
Vando yang baru saja sampai di rumah kediaman keluarga Aritama, segera menemui Liyan dan Savan untuk diajaknya main ke rumahnya, yakni untuk diperkenalkannya dengan ibunya.
"Silakan masuk, Tuan." Ucap asisten rumah yang tengah mempersilakan Vando untuk masuk kedalam rumah.
"Terima kasih, Bi." Jawab Vando dengan ramah.
Saat baru saja masuk, dikejutkan dengan Savan yang berlarian menuju Vando yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Ayah...!" teriak Savan sambil berlarian, Vando langsung jongkok dengan merentangkan kedua tangannya yang sudah siap untuk memeluk putranya.
"Jagoannya ayah, udah ganteng rupanya. Bunda mana?"
Vando pun langsung mendongak saat melihat Savan menunjuk ibundanya dengan jari telunjuknya, Vando tersenyum kepada Liyan.
Kemudian, Vando bangkit dari posisinya.
"Apakah sudah siap untuk berangkat?" tanya Vando.
"Sudah dong, Ayah. Bunda sama Savan udah nunggu dari tadi. Capek, tau. Kasihan Bunda, udah dandan cantik nunggu Ayah datang." Jawab Savan sambil berkacak pinggang.
Vando maupun Liyan, pun tersenyum ketika melihat tingkah Savan yang begitu menggemaskan.
"Nyonya, selamat pagi. Maaf, kedatangan saya kemari berniat untuk mengajak Liyan dan Savan main ke rumah. Saya mau memperkenalkan mereka dengan Mama di rumah." Ucap Vando saat mendapati calon ibu mertuanya yang sudah berdiri di dekatnya Liyan.
Ibunya Liyan pun tersenyum ramah kepada Vando.
"Pagi juga. Hati-hati di perjalanan. Jangan ngebut ngebut mengendarai mobilnya. Satu lagi sampaikan salamnya dari Mamanya Liyan untuk Mama kamu di rumah. Kapan-kapan kalau ada waktu luang, kami akan datang ke rumah." Jawab ibunya Liyan.
"Terima kasih banyak, Nyonya. Nanti akan saya sampaikan pesan dari Nyonya. Kalau begitu, kami mohon pamit, permisi." Ucap Vando, sekaligus untuk pamit.
__ADS_1
Setelah berpamitan, Vando bersama Neyla dan Savan, mereka bertiga pergi meninggalkan rumah kediaman keluarga Aritama.
Selama dalam perjalanan, Vando dan Savan begitu akrab. Namun, kedekatan mereka masih jauh ketimbang dengan Aditya. Bagaimana tidak, Aditya yang menemani Savan sejak baru lahir, dan kedekatan mereka sudah seperti ayah kandungnya sendiri.
Meski Savan sering mempertanyakan keberadaan orang tua biologisnya, tetap lebih dekat dengan Aditya.
Tidak lama kemudian, akhirnya sampai juga di halaman rumah keluarga Gavindra. Savan kembali kagum ketika baru saja turun dari mobil. Rumah yang didatanginya tidak jauh bagusnya dengan rumah yang ia tempati bersama ibundanya.
"Wah...! rumahnya Ayah besar sekali, sama punya Kakek."
Savan begitu kagum melihat rumah yang ditempati ayahnya.
"Ini rumahnya Neneknya Savan. Yuk, Ayah kenalin Savan sama Nenek." Jawab Vando dan mengajak Savan untuk masuk kedalam rumah.
Liyan sendiri masih bengong, ingatannya kembali dimasa lalunya. Kenangan apa lagi yang diingat, kalau bukan peristiwa yang begitu memalukan, dan juga sangat menyakitkan baginya.
Vando yang mendapati Liyan yang masih melamun, juga terlihat tengah memikirkan sesuatu, langsung menepuk punggungnya pelan.
"Em- itu, anu." Jawab Liyan berubah gugup.
"Maksudnya apa, Liy?" tanya Vando penasaran, meski dapat terlintas jika Liyan seperti mengingat kejadian yang sudah dilewatinya.
"Mama sakit?" tanya Savan sambil melihat ibundanya.
"Mama gak sakit, sayang. Yuk ah, kita masuk. Kita temui Omanya Savan." Jawab Liyan dan langsung menggandeng tangan Vando, juga tangannya Savan.
"Ayok." Ajak Vando dan masuk kedalam rumah bersama Liyan dan putranya.
Baru saja mau masuk ke rumah, rupanya Devan baru saja keluar dari kamarnya dengan penampilannya yang hendak pergi ke kantor.
__ADS_1
"Kalian, udah datang rupanya. Eh, ada jagoannya Ayah Vando nih. Wah, udah ganteng aja nih si Savan. Gimana kabarnya, baik? mau ketemu sama Oma ya, Omanya lagi di taman belakang." Ucap Devan memberi sapaan kepada Savan.
Arah pandangannya kemudian tertuju pada Liyan, terlihat cantik dan masih seperti dulu.
"Aku tinggal dulu ya, aku mau berangkat ke kantor. Sampai jumpa, sampai ketemu lagi nanti. Bye." Sambungnya lagi, dan pamit pergi untuk berangkat ke kantor.
Liyan terdiam, bingung ketika dirinya mau menjawab apa, pikirnya. Vando yang tidak ingin ada salah paham, dan cemburu, memilih untuk menepis pikiran buruknya. Kemudian, dirinya segera mengajak Liyan dan Savan untuk bertemu ibunya.
Saat sudah di taman belakang, Vando memberi kode untuk pelan-pelan jalannya, yakni biar gak ketahuan oleh ibunya Vando.
"Ma, aku sudah menempati janjiku, yaitu mengajak Liyan dan Savan main ke rumah." Ucap Vando.
Ibunya yang mendengarkannya, pun langsung balik badan. Alangkah terkejutnya saat melihat sosok Liyan yang tengah berdiri di dekatnya Savan cucunya. Pertemuan yang sangat mengharukan. Sekian lama tidak pernah bertemu karena insiden dalam rumah tangga yang hancur karena perbuatan putranya, kini telah melahirkan anak dari putranya.
Ibunya Vando maju ke depan dan langsung memeluk Liyan, dan menangis sesenggukan.
"Maafkan Ibu, Nak Liyan. Maafkan Ibu yang tidak bertanggung jawab atas kesalahan Vando yang sudah berbuat hina padamu." Ucap ibunya Vando sambil memeluk Liyan.
Karena terasa pengap ketika mendapat pelukan erat, Liyan perlahan merenggangkan pelukannya. Lalu, ibunya Vando melepaskannya.
"Ibu tidak bersalah. Semua memang sudah menjadi kesalahan kami berdua, juga resiko yang harus kami terima. Ibu tidak perlu menyalahkan diri sendiri, ini murni kesalahan kami yang tidak memikirkan akibatnya. Semua sudah berlalu, dan sekarang sudah waktunya untuk fokus dengan masa depan, Bu. Jadi, kami akan mengulangi hidup yang baru, serta memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi." Jawab Liyan yang berusaha untuk tetap bersikap tenang.
"Yang dikatakan Liyan itu benar, Ma. Semua sudah berlalu, juga kami akan memperbaikinya lebih baik lagi. Jadikan masalah yang pernah kami terima, akan dijadikan pembelajaran untuk kedepannya." Ucap Vando menimpali.
Tanpa disadari oleh keduanya, rupanya Devan mendengar pembicaraan mereka.
'Mungkin benar, Liyan bukan jodohku, tetapi jodohnya Vando. Aku berharap, semoga Vando bertanggung jawab, dan tidak mempermainkan perasaannya Liyan. Juga, mereka bahagia dengan pernikahannya nanti. Terima kasih, Liyan. Kamu sudah pernah hadir di dalam hidupku, meski kita harus dipisahkan dengan pernikahan yang gagal. Aku akan memperbaiki diriku ini, mungkin aku ada salah sama kamu, hingga kita tidak berjodoh.' Batin Devan sambil memperhatikan Liyan yang tengah serius mengobrol dengan calon ibu mertuanya.
Rasa cemburu yang ingin diakhiri, Devan belajar untuk melupakannya, dan menguburnya dalam-dalam, meski sakit rasanya. Namun, dirinya bisa apa? Zavan tidak mungkin untuk memaksakan dirinya demi egonya. Sebisa mungkin untuk menepis pikirannya, dan juga belajar untuk melupakan perempuan yang pernah mengisi ruang hatinya yang cukup lama menjalin hubungan asmara.
__ADS_1
Devan yang tidak ingin terlambat pergi ke kantor, ia segera berangkat. Sedangkan Liyan bersama Vando dan Savan, juga ibunya Vando, mereka segera masuk ke rumah.