriak.
"Yena! Yen. Yena! ke sini bentar, aku butuh bantuan kamu." Teriak Liyan dengan suara yang cukup nyaring.
Tetap saja, Liyan sama sekali tidak mendapatkan jawaban apapun. Hening, benar-benar tidak ada suara. Tidak mungkin untuk terus-terusan berada didalam kamar mandi, akhirnya kembali memanggil siapa saja yang bisa menyahut.
"Yena! cepetan ke sini. Savan! Bunda minta tolong." Teriak Liyan memanggil siapa saja yang mau respon.
Vando yang baru saja ke belakang, pun dapat mendengar suara Liyan seperti berteriak dan sekaligus memanggil.
Untuk memastikannya, Vando mengetuk pintu kamar mandinya.
"Siapa ya, apakah ada orang di dalam?" tanya Vando yang baru saja mengetuk pintu untuk memastikannya.
"Iya, benar. Ini aku, Liyan. Em- boleh minta tolong gak, aku butuh bantuan." Sahut Liyan dari dalam kamar mandi.
"Iya, apa?"
"Boleh minta tolong ambilkan handuk untukku?"
"Oh, handuk. Kebetulan aku bawa handuk, ini pakai saja." Ucap Vando.
"Makasih, tapi aku gak butuh. Ambilkan saja handukku ada belakang." Sahut Liyan yang tetap menolak.
"Apa bedanya. Ini juga masih bersih. Juga, aku gak punya penyakit menular atau yang lainnya. Jadi, pakai aja." Ucap Vando.
"Enggak usah. Aku gak terbiasa, bahkan gak pernah pakai handuk orang lain. Mungkin kalau sudah menikah, aku mau." Sahut Liyan beralasan.
Bahkan, dirinya sampai lupa jika pernah menikmati malam bersama tanpa sehelai benang pun.
Vando tersenyum mendengar.
"Enggak usah sok polos kamu itu. Kamu lupa, kalau aku dan kamu ada Savan. Jadi, apa yang membuatmu tidak mau, ha? sudah lah, pakai saja ini handuk. Apa perlu aku yang memakaikan handuknya? gimana, mau?"
__ADS_1
"Ish! sebel. Ya udah sini, buruan cepetan. Kamu itu, dari dulu paling suka mencari kesempatan."
Vando justru tersenyum, sama sekali tidak menanggapi.
"Ini handuknya." Ucap Vando sambil menyodorkan handuk kepada Liyan, yakni dengan pintu yang sedikit terbuka.
Tidak ada pilihan lainnya, Liyan menerimanya. Ada sedikit males, tapi mau bagaimana lagi. Gak mungkin juga jika dirinya akan tetap berada di dalam kamar mandi.
Setelah itu, Vando pergi dan menemui putranya. Sedangkan Liyan tengah buru-buru segera keluar dari kamar mandi.
Dilihatnya Savan sedang bersama Ibu Arum, Vando ikutan duduk didekat putranya.
"Eh Ayah, Bunda dimana?"
"Bunda baru aja mandi, sayang, kenapa?"
Savan menggelengkan kepalanya.
"Gak apa-apa, Ayah. Savan cuma tanya aja, soalnya Bunda belum kelihatan."
Vando tersenyum.
"Iya, kenapa, sayang?"
"Paman Aditya nanti ikut pulang ke kota apa enggak?" tanya Savan kepada Vando ayahnya.
"Paman gak ikut. Savan aja yang ke kota bareng Ayah dan Bunda, ya. Nanti kalau Paman sudah mempunyai banyak uang, Paman akan datang ke rumahnya Savan yang ada di kota, gimana?" sahut Aditya yang memaksakan diri keluar dari kamar karena jenuh.
"Yeah, padahal Savan pingin ngajak Paman Aditya. Tapi, Paman malah gak ikut." Ucap Savan sambil mengerucutkan bibirnya dibuat cemberut.
Aditya langsung ikutan duduk di sebelah Savan, yakni masih berbalut selimut tebal karena kondisi fisiknya yang masih belum sepenuhnya fit.
"Kalau badan kamu masih belum terasa enakan, kamu istirahat saja. Jangan paksa diri kamu kalau masih lemas badan kamu." Ucap Vando kepada Aditya, sedangkan ibu Arum memilih diam ketika kedua insan tengah seperti sama-sama ingin memiliki Liyan.
"Enggak apa-apa, sudah mendingan. Aku sudah terbiasa sakit seperti ini. Asal ada Savan di sampingku, nanti juga sembuh. Iya gak, Savan?"
"Benar, Ayah. Paman Aditya kalau sakit sukanya deketin Savan. Malah, Savan suruh tidur bareng Paman."
__ADS_1
Vando tersenyum tipis dan mengangguk, yakni tanda mempercayai ucapan dari putranya.
'Beruntung sekali Aditya, begitu dekat dengan Savan. Sedangkan aku harus merayunya pakai apa? aku sendiri tidak mempunyai kenangan bersamanya, seperti Aditya dengan Savan.'
Liyan yang dapat menangkap ekspresi dari Vando seperti ada rasa cemburu atas kedekatan Savan dan Aditya, akhirnya ikutan duduk disebelahnya. Ibu Arum sendiri memilih bangkit dari posisinya, dan ke belakang untuk memeriksa sarapan paginya karena takut ada yang kurang. Sedangkan Yena sudah berangkat ke tempat kerjanya.
"Lagi ngapain aja dari tadi, hayo...."
"Bunda. Ini loh, Savan lagi ngobrol sama Ayah, sama Paman Aditya. Tapi-"
"Kenapa?"
"Paman Aditya bilang gak ikut ke kota, Bunda." Jawab Savan dengan ekspresi yang sedih.
"Jangan sedih gitu dong jagoannya Paman. Paman nanti ke kota kok, serius. Tapi, Paman harus ngurus kerjaan dulu. Terus, baru deh ngumpulin uang buat ke kota nemui Savan. Gimana, gak apa-apa, 'kan? nanti 'kan, kita bisa pakai video call. Jadi, gak ada alasan apapun, oke." Sahut Aditya yang langsung menunjukkan jari kelingkingnya, yakni untuk melakukan kesepakatan dan persetujuan antara Savan dan Aditya.
"Hore .... Nanti Paman Aditya menyusul ke kota." Ucap Savan dengan riangnya.
Ibu Arum yang tidak ingin suasana bertambah canggung, mengajak mereka semua untuk sarapan pagi. Vando mendadak tidak berselera untuk mengisi perutnya, juga terasa enggan untuk sarapan pagi.
Vando masih duduk seperti semula. Sedangkan Aditya bersama Savan sudah duduk di ruang makan.
Liyan yang melihat Vando seperti menahan sesuatu yang menjadi beban pikirannya, pun menepuk punggungnya.
"Aw! ngagetin saja kamu ini. Sudah sana kalau mau sarapan. Aku masih kenyang, sarapannya nanti saja."
"Kamu kenapa jadi lesu gini, ha? bukankah tadi itu kamu kek menang lotre, kenapa jadi murung? oh, apa mau aku suapi?"
Vando langsung menoleh.
"Liy."
Vando tidak lagi melanjutkan bicaranya, dan memilih membuang napasnya dengan kasar.
"Kamu ada masalah? gak lagi berantem dengan Aditya, 'kan?" tanya Liyan penasaran, meski dapat menyimpulkan ekspresi dari Vando.
"Bisa dikatakan berantem, bisa juga dikatakan tidak. Aku tahu, kalau Aditya tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan kamu, itu udah fix dari firasat ku. Entah lah, antara ketakutan ku, atau memang pikiranku yang sedang tidak karuan karena takut kehilangan kamu dan Savan." Jawab Vando dengan lesu.
__ADS_1
"Sudahlah, ayo kita sarapan. Jangan lemah gini kenapa, kamu itu cowok. Kalau kamu menyerah, aku pun menyerah. Kalau kamu berjuang, aku juga akan berjuang. Sudahlah, kita tenangkan pikiran kita sejenak, takutnya nanti banyak beban pikiran, dan ujungnya malah sakit, 'kan sayang kalau sampai kesehatan kita ini terganggu." Ucap Liyan yang tengah menggenggam tangan miliknya Vando.
Karena tidak ingin Liyan ikutan menyerah, sebisa mungkin untuk tidak menjadi lelaki mudah menyerah.