Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Mengajak makan malam


__ADS_3

Malam harinya, Liyan yang teringat soal ucapan Devan yang hendak menelpon, bersabar menunggu telepon dari Devan.


Perasaan senang sudah pasti. Lebih lagi yang menelpon adalah seseorang yang pernah mengisi ruang hatinya yang cukup lama. Tentu saja keduanya seperti kembali bersemi perasaan cintanya.


Devan yang sudah merasa ngantuk karena besok paginya harus berangkat kerja, meminta Liyan untuk menyudahi panggilan telepon.


Setelah sambungan telepon diputus, Devan pergi ke kamar mandi sebelum tidur, yakni untuk buang kecil. Rasa kantuk yang tidak bisa dihindari, Devan berbaring dan memejamkan kedua matanya hingga mentari pagi menyambutnya dengan kehangatan.


Devan yang tidak pernah menyediakan sarapan pagi lantaran menghemat biaya kehidupannya selama berada di kosannya, rela meski hanya dengan air minum dan roti seadanya. Rasa lapar seolah dijadikan usaha diet.


Tidak ingin datang terlambat, dan tidak ingin memberi contoh yang gak baik. Devan selalu datang dengan tepat waktu. Bahkan, tidak ada rasa jijik atau yang lainnya, Devan bersedia memungut sampan di lokasi bengkel tempatnya kerja.


Bengkel tersebut benar-benar sudah rapi, bersih, dan tidak membosankan untuk siapa saja yang datang.


"Sejak ada kamu di bengkel ini, banyak sekali perubahan. Aku salut sama kamu, Dev. Tidak hanya menjadi bersih dan terlihat rapi, tetapi juga mulai banyak pelanggan. Ini rizki kamu, semangat ya, kerjanya." Ucap Jino yang baru saja datang, dan melihat Devan tengah memunguti sampah di area bengkel.


Devan segera duduk.


"Jangan terlalu berlebihan ketika memuji, aku orangnya kepedean soalnya. Mendingan kamu komplain aja terus, biar bengkelnya ada perubahan gitu. Kalau aku sering disanjung, aku bisa lupa diri. Malah nih ya, telunjuk ini bisa tajam."


"Kok gitu, gimana ceritanya?" tanya Jino merasa aneh.


"Ya iyalah, aku makin malas ngerjain. Lah gimana, orang disanjung mulu akunya sama kamu. Yang ada nanti aku malah nyuruh kamu buat mengambil sampah, terus ngerjain yang lainnya." Jawab Devan sambil tertawa kecil.


"Sia_lan, ksmu." Umpat Jino merasa dikerjain oleh Devan.


"Widih, dah bersih aja ini depan bengkel. Pasti kelakuannya Devan, kalau Jino keknya sih gak mungkin. Secara dia ini pemalas akut." Timpal Doni yang baru aja datang, dan ikutan nimbrung.


"Gak cuman aku saja yang rajin, tapi kalian juga dong. Biar tambah nyaman buat pelanggan." Jawab Devan.


"Iya deh, siap Bos. Eh, ntar malam kan, malam minggu kan, ya. Gimana kalau nanti malam kita makan-makan, panggang panggang." Ajak Doni.


"Gimana ya, oke lah. Tapi, aku gak janji ya. Pokoknya tenang saja, kalau jam tujuh malam aku gak kasih kabar, berarti gak ya. Kalian kalau mau makan-makan, ya silakan. Tapi aku gak janji." Jawab Devan.


"Bilang aja sih kalau calon istri beserta mantan istri mau datang 'kan, ya? cie ..."


"Apaan sih, Tom. Mantan istri calon istri, gak sekalian tuh, emaknya mantan istri, bapaknya calon istri, abangnya calon istri, dan sekeluarga mantan istri." Sahut Devan sambil komat kamit bibirnya.


Mereka teman-teman kerja di bengkel pada dibuat ketawa oleh Devan soal perempuan yang menjalin hubungan dengannya.


"Sudah sudah, ayo kita kerja. Nanti gak selesai-selesai kerjaan kita." Timpal Pak Ridan yang baru saja sampai.


Baru juga mau bangkit dari posisi duduknya, semua tengah dikagetkan dengan mobil yang tidak asing oleh indra penglihatannya Devan.


Kemudian, Devan bangkit dari posisi duduknya. Tidak lama kemudian, yang keluar justru pak supir.


"Permisi, Tuan. Maaf sudah mengganggu, ini ada bekal dari Nona untuk Tuan." Ucap pak supir.


"Terima kasih banyak ya, Pak. Besok besok Bapak gak usah repot-repot nganter makanan buat saya ya, Pak. Bilang aja sama Liyan, gak usah bawakan bekal. Kasihan Bibi yang harus nambah kerjaan. Soalnya disini juga sudah ada warung, dan gak bingung juga mau makan apa." Jawab Devan sambil menerima bekal yang dibawakan oleh pak supir.


"Saya tidak bisa menolak, Tuan. Nanti yang ada saya yang mendapat marah. Lebih baik diterima aja, Tuan. Malah, Nona Liyan tambah suka."


'Hem. Semua sama saja, lagi pingin ngaduk emosiku.' Batin Devan.


"Kalau gitu saya permisi, Tuan. Mari." Ucap pak supir yang memilih untuk langsung berpamitan pulang.


"Eh iya, Pak, silakan. Makasih sebelumnya ya, Pak. Udah mau anterin bekal buat saya." Jawab Devan yang tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


Setelah pak supir pergi, dan tidak lagi terlihat bayangan mobil, Devan balik badan dan menaruh itu bekal.


"Cie... yang baru aja dapat kiriman bekal, keknya nambah cair nih." Ledek Tomi yang lebih sering meledek Devan.


"Aih! kamu ini. Sukanya ngerecokin suasana. Eh, ini bekalnya keknya lumayan banyak, kamu bisa tolongin aku gak, buat taruh didalam, nanti buat makan siang kita nanti." Jawab Devan sekaligus menyuruh Tomi untuk menaruh bekal yang dibawakan oleh supirnya mantan istri.


Karena pekerjaannya lumayan padat, Devan dengan fokus untuk menyelesaikannya. Sedangkan yang lainnya ikut membantu Devan karena mobil yang sedang diperbarui cukup menguras waktu yang lumayan lama.


Lain lagi di kediaman keluarga Aritama, Liyan tengah sendirian didalam kamar. Sudah cukup lama dirinya kehilangan putranya, separuh nyawanya. Begitu berat ketika harus berpisah dengan anak kesayangan, hampir saja membuat hidup Liyan berantakan, dan jiwanya hampir saja terganggu.


Kini, sejak hadirnya Devan di kehidupannya setelah bercerai, lumayan membawa perubahan untuknya. Awalnya keluarga sempat menyerah saat menghadapi sikap Liyan yang tidak mau bangkit dari rasa kehilangannya, Devan tetap berusaha untuk mendampinginya meski harus penuh perjuangan.


Liyang yang merasa bosan di dalam kamar, akhirnya memilih untuk menyibukkan diri dengan mencari aktivitas yang lain.


Saat baru saja menuruni anak tangga, Liyan dikagetkan oleh asisten rumahnya yang terlihat membawa sesuatu berjalan mendekatinya.


"Permisi, Nona. Ini ada kiriman dari pusat yang dikhususkan untuk Nona, silakan diterima." Ucap asisten rumah sambil menyodorkan sebuah amplop besar kepada majikannya.


"Terima kasih ya Bi. Sekarang Bibi boleh lanjutin kerjaan Bibi." Jawab Liyan saat menerima sebuah amplop besar.


Karena penasaran, Liyan segera membukanya, meski tahu dari mana amplop itu.


"Ada apa sayang? itu yang kamu pegang apa?" tanya sang ibu saat melihat Liyan yang seperti membuka amplop besar di tangannya.


"Ini, ada kiriman. Belum tahu pasti sih Ma, apa isinya. Liyan mau buka dulu isinya." Jawab Liyan tanpa menoleh ke sumber suara.


Ibunya mendekatinya.


"Akta cerai, Ma." Ucap Liyan saat membaca tulisan yang paling besar.


"Duduk lah." Pinta ibunya untuk mengajaknya duduk di dekat anak tangga.


"Sekarang aku benar-benar sudah tidak ada ikatan apapun dengan Vando, Ma. Sesingkat inikah hubunganku dengannya? pernikahan ku hancur, Savan pergi untuk selama-lamanya. Sakit dan sangat menyakitkan." Ucap Liyan dengan rasa sakit hati dan penuh kekecewaan, serta merasa kehilangan putranya.


Ibunya langsung memeluknya, yakni untuk memberinya ketenangan.


"Kamu yang sabar. Setidaknya kamu tidak bertahan dengan orang yang salah. Baik belum tentu selamanya akan baik, dan buruk belum tentu selamanya akan buruk. Semua ada pada jati diri masing-masing orangnya. Sekarang kamu sudah terlepas dari beban, dan waktunya kamu untuk menemukan kebahagiaan." Jawab ibunya berusaha untuk memberi nasehat nasehat kecil untuk putrinya.


Liyan yang mendengar nasehat kecil dari ibunya, sedikit tenang dan tidak untuk termakan dengan emosinya sendiri. Amarah yang terkumpul menjadi satu, berusaha untuk bisa di redamkan.


"Sekarang sudah waktunya makan siang. Mau makan di luar atau Bibi yang masak, mau yang mana sayang?"


"Aku mau makan di rumah saja lah Ma, makan malamnya yang di restoran. Tapi kalau Mama ngizinin. Kalau gak juga gak jadi." Kata Liyan, ibunya tersenyum.


"Ya udah, Mama ngomong dulu sama Bibi buat nyiapin makan siang. Oh iya, ini 'kan hari sabtu. Mama sampai lupa kalau Papa sama kakak kamu pulangnya cepat. Kalau gitu Mama mau nelpon Papa dulu buat memesan tempat di restoran, biar dapat tempat yang nyaman buat makan malam nanti. Jangan lupa juga, kamu hubungi Devan, suruh siapa-siapa nanti malam. Nanti biar pak supir yang jemput." Ucap ibunya yang teringat kalau hari esok adalah hari minggu.


Dengan semangat, Liyan segera ke kamar untuk mengirimkan pesan kepada Devan si mantan suami.


Saat baru saja masuk kamar, Liyan dikabarkan dengan suara dering di ponselnya. Senyum merekah terlihat jelas dikedua sudut bibirnya.


Cepat-cepat langsung menyambar ponsel dan menerima panggilan.


"Kak Devan ternyata. Belum juga ditelepon, udah nelepon duluan. Benar ya, kalau jodoh itu gak kemana. Tapi salahnya aku, kenapa harus kemana-mana." Gumamnya saat melihat nama kontak yang menelpon.


"Kak Devan, ada apa?" tanya Liyan sambil melihat mantan suaminya lewat panggilan video call.


Devan yang ada di seberang telepon, pun tersenyum saat bisa melihat wajah ayu miliknya Liyan.

__ADS_1


"Makasih ya, udah membawakan bekal untukku. Masakannya enak, tapi lebih enak lagi mandangin kamu."


Liyan yang ada dibalik layar, pun langsung mengerucutkan bibirnya, yakni tanda kesal dibuatnya.


"Bohong. Bilang aja mau mengejek, kalau aku itu gak bisa masak." Jawab Liyah dengan ketus lewat sambungan telepon dengan cara video call.


Dibalik layar, Devan tertawa kecil mendengarnya. Apa lagi dengan ekspresi Liyan yang cukup menggemaskan. Tentu saja membuatnya berdecak kesal.


"Sudah sudah, jangan ngambek gitu dong sayang. Gimana, udah makan siang?"


Liyan yang mendapat pertanyaan lewat video call, masih memasang muka cemberut. Devan sendiri justru tertawa kecil melihat ekspresinya.


"Sudah lah sayang, jangan ngambek gitu dong, nanti cantiknya ilang loh." Ucap Devan berusaha untuk merayu.


"Gak lucu." Sahut Liyan sambil menunjukkan kekesalannya lewat layar ponselnya.


Lagi-lagi Devan tertawa kecil.


"Sudah sana makan, udah siang ini. Makan dari kamu aja udah aku habisin tadi. Besok lagi sekalian ya, bawa tuh koki yang ada di rumah bawa ke sini. Dari pada kirim bekal terus, boros nanti uang jalannya. Dah bawa sini aja itu kokinya yang ada di rumah." Ucap Devan yang tidak ada henti-hentinya untuk meledek mantan istri.


Liyan yang lagi-lagi mendengar suaminya bergurau, langsung mendelik.


"Udah dong sayang, jangan ngambek gitu. Nanti malam aku telepon lagi ya, sekarang kamu makan siang dulu." Ucap Devan kembali.


"Eh tunggu tunggu tunggu. Jangan ditutup dulu, aku belum bicara." Jawab Liyan yang hampir lupa untuk menyampaikan pesan dari ibunya.


Devan masih menatap layar ponselnya.


"Ada apa, sayang?" tanya Devan yang mulai mengganti panggilannya dengan panggilan mesra.


Liyan mengatur napasnya terlebih dulu.


"Mama memintaku untuk menyampaikan pesan, kalau nanti malam jam tujuh kalau bisa udah siap. Soalnya nanti supir yang akan menjemput Kak Devan. Nanti malam kita ada acara di restoran, cuma berlima doang. Kak Devan, aku, Papa, Mama, dan Kak Zavan." Ucap Liyan tidak ada yang salah maupun kalimat yang tertinggal.


Devan yang berada di seberang panggilan video mengangguk dan mengiyakan.


"Kalau gak ada halangan aku akan penuhi ajakan dari Mama kamu. Ya udah ya, aku harus kerja lagi. Sampai ketemu nanti kalau ada waktu. Jangan lupa makan siangnya, dan dijaga kesehatan kamu." Jawab Devan lewat sambungan video call.


Setelah itu, panggilan video pun diputus oleh Liyan. Karena harus kembali kerja, Devan menyudahi obrolannya bersama mantan istri.


"Cie ... yang dapat stamina baru. Sepertinya bertambah semangat keknya nih. Cuit cuit..."


Ledek Doni sambil mengerjakan sesuatu.


"Namanya juga kasmaran, gak bisa jauh. Makanya buruan nikah, biar gak kesepian. Apalagi mau musim hujan, keknya cocok buat nikah." Timpal Jino.


"Hem. Sok tahu kalian itu. Meski aku duda, gak tahu model gituan. Sudah lah ayo kita kerja. Oh iya, aku sampai lupa jadinya. Nanti malam sepertinya aku gak bisa ikut makan makan bareng kalian. Tadi mantan istri aku memintaku untuk ikut makan malam bersama keluarganya. Jadi, maaf banget nih gak bisa ikut. Lain kali aja ya." Jawab Devan, sekalian menolak ajakan dari teman-temannya soal makan-makan.


"Iya, gak apa-apa. Namanya juga mempunyai kerabat atau teman, pasti ada aja sesuatu yang gak diduga itu muncul. Yang penting kamu senang, kita juga senang. Ya udah ya, yuk kita lanjutkan lagi kerjaan kita, biar cepat selesai. Juga pulangnya gak sampai malam." Ucap Tomi menimpali.


Setelah merasa cukup jam istirahat, semua kembali melanjutkan pekerjaannya masing-masing.


Di luaran sana, ada Vando yang juga sama halnya tengah menerima akta cerai yang sekarang berada di tangannya. Vando masih menyimpan perasaan sakit hati dan amarah atas kepergian ibunya untuk selama-lamanya. Juga, dirinya ikut kehilangan putranya yang sudah sekian lama tidak bertemu, sekalinya bertemu belum juga ada setahun, harus berpisah untuk selama-lamanya.


"Permisi, Tuan. Maaf mengganggu. Sudah waktunya makan siang, apakah makan siangnya mau diantar ke ruangan, Tuan?"


"Antar saja ke ruangan, saya lagi males keluar." Jawab Vando yang masih dikuasai oleh emosinya.

__ADS_1


"Aku yakin dengan sangat yakin, kalau Devan bakal ngerasain apa yang pernah aku rasain waktu dulu. Hidup miskin dan jauh dari kata tajir." Gumamnya yang masih mempunyai dendam kepada saudara sepupunya sendiri.


Rasa sakitnya seolah belum terbayar lunas olehnya.


__ADS_2