Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Tidak ingin kehilangan


__ADS_3

Liyan yang tidak ingin membuat Vando bertambah kesal, akhirnya segera ke kamarnya.


Kini, Aditya tengah diperiksa kondisi kesehatannya oleh Dokter. Sedangkan Yena menyiapkan sarapan pagi, Ibu Arum masih menunggu hasil pemeriksaan dari dokter.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Vando ingin tahu.


"Ya Dok, bagaimana keadaan keponakan saya, Dok?"


Ibu Arum ikut menimpali.


"Tidak apa-apa. Pasien hanya kurang tidur, dan kurang istirahat. Nanti juga akan pulih kembali kesehatannya. Oh ya, jangan lupa nanti obatnya diminum sesuai resep yang sudah saya tulis. Juga, banyakin istirahat, dan jangan bergadang sampai larut malam." Jawab Dokter.


"Baik, Dok. Terima kasih banyak sudah memberi penanganan kepada pasien." Ucap Vando.


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi." Jawab Pak Dokter.


Kemudian, Ibu Arum segera mengambil uang untuk membayar pengobatannya Aditya. Sedangkan Vando masih duduk di dekatnya.


"Kamu gak perlu mikirin Liyan, dia akan aman bersamaku. Aku tahu kalau kamu menyukainya, tapi aku yang lebih dulu. Jadi, biarkan Liyan hidup bersamaku. Juga, kamu gak perlu khawatir, aku akan bertanggung jawab atas Liyan dan Savan. lebih baik kamu terima kenyataan ini, dan lupakan Liyan." Ucap Vando yang tidak ingin Aditya terus mengejar Liyan, dan akan menjadi pengganggu dalam hubungan rumah tangganya nanti, pikir Vando.


Aditya batuk, dan terasa sesak napasnya.


Dengan sigap, Vando langsung membantunya untuk duduk. Kemudian, ia mengambilkan air minum untuk Aditya, dan memberikannya pada Vando.


"Minumlah. Kamu jangan menyiksa diri kamu sendiri, kasihan dengan kesehatan mu." Ucap Vando.


Aditya terdiam, dirinya sama sekali tidak menanggapi.


"Gimana keadaan mu, Nak Adit? mana yang sakit?" tanya ibu Arum yang khawatir dengan keponakannya.


Aditya menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada, Bude. Aku cuma kurang tidur aja tadi malam." Jawab Aditya sambil memeluk guling karena dingin.

__ADS_1


"Bude tahu, kalian berdua saling menyukai Nak Liyan. Tapi, apa keputusan yang kalian dapatkan dari Nak Liyan? ya itu keputusannya. Jadi, jangan dipaksa untuk merubah, kasihan Savan." Ucap Ibu Arum mengingatkan.


Mau bagaimanapun, meski Aditya keponakannya, tetap saja harus mempunyai sikap yang bijak, dan tidak untuk membela satu orang.


"Saya permisi, Bu. Kalau ada apa-apa, panggil saja saya." Ucap Vando yang tidak ada perdebatan antara dirinya dan Aditya.


Setidaknya bagi Vando sudah mengingatkan Aditya secara terang-terangan sudah cukup. Sedangkan selanjutnya, Vando memilih untuk diam.


Kini, tinggallah Aditya dengan ibu Arum di dalam kamar.


"Kamu termasuk orang kedua yang masuk di kehidupannya Nak Liyan. Jadi, kamu jangan memaksakan diri agar Liyan memilih kamu. Relakan, dan berlapang lah. Mungkin benar, bahwa Nak Liyan bukan jodohmu. Bude tahu akan perasaan mu padanya, tapi semua keputusan ada pada Nak Liyan." Ucap Ibu Arum mencoba memberi nasehat kecil kepada keponakannya, agar tidak terpancing emosi, dan bisa menerima kenyataan dengan berlapang dada.


Aditya mengangguk pelan, meski hatinya terasa sakit dan juga kecewa. Namun, apa dayanya, hanya mengalah dengan rasa sakitnya.


"Ya udah, Bude mau bantu Yena masak dulu. Lebih baik kamu istirahat saja dulu. Nanti kalau sarapannya sudah matang, Bude bawakan sarapan pagi untuk kamu." Ucap Ibu Arum.


Aditya kembali mengangguk, yakni mengiyakan.


Karena tidak ingin ingin Yena sibuk sendirian, Ibu Arum segera ke dapur dan membantu putrinya untuk menyiapkan sarapan pagi.


Dengan modal nekad, Vando meminta tolong sama tetangga untuk menunjukkan rumahnya pak RT.


Dengan sopan, Vando bertamu di rumah pak RT dan bertanya mengenai pengurusan surat pindah untuk Liyan dan Savan.


"Anak mu masih TK, gak begitu rumit untuk membuat surat pindah. Terus, Nak Liyan masih warga kota, dan tidak ada masalah apapun untuk kartu keluarganya. Jadi, gak rumit untuk pindah." Kata pak RT.


"Begitu ya, Pak. Makasih banyak ya, Pak. Kalau begitu saya pamit." Ucap Vando.


"Ya, sama-sama. Jangan lupa kalau mau pulang kabari pak RT, ya." Jawab Pak RT.


"Iya, Pak RT, kalau gak lupa. Tapi akan tetap saya usahakan untuk memberi kabar sama Pak RT." Ucap Vando dengan senyum yang ramah.


Setelah itu, Vando pulang ke rumah ibu Arum. Sambil berjalan, Vando kembali teringat dengan Aditya yang sedang sakit. Tentunya, Vando takut jika Liyan akan memberi perhatiannya pada Aditya.

__ADS_1


Vando masih terus kepikiran, bayang-bayang yang tidak tidak tengah menguasai pikirannya.


'Berarti jika Aditya sakit, mungkinkah Liyan memberi perhatian penuh kepada Aditya? pasti iya. Terlihat jelas kalau Aditya begitu manja saat sakit. Bahkan, dirinya berani tidur di pangkuannya Liyan.' Batin Vando yang tengah kepikiran.


Sedangkan di rumah, Liyan tengah membereskan kamarnya Vando yang sempat terabaikan karena Vando masih tidur dan tiba-tiba terbangun karena Aditya yang sakit.


Entah kenapa, Liyan duduk di tepi tempat tidur, dan melamun.


'Apa keputusan ku sudah benar? atau aku salah mengambil keputusan? aku tidak tahu akan nasibku nanti, akankah bahagia atau bersedih, aku benar-benar dilema. Tapi, aku ada Savan yang sangat membutuhkan sosok ayah dan ibu. Haruskah aku pulang ke kota? atau memilih tinggal di kampung ini. Ya Tuhan. Pilihan ini sangat sulit, antara perasaan dan keinginan.' Batin Liyan yang dipenuhi dengan pikirannya yang tidak karuan.


"Kamu kenapa, Liy?" tanya Vando yang ikutan duduk disebelahnya.


Liyan terkesiap saat dikagetkan Vando yang tiba-tiba bertanya pada dirinya. Juga, ikutan duduk didekatnya. Tentu saja, Liyan kaget dan detak jantungnya berdegup tidak karuan.


"Kamu. Ngagetin saja. Dari mana saja kamu?"


"Dari rumah pak RT." Jawab Vando dan tersenyum.


"Pak RT? ngapain?" tanyanya lagi.


"Mau proses kamu pulang ke kota bareng Savan." Jawab Vando, dan meraih tangannya Liyan.


Liyan terkejut dengan ekspresinya.


"Kamu ke rumah pak RT buat proses pulang ke kota?"


Vando mengangguk.


"Aku gak mau kalau kamu diambil laki-laki lain. Aku takut kehilangan kamu dan Savan yang kedua kalinya. Jadi, secepatnya kita akan segera pulang ke kota. Juga, kita akan urus pernikahan kita setelah Devan memproses perceraian kamu dengannya." Jawab Vando, dan merangkul Liyan.


Kemudian, Vando menyandarkan kepalanya Liyan tepat didekat dada bidangnya.


"Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Aku akan membahagiakan kamu, sekaligus bertanggung jawab atas dirimu." Ucap Vando sambil mengusap lengannya dengan lembut.

__ADS_1


Saat itu juga, Liyan merasa nyaman saat berada di dekat Vando. Ingatannya kembali dimasa lalunya. Yakni masa lalu yang penuh kenangan bersama Vando.


__ADS_2