
Liyan memilih diam, dan takut salah jika ikut nimbrung soal yang tengah dibicarakan oleh kakaknya dan Aditya.
Angin bertambah kencang, membuat badan terasa kedinginan. Zavan yang tidak ingin terjebak hujan, akhirnya memilih mengajaknya untuk pulang.
"Cuaca keknya gak bersahabat, kita pulang aja, gimana? lihat tuh, bulannya aja tertutup awan, anginnya juga kencang."
"Iya, Kak." Jawab Liyan sambil menahan kedinginan karena tidak mengenakan jaket.
Aditya yang melihatnya, pun merasa kasihan. Kemudian, Aditya melepaskan jaketnya, dan menyodorkannya kepada Liyan.
"Ini jaketnya, biar kamu gak kedinginan. Cuaca lagi gak baik, ini pakai." Ucap Aditya sambil menyodorkan jaketnya.
"Gak usah, rumah aku dekat kok. Mendingan kamu pakai lagi aja. Ya udah ya, aku pamit." Jawab Liyan menolak, meski sebenarnya kedinginan.
Zavan yang melihat adiknya seperti menahan dingin, langsung menyambar jaket yang ada ditangannya Aditya.
"Terima kasih. Aku sama Liyan pulang duluan. Sampai ketemu lagi, bye." Ucap Zavan dan langsung menarik tangan Liyan untuk mengajaknya pulang.
Kemudian, Zavan memberikannya jaket kepada adiknya.
"Ini jaketnya, buruan pakai. Kamu alergi dingin, nanti badan kamu bentol bentol. Jangan gengsi, kalau kamu sakit, kamu juga yang rugi. Kita ini naik motor. Jadi, buang gengsi mu." Ucap Zavan.
Dengan wajah yang cemberut, Neyla menerimanya, dan mengenakan jaket miliknya Aditya.
Aditya hanya memperhatikannya, dan tersenyum ketika Neyla mengenakan jaketnya.
"Entah ini kebetulan, atau memang- ah! sudah lah. Sebentar lagi Liyan dan Vando akan segera menikah, lengkap sudah kebahagiaan mereka." Gumamnya sambil memperhatikan Liyan yang semakin menjauh bayangannya.
Sudah hampir larut malam, dan juga cuaca gak mendukung untuknya jalan-jalan, Aditya juga memilih untuk pulang.
Sampainya di rumah, Liyan buru-buru menapaki anak tangga, lalu bergegas masuk ke kamarnya.
__ADS_1
"Kenapa dengan adikmu, Zavan?" tanya ibunya saat mendapati Liyan yang terlihat terburu-buru.
"Em- itu, Ma. Em- anu apa itu."
"Kamu ngomong apa, Zavan? Liyan kenapa?"
"Gak kenapa-napa, Ma. Liyan ngantuk berat katanya. Jadi itu, dianya buru-buru ke kamar dan ingin langsung tidur. Mama kek gak tahu aja kebiasaan Liyan yang suka ngantuk berat. Ya udah ya, Ma. Aku juga mau istirahat, capek, ngantuk. Aku duluan ya, Ma." Jawab Zavan yang tidak ingin mendapati banyak pertanyaan dari ibunya.
"Ya udah sana, kalau kamu ingin istirahat. Ingat, jangan bergadang di balkon. Besok kamu itu kerja, jaga kesehatan kamu." Ucap ibunya, Zavan mengangguk.
Setelah itu, Zavan segera bergegas masuk ke dalam kamar.
Liyan yang sudah berada didalam kamarnya, jaket pun ia lepaskan, dan duduk di tepi ranjang tempat tidurnya. Ingatannya kembali terlintas kenangan bersama Aditya. Liyan teringat saat dirinya terjebak hujan saat pulang dari tempat kerjanya.
"Ingat Liyan, ingat. Jangan memikirkan orang lain. Yang harus kamu pikirkan itu, ya Vando. Vando yang akan menjadi suami kamu, bukan Aditya." Gumam Liyan didepan cermin.
"Aaaaaa!" teriak Liyan sekencang mungkin, yakni untuk meluapkan emosinya.
Di lain sisi, Aditya sendiri tidak bisa tidur, pikirannya masih sama, yakni memikirkan Liyan, dan terbayang-bayang kenangan bersamanya. Bahkan, tanpa ia sadari jika dirinya tidur dengan pulas, dan pagi menyambutnya dengan udara segar.
"Astaga! hari ini aku mulai kerja ke kantor. Jam berapa ini? bisa-bisanya aku telat."
Aditya yang terbangun dari tidurnya, ia langsung ke kamar mandi dan membersihkan diri. Selesai mandi, Aditya bersiap-siap untuk berangkat kerja. Sedangkan ayahnya sudah menyerahkan semua tugasnya kepada Aditya.
Saat sudah di ruang makan, Aditya duduk dan menikmati sarapan pagi bersama ayahnya. Suasana masih sama, tidak ada formasi di ruang makan, hanya ada dirinya, dan sang ayah.
"Hari ini kamu akan memulai kerja di kantor, siapkan dirimu sebaik mungkin. Nanti orang kepercayaan Papa yang akan mengajari caranya bekerja. Gunakan waktu mu sebaik mungkin, jangan kamu abaikan walaupun hanya semenit saja. Ya udah, habisin dulu sarapannya." Ucap sang ayah membuka obrolan ditengah-tengah menikmati sarapan pagi.
"Iya, Pa. Aku akan fokus bekerja, sebagaimana tanggung jawabku sebagai penerus Papa." Jawab Aditya sambil mengunyah makanan.
Sang ayah hanya tersenyum dan mengangguk. Didalam hatinya menyimpan perasaan sedih dan kasihan ketika melihat putranya seperti tidak bersemangat, lantaran keinginannya untuk mendapatkan Liyan telah gagal, semangatnya pun hilang bak ditelan bumi.
__ADS_1
'Kasihan kamu, Aditya. Usiamu sudah tidak lagi muda, tapi kamu belum juga menikah. Apa iya, Papa harus mencarikan calon istri untukmu? tapi, mana mungkin kamu mau.' Batin sang ayah sambil memperhatikan putranya yang terlihat tidak bersemangat.
Mau bagaimana lagi, pernikahan bukan untuk uji coba, ataupun untuk mainan. Juga, pernikahan tidak bisa dipaksakan.
Tidak ada lagi yang ketinggalan, Aditya segera berangkat ke kantor.
Sedangkan di tempat lain, yakni di kediaman keluarga Aritama, Liyan yang sudah bangun dari tidurnya, dan kini sudah berada di kamar putranya, Savan terbangun dari tidurnya.
"Selamat pagi jagoannya Bunda. Gimana tidurnya, nyenyak?" sapa Liyan pada Savan anaknya.
Savan mengangguk.
"Ayah dimana, Bunda?" tanya Savan yang tidak mendapati ayahnya saat bangun tidur.
"Ayah tidak ada di rumah ini, sayang. Tapi, Ayah ada rumahnya sendiri. Nanti Ayah mau jemput Savan sama Bunda, kita diajak ke rumahnya Ayah, gimana, Sava mau 'kan? nanti di sana ada Oma. Juga, ada Paman Devan, yang kemarin itu loh, yang datang ke kampung bareng ayah. Satunya Paman Zavan, ingat 'kan?"
"Savan lupa, Bunda. Aduh, perut Savan sakit, Bunda. Aw! sakit, Aw."
"Mana yang sakit, sayang? perut kamu sakit? kita berobat ya."
"Savan tuh lapar, Bunda. Savan pingin makan, lapar, jadi sakit deh perutnya Savan."
Liyan langsung menepuk keningnya.
"Savan. Seharusnya kamu tuh ngomong langsung sama Bunda, kalau kamu tuh lapar. Bun, Savan lapar, perut Savan sakit. Gitu 'kan, enak dengernya. Kamu ini, sukanya ngerjain Bunda. Ya udah, sekarang Savan ke kamar mandi cuci muka, gosok gigi, dan buang air kecil. Kalau mau mandi, Savan bisa sekalian mandi. Kalau masih dingin, mandinya nanti aja."
"Iya, Bunda. Savan mau mandi langsung, mau pakai air hangat." Kata Savan, Liyan tersenyum.
"Baiklah, kalau Savan mau mandi. Bunda mau nyiapin dulu handuk dan baju ganti, Savan boleh ke kamar mandi dulu, oke." Ucap Liyan, Savan mengiyakan.
Kemudian, Liyan segera menyiapkan perlengkapan kebutuhan anak, dan ke kamar mandi untuk membantu Savan mandi. Meski sudah bisa mandi sendiri, tetap aja ibunya membantu anaknya untuk mengingatkan ketika lupa untuk menggunakan shampo atau sabun mandi.
__ADS_1