Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Melakukan persiapan


__ADS_3

Vando yang tetap bersikeras untuk mencari anak dan ibunya yang ikut terseret ombak, ia tidak peduli dengan cuaca yang lumayan ekstrim.


Mendung yang gelap, dan dibarengi dengan kilat maupun petir yang saling menyahut, membuat orang-orang takut untuk keluar malam. Meski area pantai lumayan terang, suasana menjadi berubah sejak adanya korban yang terseret ombak.


Devan bersama Aditya yang mengikutinya dari belakang, takut terjadi sesuatu pada diri Vando yang masih dikuasai emosi dan kesedihan yang begitu mendalam.


"Aaaaaa!" teriak Vando yang meluapkan segala beban yang tengah bersemayam dalam benak pikirannya.


Vando menjatuhkan diri, dan tertunduk sedih.


"Savan, dimana kamu, Nak? Mama, dimana engkau, Ma?"


Vando menangis histeris di tepian pantai. Karena cuaca yang semakin ekstrim. Devan bersama Aditya segera menghampirinya, dan mengajaknya untuk pulang.


"Cuaca semakin buruk, sebaiknya pulang. Kalau kamu terus seperti ini, yang ada kamu menyiksa diri. Ayo pulang, sudah gerimis." Ucap Devan mencoba untuk membujuk saudara sepupunya.


"Yang dikatakan Devan, sebaiknya kamu pulang. Kita bisa melakukan pencarian lagi besok, tidak untuk sekarang, karena cuaca tidak memungkinkan untuk melakukan pencarian." Timpal Aditya yang juga ikutan membujuk.


"Aku gak akan pulang sampai anak dan orang tuaku ditemukan. Kalau kamu mau pulang, pulang saja kalian berdua. Aku datang kesini tidak mengajak kalian, jadi tidak perlu untuk membujuk ku untuk pulang." Jawab Vando yang sama sekali tidak menoleh, maupun bangkit dari posisinya.


Saat itu juga, Devan meminta beberapa orang untuk membantunya melakukan perlawanan agar Vando bisa pulang ke rumah, dikarenakan cuaca yang ekstrim dan seperti mau hujan deras, terlihat dari kilat maupun petir yang menggelegar.


Tidak ada pilihan lain, akhirnya Vando dibuat pingsan, dan dibawa pulang. Tidak peduli semarah apa dianya, yang terpenting sudah berada di rumah.


Benar saja, Vando sudah berbaring ditempat tidurnya, dan tetap melakukan penjagaan agar tidak memberontak. Devan dan Aditya yang tidak ingin terjadi sesuatu pada diri Vando, terpaksa harus bergadang.


"Kamu kalau ngantuk, tidur aja. Nanti aku akan perintahkan orang suruhan untuk menjaga Vando. Aku juga ngantuk, kita tidur aja gak apa-apa. Soalnya besok kita akan lanjutkan lagi pencarian, jadi harus istirahat yang cukup." Ucap Devan.

__ADS_1


"Ya udah, aku mau tidur di ruang tamu, sekalian berjaga-jaga kalau Vando nekad pergi." Jawab Aditya yang mengiyakan.


Dirasa sudah tidak ada yang dikhawatirkan karena sudah ada yang berjaga-jaga, Devan sama Aditya sama-sama beristirahat. Satunya tidur di ruang tamu, dan yang satunya lagi tidur di ruang keluarga.


Rasa kantuk yang sudah menguasai, Devan maupun Aditya tengah tidur karena kecapean. Karena tidak ingin didahului oleh Vando, Devan bangun dari tidurnya pada jam empat pagi, waktu enak-enaknya untuk tidur.


Namun, karena masih mempunyai tanggung jawab soal Vando, Devan harus berjaga karena takutnya Vando melakukan hal nekad, meski badan terasa capek sekalipun.


Di ruang keluarga, Devan yang sudah terjaga kesadarannya, dirinya membuat kopi di dapur. Kemudian, menikmati secangkir kopi pahit, juga panas sambil menunggu pagi yang cerah menyambutnya.


Aditya yang tidak bisa tidur karena kepikiran situasi didalam rumahnya Vando, pun terbangun dari tidurnya. Terdengar suara di ruang keluarga yang ia tahu ada Devan, Aditya mencoba untuk mengecek.


Benar saja, rupanya Aditya melihat Devan yang sudah bangun dari tidurnya. Kemudian, ia ikutan duduk. Devan yang mendengar suara langkah kaki, pun mendongak.


Devan mendapati Aditya yang sudah bangun dari tidurnya.


"Gak usah, aku gak terbiasa ngopi. Vando gimana dia, belum bangun juga kah?"


Devan menggelengkan kepalanya. "Belum."


"Pagi nanti gimana rencana selanjutnya? semalam aku sudah memberi perintah kepada anak buah ku, tapi belum ada kabar lagi, soalnya hujannya gak mau reda, mungkin tidak beroperasi."


"Sama aja, aku buka ponselku juga gak ada pesan, mungkin memang benar kalau cuaca lagi ekstrim." Kata Devan.


Aditya yang teringat kenangan bersama Savan, dan mempunyai janji untuk mengajaknya jalan-jalan, pun tertunduk sedih.


"Tidak hanya kamu yang merasa kehilangan, aku pun seperti kehilangan orang tuaku. Tante Sevira sudah seperti ibu kandung aku sendiri. Dari kecil, Tante sudah mengasuhku layaknya anak kandungnya. Kini, saat aku melepaskannya kepada Vando, justru ujian terberat ku adalah berpisah. Ditambah lagi dengan kejadian seperti ini, aku benar-benar shock." Ucap Devan yang justru menitikkan air matanya.

__ADS_1


Begitu juga dengan Aditya, Savan yang sudah dianggap anak kandungnya sendiri, kini setelah bersama Vando, ujian terberatnya adalah berpisah, sama seperti Devan yang sama-sama kehilangan setelah hidup lama bersamanya.


"Aku pun sama sepertimu. Savan yang sudah aku anggap anakku sendiri, kini harus berpisah karena sudah menemukan ayahnya. Tapi, ujian ini lebih berat dari sekedar perpisahan antara jarak rumah." Jawab Aditya yang sama-sama merasa kehilangan.


"Kita kehilangan dari orang yang sama, yaitu Vando. Kamu kehilangan Savan, dan aku kehilangan Tanteku. Tapi, kita bisa apa? hanya bisa berdoa dan berusaha mencari cara untuk keselamatan mereka." Ucap Devan.


"Benar. Kita berada didalam ujian yang sama." Jawab Aditya.


"Dah mau jam lima, apa gak sebaiknya kita sarapan dulu. Mau bagaimanapun, kita butuh tenaga, dan jangan sampai fisik kita drop. Kalau bukan kita yang ikut andil dalam masalah ini, lalu siapa setelah keluarganya?"


"Boleh. Tapi ini masih jam lima, apa gak ganggu pelayanan rumah?"


"Tenang saja. Kita sarapan seadanya, kalau ada roti ya roti, kalau ada bubur, ya bubur. Bentar ya, aku ke dapur dulu, lihat ada makanan apa di dapur. Biasanya sih, Tante Sevira selalu menyetok roti untuk andalan saat mendesak." Ucap Devan, dan bergegas untuk pergi ke dapur, yakni mengambil makanan yang bisa dijadikan pengganjal perut lapar.


Saat berada di dapur, Devan menemukan roti. Kemudian menghangatkan roti tersebut, dan menyiapkannya untuk sarapan pagi sambil menunggu Vando bangun dari tidurnya.


Hanya memakan waktu beberapa menit saja, akhirnya rotinya sudah dihangatkan, dan ia bawa ke ruang keluarga.


"Ini, ada susu tawar sama roti hangatnya. Semoga kamu suka. Soalnya hanya ada ini di dapur. Setidaknya perut kita diisi." Ucap Devan sambil meletakkan nampan berisi satu gelas susu tawar, dan roti yang sudah dihangatkan.


"Makasih, udah repot-repot nyiapin sarapan pagi." Jawab Aditya.


Merasa sudah kenyang, Devan membereskan mejanya, dan membawa ke dapur.


Aditya yang teringat dengan anak buahnya, kembali menghubungi dan menyuruh untuk segera bersiap-siap berangkat ke pantai untuk dilanjutkannya melakukan pencarian.


Begitu juga dengan Devan, dirinya sama halnya seperti Aditya untuk memberi perintah kepada anak buahnya untuk segera beroperasi disekitaran pantai yang tengah memakan korban.

__ADS_1


__ADS_2