Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Menerima ajakan


__ADS_3

Yena yang tengah duduk di hadapannya Devan, pun terasa canggung. Lebih lagi tidak pernah ngobrol berdua, tentu saja membuat Yena merasa malu.


"Loh, punya kamu mana? kok, cuman minuman doang."


"Tadi aku udah makan. Waktu baru keluar dari restoran, aku dengar keributan di jalanan. Gak tahunya kamu kena jambret. Udah makan aja, gak usah malu." Jawab Devan sambil mengaduk minumannya.


"Makasih ya, traktirannya." Ucap Yena malu-malu.


"Hem. Kek apa aja berterimakasih. Udah buruan makan, nanti keburu dingin." Jawab Devan.


"Ya. Aku makan dulu. Maaf ya, aku makan sendirian." Ucap Yena, Devan tersenyum dan minum.


Sambil menikmati makanannya, Yena susah payah untuk agar tidak grogi saat bersama Devan.


'Gilak gak sih si Liyan, meninggalkan lelaki setampan Devan. Enggak, enggak, enggak. Sadar, Yena, kamu harus sadar.' Batinnya dengan reflek sambil menggelengkan kepalanya tanpa ia sadari yang tengah mencoba menyingkirkan sesuatu yang bersemayam dalam pikirannya.


"Kamu kenapa, Yen? telinga kamu sakit?" tanya Devan karena penasaran.


Liyan yang baru saja dikagetkan oleh Devan, ia tersadar dari lamunannya. Gugup, itu sudah pasti. Dengan reflek, Liyan nyengir kuda.


"Em- enggak kenapa-napa, juga gak sakit. Anu itu, aku cuma keinget kebersamaan sama Liyan dan Aditya saat di kampung. Juga, sama Savan. Tapi ngomong-ngomong, bagaimana kabarnya Savan? dia baik-baik aja, 'kan? aku kangen sama anak itu." Jawab Yena dengan banyak alasan, tentunya agar terhindar dari pertanyaan pertanyaan dari Devan.


"Oh. Kirain aku kamu sakit, ya udah dilanjut lagi makannya. Satu hal, jangan banyak melamun saat sedang makan." Ucap Devan mengingatkan.


"Iya, makasih udah ngingetin." Jawab Yena dan segera menghabiskan makanannya.


Setelah makan, Devan mengajaknya pulang. Namun sebelumnya, Devan membayar tagihannya terlebih dahulu. Saat sudah keluar dari Restoran, Devan celingukan, dan mengingat soal dimana mobilnya parkir.


'Devan, Devan, kau ini selalu aja lupa. Kamu harus ingat, lupakan Liyan. Ingat, dia perempuan sudah berkeluarga dan lupakan.' Batin Devan yang masih terus-terusan terbayang oleh kenangan bersama mantan istrinya.

__ADS_1


"Karena aku harus belanja dulu, ke rumah Aditya nanti aja ya, sepulang dari supermarket. Soalnya aku harus belanja kebutuhan sehari-hari. Kamu gak usah takut, nanti aku hubungi Aditya." Ucap Devan.


Yena yang tidak bisa berbuat apa-apa, pun mengiyakan daripada dirinya terlantar dan sulit untuk bertemu dengan Aditya, Yena memilih untuk nurut.


"Iya, gak apa-apa. Setidaknya aku bersamamu, menurutku sudah aman." Jawab Yena sambil mengikuti langkah kakinya Devan.


"Oh iya, aku sampai lupa. Untuk soal pekerja di perkebunan gimana kondisinya?" tanya Devan yang teringat jika dirinya ikut menanam saham di kampungnya Yena.


"Aman. Cuma akses jalan ditutup. Juga, kami orang yang tengah terdampak banjir bandang, dilarang untuk keluar dari area. Jadi, aku gak bisa berbuat apa-apa untuk memberi kabar kepada Aditya lewat tempat kerja." Jawab Yena sambil berjalan.


"Oh. Mungkin Aditya lagi menenangkan diri, soalnya dia juga mencintai Liyan, 'kan? bisa jadi si Adit pingin menyendiri untuk sementara waktu."


Yena langsung berhenti berjalan.


"Benar, Aditya sangat mencintai Liyan. Bahkan, Aditya sudah bersedia untuk menjadi ayahnya Savan sejak lahir. Tapi, Liyan menolaknya. "


"Terus?"


"Oh. Jadi poin utamanya yang tidak lain menunggu Vando, ayah kandungnya Savan."


"Iya, mungkin. Soalnya Liyan sangat tertutup soal kepribadiannya. Jadi, aku gak tahu pasti soal Liyan dengan detail. Kalau aku lihat sih, lebih condong ke Aditya. Eh! aku salah ucap ya. Maaf, aku gak ada niat untuk mendukung Aditya maupun siapa lah."


"Enggak apa-apa. Santai aja kalau berhadapan denganku. Wajar aja kalau Liyan condong ke Aditya, karena mereka tinggal satu rumah. Ah sudahlah, ayo naik mobil. Ngobrolnya nanti lagi didalam mobil." Kata Aditya.


Yena pun mengiyakan dan keduanya segera masuk kedalam mobil. Dengan kecepatan sedang, Devan mengendarai mobilnya.


"Maaf ya, bukannya aku mau memanasi kamu soal Aditya. Tadi aku cuma keceplosan. Oh iya, perempuan tadi itu, siapanya kamu? maaf, aku hanya tidak ingin di cap ganggu hubungan orang lain."


Devan yang mendapat pertanyaan soal kejadian di restoran, pun menurunkan kecepatannya.

__ADS_1


"Perempuan tadi itu, namanya Jenny. Dialah yang menjadikan kesalahpahaman diantara aku dengan Liyan. Saat itu kami orang kepergok karena ulah Jenny. Saat itulah, Liyan marah besar terhadap diriku. Padahal kami sudah bertunangan, dan hari pernikahan mau ditentukan. Tapi, gak tahunya si Liyan kabur dari rumah. Di situlah pertemuan antara Liyan dengan Vando, hingga mereka melakukan hubungan terlarang." Jawab Devan sambil menyetir, dan juga memberi penjelasan tanpa ada yang ditutupi.


"Maaf ya, bukan niat aku yang ingin tahu hubungan kamu dengan Liyan maupun yang lainnya. Aku hanya tidak ingin menjadi bahan keributan antara kamu dengan perempuan yang dekat dengan kamu atau menyukaimu." Ucap Yena yang tidak ingin ada kesalahpahaman antara dirinya dengan Devan.


"Aku tidak mempermasalahkannya. Justru itu, aku paling gak suka menyimpan beban pikiran. Jika ada yang bertanya, kalau aku bisa jawab, ya aku akan menjawabnya dan tidak ada yang aku lebihkan untuk dijadikan rahasia." Kata Devan.


Yena tersenyum tipis. Devan yang tengah menyetir mobilnya, pun tidak terasa sudah hampir sampai ke tempat tujuan. Benar saja, saat itu pun si Devan belok kiri.


Ketika sudah sampai di tempat tujuan, Devan segera melepaskan sabuk pengamannya.


"Ayo kita turun. Temani aku belanja dulu." Ajak Devan kepada Yena.


"Aku tunggu di mobil saja." Jawab Yena dengan malu.


"Kenapa mesti nunggu di mobil? Sudah, ayo ikut aku." Ucap Devan yang tetap mengajak Yena.


Karena tidak ingin mengecewakan ajakan dari Devan, Yena mengiyakan dan ikut menemani Devan berbelanja.


Tidak memakan waktu lama saat berbelanja kebutuhan pokok, Devan bersama Yena segera kembali ke mobil. Namun, tiba-tiba Devan teringat kalau penampilan Yena yang sudah berantakan karena insiden waktu mengejar jambret.


Merasa kasihan, Devan membawanya ke sebuah butik untuk berbelanja pakaian. Yena sendiri hanya fokus melihat jalanan yang ia lewati. Sampai-sampai dirinya tidak menyadari kalau mobil yang ia tumpangi sudah berhenti di depan butik.


"Loh, kok berhenti? memangnya ini dimana?" tanya Yena yang menyadarinya.


"Ini butik. Aku mau mengajakmu beli baju. Sekalian kamu ganti baju. Baju kamu pasti berkeringat tadi, ayo kita turun." Jawab Devan.


"Gak usah lah, lagian aku mau diantar ke rumah Aditya. Mendingan kita langsung ke rumah Aditya saja." Ucap Yena tidak ingin merepotkan.


"Hem. Jangan begitu. Setidaknya kamu ke rumah Aditya dengan penampilan yang rapi. Maaf, bukannya aku menyinggung kamu. Sudah lah, ayo ikut aku. Jangan merasa gak enakan gitu. Ayo turun." Jawab Devan yang bergegas turun.

__ADS_1


Lagi-lagi Yena sendiri merasa tidak enak hati untuk menolak ajakan dari Devan. Karena tidak ada pilihan, akhirnya Yena mengiyakan dan bergegas turun.


__ADS_2