Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Bekerja sama


__ADS_3

Devan yang baru saja masuk ke rumah, ia merebahkan tubuhnya di kasur lantai yang sangat jauh perbandingannya dengan kamar yang pernah ditempatinya.


"Aku harus mencari pekerjaan, tapi apa? setidaknya tidak berurusan dengan kantor. Ah iya, di sana ada bengkel mobil. Coba aja apa ya, aku daftar kerjaan. Apa salahnya untuk mencoba, setidaknya aku gak setres mikirin kerjaan kantor. Boleh juga aku coba. Baiklah, aku harus ke sana." Gumamnya saat teringat soal mencari pekerjaan.


Karena tidak ingin membuang-buang waktunya, Devan bergegas untuk pergi mencari pekerjaan demi menyambung hidupnya.


Sampainya di bengkel mobil, Devan celingukan untuk bertanya dengan orang yang lagi santai kerjaannya.


"Permisi, Pak, boleh numpang tanya?"


Dengan sopan, Devan setengah membungkukkan badannya dengan orang yang lebih tua darinya.


"Ya, Ada apa ya, Mas? ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang laki-laki paruh baya.


"Ini, Pak. Maaf sebelumnya, saya mau daftar kerjaan, ada lowongan gak ya, Pak?"


"Lowongan sih gak ada, Mas. Soalnya belum banyak pelanggan. Jadi, kita cuma cukup empat orang saja untuk kerja."


"Saya mohon lah, Pak, dengan sangat. Nanti kalau dua minggu ini masih sepi, boleh kok, pecat saya. Apapun akan saya kerjakan, asal bisa dapat uang seberapa pun kami terima." Ucap Devan penuh memohon.


"Gimana ya, soalnya bukan saya pemiliknya. Masnya bisa tunggu sebentar ya, nanti akan saya panggilkan pemilik bengkel ini. Silakan duduk, kami akan panggil pemilik bengkelnya dulu." Jawabnya dan meminta Devan untuk menunggu.


Bapak yang tadi segera menemui pemilik bengkel.


"Permisi, Pak. Itu ada orang yang sedang nyari kerjaan. Katanya kalau dua minggu bengkel masih sepi, orangnya siap di pecat. Menurut Pak Bos gimana?"


"Suruh temui aku ya, Pak Ridan. Nanti biar aku pertimbangkan lagi." Jawabnya, dan memintanya untuk mengajaknya bertemu dengan pemilik bengkel.


Karena meminta untuk mempertemukan Devan sama pemilik bengkel, Pak Ridan memanggil Devan.


"Sini, Mas, dipanggil Pak Bos." Panggil Pak Ridan sambil melambaikan tangannya.


Devan yang merasa di panggil, pun segera mendekati.


"Gimana, Pak? apakah saya diizinkan untuk bekerja?" tanya Devan penasaran.


"Saya kurang tahu, Mas. Berdoa saja, semoga diterima." Jawab Pak Ridan.


Meski tidak begitu yakin, Devan berusaha untuk optimis, jika dirinya bakal diterima. Jika tidak, juga tidak membuatnya nyerah.


"Permisi, Tuan. Maaf, sudah mengganggu." Sapa Devan saat sudah dipersilahkan masukan oleh pak Ridan.


"Jangan panggil saya Tuan. Saya hanya orang biasa, silakan duduk. Panggil saja Bapak, jangan ada kata Tuannya. Terlalu tinggi angan-angan saya. Oh iya, saya dengar kalau Masnya mau daftar kerja, benarkah?" tanyanya.


"Iya, Pak. Saya mau daftar kerja, apapun pekerjaannya, saya bersedia. Mau gaji kecil, pun gak masalah." Jawab Devan setengah menunduk.


"Saya gak punya kuasa buat nolak yang mau kerja di sini. Soalnya ini bengkel juga pemberian dari teman akrab anak saya. Jadi, itung-itung kalau ada yang mau kerja ya syukur, gak juga gak masalah. Memang gajinya kecil, karena pelanggan juga sepi. Jadi, kami hanya menerima pekerja ya sesuai kemampuan pendapatan dari bengkel ini. Istilahnya kita nikmati bersama, itu pesan dari putra kami, yang sedang dibalik jeruji besi, karena orang yang tidak bertanggung jawab menjebak anak saya."


DEG!


Devan yang mendengar cerita tersebut, pun terasa ikut sedihnya seperti pemilik bengkel.


"Saya ikut sedih mendengarnya, semoga anak Bapak segera dibebaskan." Ucap Devan.


"Gak akan, karena tuduhannya yang berat. Anak saya dituduh membunuh temannya, padahal anak saya mau menolong. Tapi ya sudahlah, karena kami bukan orang berpunya, kami tidak bisa membebaskan, karena butuh uang banyak untuk menyewa pengacara." Jawab pemilik bengkel.


"Bapak yang sabar, ya. Semoga ada jalan yang terbaik untuk kebebasan anaknya Bapak. Saya ucapkan terima kasih banyak karena sudah bersedia menerima saya untuk bekerja di bengkel Bapak. Saya janji, jika bengkel Bapak rame, uangnya bisa buat nyewa pengacara. Bapak tenang saja, nanti akan saya carikan pengacara yang hebat. Sekarang saya boleh langsung kerja 'kan, Pak?"


"Boleh. Kalau kamu bersedia, tidak apa-apa." Jawabnya.


Dengan semangat, Devan langsung bekerja. Bahkan, dirinya sama sekali tidak malu ketika untuk gencar mempromosikan jasa di bengkel tempat kerjanya.

__ADS_1


Sambil mengerjakan pekerjaannya, Devan begitu semangat dan sangat teliti dalam bekerja.


"Kenalin, aku Devan. Panggil aja Devan." Ucap Devan memperkenalkan diri kepada pekerja yang lainnya.


"Aku Doni."


"Aku Tomi."


"Aku Jino."


"Saya paling tua, Pak Ridan."


"Oke! kita harus kerja keras, biar bisa dapat pelanggan yang banyak. Ayo, kita kerja dengan semangat." Ucap Devan penuh semangat yang membara.


Tidak harus menunggu esok, Devan sudah mendapatkan pekerjaan, dan teman baru. Semua bersahabat dan tidak ada yang beradu kepintaran. Saling tolong menolong dan mengerjakan pekerjaan saling bantu membantu dalam kesulitannya masing-masing.


Benar-benar tidak disangka, ternyata sudah ada dua pelanggan baru datang dan meminta untuk di servis dan juga ada yang mendapat kendala lain.


Devan yang pernah belajar soal perbengkelan, lumayan mahir untuk mengerjakannya. Tidak hanya memberi jasa di tempat kerjaan, Devan juga mempromosikan lewat media sosial saat itu juga untuk yang di luar jangkauan untuk memberi pelayanan.


"Wah, baru aja kamu kerja, udah dapat pelanggan. Sepertinya kamu ini bawa hoki." Ucap Doni.


"Gak juga lah, mungkin aja kebetulan. Jangan melebihkan sesuatu yang belum pasti. Mending kamu layani ini mobil, aku ada job panggilan." Jawab Devan yang modal iseng promosi lewat akun medianya untuk mempromosikan jasa di bengkel tempat kerjanya.


Karena harus memberi pelayanan yang baik, Devan segera mendatangi lokasi. Saat melihat lokasi yang seperti di tunjukkan oleh pelanggan baru, Devan langsung menghubungi nomor yang ia dapatkan dari pelanggan baru.


Setelah merasa tidak ada yang salah dengan mobil yang disebutkan ciri-cirinya, Devan melajukan motornya.


Saat sudah di pinggiran jalan, Devan menepikan motornya dan menghampiri mobil yang mogok.


"Zavan."


"Jadi mobilmu yang mogok. Manja banget kamu ini. Apa susahnya benerin sendiri." Ya siapa suruh ada promosi. Eh, kamu yang promosi di akun media kah?"


"Iya. Bener. Eh, memangnya kamu pakai nomor teleponnya siapa?"


"Punya supir. Gercep banget kamu udah kerja. Wah, selamat ya. Tapi, kenapa meski kerja yang seperti ini sih. Dah deh, mendingan kamu kerja di kantor ku. Lihat nih, penampilan kamu jadi gak karuan. Tampan wajahmu mulai pudar tuh."


"Biarin, ntar kalau mandi juga tampan lagi. Dah lah, aku malah merasa penampilan aku yang sekarang ini justru lebih nyaman, aman juga dari gengsi. Sudah sana minggir, aku mau cek mobil kamu dulu." Kata Devan.


"Terserah kamunya. Yang terpenting aku sudah ingetin kamu, pintu rumah terbuka lebar buat kamu. Juga, pintu kantor terbuka lebar buat kamu. Aku maunya sih kamu mau, jadi lebih gampang buat menguak kasus Vando yang seenaknya dia merebut hak milikmu. Apa gak sayang, milikmu di kuasai oleh Vando."


"Ngapain harus diributin. Aku lagi males bahas soal itu. Aku belum mantap untuk mengorek semuanya. Aku butuh ketenangan dalam berpikir, sama seperti Liyan yang kehilangan anaknya. Aku pun sama, aku kehilangan sosok orang tua yang ada pada diri Tante Sevira. Jadi, biarkan aku melakukan apa yang ingin aku lakukan. Kamu gak perlu khawatir, aku masih bisa mencukupi kebutuhan Liyan setelah menikah. Jangan kira aku ini bodoh, gak bisa mencukupi istriku nanti. Ya walaupun hanya makan seadanya, semua seadanya, namanya juga hidup dari nol."


"Kamu itu kalau diajak ngomong, malah jadinya panjang kali lebar." Ucap Zavan.


"Karena kamu itu selalu membutuhkan nasehat dariku. Makanya, aku kalau ngomong sama kamu tuh, udah macam bapak sama anak, kamu yang bandel." Jawab Devan sambil mengecek mesin mobilnya Zavan.


"Sia_lan, kamu."


"Dah itu mobilnya dinyalakan dulu tuh mesinnya, tanganku kotor." Perintah Devan kepada Zavan untuk mencoba mobilnya.


Dengan hati-hati, Zavan menyalakan mesin mobilnya.


"Wah! hebat juga kamu. Super sempurna deh kamu. Pokoknya gak kecewa amat aku punya adik ipar kek kamu. Sip." Ucap Zavan dan kembali keluar dari mobil.


"Berapa ongkosnya?"


"Karena aku kerja sama orang lain, aturan pembayaran, ya sesuai yang sedang dipromosikan. Kalau yang punya bengkel itu adalah, aku palak kau. Gak cuma dikit, isi dompet mu aku habisin. Sayangnya, aku kerja sama orang lain, jadi aku yang rugi. Mana bayarannya. Awas loh, kalau duitnya lecek."


"Iya, iya." Jawab Zavan.

__ADS_1


Devan yang bergaya sok jadi tukang palak, membuat Zavan maupun Devan tertawa kecil. Dengan sengaja, Zavan mengambil momen, yaitu Devan di foto oleh Zavan.


"Bagus ini, Liyan bisa terhibur."


"Eh kuny_uk, sialan kamu. Awas loh Ya, kalau sampai diberikan ke Liyan."


"Bod_oh amat, wek." Kata Zavan yang langsung masuk ke dalam mobil.


Devan yang sudah mendapat bayaran dari Zavan, segera kembali ke bengkel dengan beberapa alat bengkel lainnya.


Dengan perasaan senang, Devan mengendarai motor. Karena harus melewati lampu merah, tentu saja butuh antrian untuk melajukan kendaraannya.


Sampainya di bengkel, Devan menyerahkan uang kepada Tomi yang menjadi bendahara di bengkel.


"Wah, hasilnya lumayan ya. Kamu benar-benar pintar. Aku salut sama kamu, Dev. Makasih ya, udah meramaikan bengkelnya Pak Bos." Ucap Tomi.


"Dah lah, jangan bicara gitu terus. Ini namanya hoki bersama. Yuk, kita semangat lagi kerjanya." Jawab Zavan mengajak teman-temannya untuk bersemangat.


"Oke. Ayo kita semangat." Ucap Doni ikut menimpali.


"Eh, tapi ngomong ngomong, ini udah jam makan siang loh. Kita makan siang dulu kalau gitu. Ayo." Ajak Jino saat melihat jam dinding yang sudah menunjukkan waktunya untuk makan siang.


Karena sudah waktunya untuk makan siang, semua beristirahat untuk makan siang.


Sambil menikmati makanannya, Devan teringat dengan mendiang ibunya Vando. Kenangan masa kecilnya masih terngiang dalam ingatannya. Kasih sayang yang diberikan untuk Devan, cukup besar pengorbanannya.


Bagi Devan, miliknya yang telah diambil oleh Vando, tidak seberapa dengan kasih sayang yang dia dapatkan dari tantenya. Tanpa sadar, Devan menitikkan air matanya sambil mengunyah makanan. Tidak ingin dilihat dan diketahui oleh yang lainnya, cepat-cepat untuk menghapus air matanya.


Tetap saja, diantara mereka tengah melihat kesedihan yang dirasakan oleh Devan.


"Kamu menangis? ada masalah apa? apa kamu diusir oleh istrimu? atau kamu berantem sama ibumu? atau kamu bertengkar dengan saudaramu?" tanya Tomi penasaran.


Devan mengatur napasnya sebelum menjawab pertanyaan dari Tomi.


"Ya Dev. Kamu kenapa menangis? ada masalah apa, kawan? ayo lah, cerita ke kita kita. Jangan dipendam sendirian."


"Ya, Bro. Jangan kamu pendam sendirian, cerita aja sama kita-kita. Siapa tahu saja, kita bisa bantu. Laki-laki kalau udah nangis, pasti dalem masalahmu. Ayolah, ceritakan saja, agar kamu lega." Timpal Doni ikut bicara.


"Iya, Dev. Cerita aja." Ucap Jino ikut menimpali.


Pak Ridan cukup menepuk punggungnya pelan, itu sudah cukup.


"Aku kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupku, yaitu Tanteku. Selama hidupnya telah memberi kasih sayang untukku. Yang menjadi sesal buatku adalah, aku belum membalas jasanya. Aku belum memberi kebahagiaan untuknya." Jawab Devan menjelaskan.


"Percayalah, membalas jasa tidak harus berupa dengan materi. Cukup selama kamu bersama tante mu, kamu tidak pernah membentak, atau meninggikan suaramu, itu sudah lebih baik. Doa, terakhir adalah doa yang tidak akan pernah putus." Ucap pak Ridan yang posisinya tengah duduk di sebelahnya Devan.


"Yang diucapkan sama Pak Ridan itu ada benarnya. Jangan larut dengan kesedihan. Kamu masih punya waktu banyak untuk melakukan hal-hal baik pada diri kamu sendiri. Lakukan untuk tante kamu yang sudah tiada. Jangan melakukan kesalahan yang fatal, tetap jaga diri dari orang-orang yang mungkin bisa menjerumuskan mu dari perbuatan yang tidak baik." Kata Jino yang ikut memberi nasehat kecil kepada Devan.


"Terima kasih banyak ya. Meski baru kenal dengan kalian, juga sama Pak Ridan, aku ngerasa seperti mempunyai keluarga. Semoga kita akan tetap seperti ini." Ucap Devan.


"Semoga. Yang terpenting kita selalu akur. Jika ada sesuatu yang mengganjal, mending sampaikan langsung. Takutnya nanti terjadi kesalahpahaman, yang bisa membuat hubungan menjadi hancur. Masalah juga menjadi besar. Jadi, alangkah baiknya jika ada apa-apa, kita saling terbuka. Jika ada yang mempunyai masalah, katakan saja. Siapa tahu dapat solusi, iya 'kan? daripada di pendam, yang ada seolah kita tidak ada yang peduli." Kata Pak Ridan.


"Cerita sama seseorang pun, kita harus lihat situasi dan kondisi. Jangan asal bercerita, takutnya ada yang gak suka, bisa repot urusannya." Timpal Tomi kembali.


"Ya udah ya udah, kita beresin dulu ini meja. Setelah ini kita lanjut lagi kerjanya. Yang kecapean, boleh istirahat bentar. Mumpung lagi sepi, belum banyak pelanggan." Ucap Pak Ridan.


"Enggak ah, Pak. Saya mau beresin itu mobil, biar sekalian selesai." Jawab Doni yang merasa belum beres kerjaannya.


"Kita bantuin Doni dulu, biar cepat selesai. Nanti yang rumit, terakhiran aja." Ucap Devan yang segera membantu Doni agar cepat selesai.


Karena kekompakan mereka, kerjaan berat pun terasa ringan. Juga, cepat selesai. Tidak lama kemudian, datang lagi pelanggan baru yang ingi memperbaiki mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2