
Meski ada Savan yang akan mengisi hari harinya di dalam rumah, terasa sepi tidak ada lagi sosok Devan dimata ibunya Vando.
Di lain tempat, Devan yang baru saja sampai di halaman rumahnya yang tidak begitu besar, segera turun dari mobilnya.
Devan yang baru saja turun dari mobil, akhirnya dapat bernapas lega.
"Akhirnya sampai juga di rumah baru." Gumamnya dan bergegas masuk kedalam rumah.
Dengan tatanan yang tidak begitu mencolok pandangan mata, ruangan tamu tetap terasa adem untuk ditempati. Kemudian, Devan menjatuhkan tubuhnya di sofa sambil merentangkan kedua tangannya, dan menatap langit-langit ruang tamu.
"Semua tinggal kenangan, dan nasib baik belum berpihak padaku." Gumamnya sambil bersandar dan membuang napasnya dengan kasar.
Setelah itu, Devan membereskan barang bawaannya untuk dibawa masuk ke dalam rumah. Tanpa seorang pun yang membantunya, tidak memakan waktu lama, akhirnya semua dapat dibereskan dan ditata dengan rapi.
Ruang kamar yang didesain senyaman mungkin, memberi kesan yang elegan.
"Selesai juga akhirnya. Dah mau siang, sebaiknya aku cari makanan dulu buat isi perutku. Sekalian belanja untuk kebutuhan sehari-hari." Ucapnya saat berdiri di depan cermin.
Sudah seperti anak sebatang kara, Devan berusaha kuat dan tegar untuk menjalani kehidupan barunya tanpa seorang pun yang menemaninya.
Tidak ingin waktunya terbuang sia-sia, Devan segera pergi untuk mencari makanan, sekalian juga untuk berbelanja.
Sampainya di restoran, Devan segera memarkirkan mobilnya. Setelah itu, ia masuk kedalam untuk makan siang.
Saat sudah berada di dalam, Devan mencari tempat duduk, dan memesan makanan. Sambil menunggu, Devan menyibukkan diri dengan ponselnya. Alih-alih untuk menghilangkan kejenuhannya.
Tidak menunggu lama, pesanannya pun datang. Devan segera menikmati makan siangnya hanya seorang diri. Meski terasa hambar makanannya, Devan memaksa mulutnya untuk menerima suapan dirinya sendiri.
Sudah merasa kenyang, Devan buru-buru untuk berbelanja kebutuhannya sehari-hari. Baru saja keluar dari restoran, terdengar suara berteriak dengan sangat jelas meminta tolong. Juga, suara teriakan masa yang tengah berlari sambil mengejar.
Saat melihat seseorang tengah dikejar oleh masa, Devan lari dengan kencang dan ikut mengejarnya.
Rupanya seseorang itu melakukan perlawanan, dan terjadi adu tonjok dengan Devan.
BUG!
BUG!
__ADS_1
BUG!
Keduanya saling menghajar satu sama lain.
Dengan tenaganya yang kuat, pelaku dapat diamankan oleh banyaknya orang yang sempat mengejar.
Awalnya mau dikeroyok oleh masa, namun Devan melarangnya dan menyerahkan kepada yang berwajib. Namun sebelumnya, seseorang itu menyerahkan tas yang ia rampas dari pemiliknya.
Setelah menerima tas tersebut, pelaku sudah diamankan oleh Polisi. Kemudian, Devan mencari pemilik tas tersebut.
Dengan napasnya yang terengah-engah, pemilik tas mengatur pernapasannya.
"Dia Pak, dia pemilik tasnya." Ucap sala seorang yang juga ikutan mengejar pelaku jambret.
Devan mengangguk, dan mengarahkan pandangannya ke salah seorang perempuan yang ditunjuk olehnya.
Devan mendekati, sedangkan perempuan pemilik tas masih terengah-engah.
"Ini tas kamu sudah aku amankan, ambillah." Ucap Devan sambil menyodorkan tasnya.
Perempuan tersebut masih mengatur napasnya. Kemudian, ia mendongak dan berdiri dengan tegak.
"Iya, aku Devan, mantan suaminya Liyan. Kamu Yena yang dari kampung, 'kan?"
"Iya, benar. Eh, makasih ya, udah nolongin aku."
"Kamu sendiri ngapain sampai di kota sendirian? memangnya gak ada Aditya?" tanya Devan.
Yena langsung duduk di sembarang tempat, tidak peduli jika harus di emperan depan toko.
"Di kampung kami ada musibah besar, banjir bandang. Nahas, Ibu gak tertolong. Semua yang kami miliki hanyut bersamaan banjir bandang. Aku gak punya tempat tinggal, aku cuma bertahan di pengungsian. Nomor Aditya juga gak bisa dihubungi, nomornya Liyan aku gak hafal. Jadi, aku nekad pergi ke Kota lewat pesangon dari warga." Jawab Yena sambil tertunduk sedih.
"Aku turut berdukacita ya, atas musibah yang menimpa dirimu, juga buat ibu kamu yang telah berpulang. Oh iya, kamu belum makan 'kan? gimana kalau aku ajak kamu ke restoran. Kebetulan, mobilku masih diparkiran restoran. Nanti aku hubungi Aditya, atau gak Liyan."
"Aditya aja, dia sepupu aku." Jawab Yena.
"Ya udah, ayo ikut aku." Ajak Devan kepada Yena.
__ADS_1
"Makasih banyak ya, udah nolong aku. Maaf juga udah merepotkan kamu."
"Sama-sama. Karena kita diwajibkan untuk saling tolong menolong." Ucap Devan sambil berjalan beriringan.
"Oh ya, Liyan udah nikah ya? maaf, aku cuma ingin tahu saja. Soalnya katanya kalau mau nikah mau kabari aku."
"Liyan udah menikah kemarin. Mungkin udah menghubungi kamu, tapi gak tahu jika di kampung kamu ada musibah. Positif thinking saja." Jawa Devan.
"Iya, mungkin udah menghubungi aku." Ucapnya sambil berjalan beriringan.
"Ayo masuk." Ajak Devan.
Saat masuk kedalam restoran, tiba-tiba Devan dipertemukan dengan seorang perempuan yang tidak asing baginya.
"Devan. Ya ampun, aku kangen banget sama kamu." Ucapnya sambil menyebut namanya dan tidak malu malu langsung memeluknya.
Merasa risih dan dongkol, Devan langsung melepaskan pelukan dari seorang wanita. Saat itu juga, Devan langsung menyambar pinggang miliknya Yena, dan keduanya menempel.
"Jangan sembarangan memeluk diriku, Jenny. Aku sudah punya istri, ini istriku. Kamu jangan membuat masalah lagi. Sudah cukup kamu menghancurkan hubungan ku dengan Liyan." Ucap Devan yang langsung memperkenalkan bahwa Yena adalah istrinya.
Yena sendiri langsung terkejut dengan aktingnya Devan yang mengakui bahwa dirinya istrinya.
Bukannya percaya dengan Devan, justru Jenny tertawa mendengarnya sambil memperhatikan penampilan Yena yang jauh darinya.
"Apa aku gak salah dengar, dan salah lihat, inikah selera mu, sayang? duh! gak banget deh. Jangan-jangan dia ini pembantu di rumah mu, dan kamu ajak berakting." Ucap Jenny sambil tertawa kecil dengan niat mengejek.
"Kenapa kalau seleraku seperti ini? daripada perempuan cantik seperti mu, perempuan modis, tapi di dalam hatimu sangat sadis. Sekarang juga, pergi dari hadapanku." Jawab Devan yang mulai terasa dongkol.
Ingatannya kembali saat hubungannya hancur karena Jenny, dan kini tidak ingin hidupnya diganggu lagi.
Devan yang tidak ingin bertambah masalah, ia langsung menarik Yena untuk segera masuk kedalam restoran. Sedangkan Jenny berdecak kesal dibuatnya.
"Awas saja kamu, Devan. Aku gak akan membiarkan kamu hidup bahagia dengan perempuan kumel seperti dia." Gerutunya sambil berkacak pinggang, juga dengan kekesalannya.
Devan sendiri tidak peduli, ia masih menggandeng tangannya Yena sampai di tempat duduk.
"Silakan duduk. Maaf, jika tadi membuatmu tidak nyaman." Ucap Devan sambil menarik kursi untuk Yena.
__ADS_1
"Gak apa-apa. Bukannya tadi kamu bilang, kalau kita diwajibkan untuk saling tolong menolong." Jawab Yena sambil membenarkan posisi duduknya.
Devan tersenyum mendengarnya. Kemudian, ia memesankan makanan untuk Yena. Sedangkan dirinya hanya memesan minuman, lantaran dirinya baru saja makan di restoran tersebut.